Home » » Detective Riu Aldebaran - Cinta Terjerat Mistery ( End )

Detective Riu Aldebaran - Cinta Terjerat Mistery ( End )

Cinta Terjerat Mistery


Embun yang menetes pada daun hijau mebuka hari yang baru, Di pagi hari yang nampak cerah
terlihat seorang pemuda yang baru terbangun dari tidurnya. "Celaka, aku lupa hari ini ada acara pertemuan dengan temanku," dengan tergesa-gesa Riu merapihkan dirinya.
Tepat ketika Riu sedeng berpakaian terdengar dering handphone miliknya,
""
"iyah-iya, aku sudah siap kok, 30 menit lagi aku sampai," ujar Riu yang langsung menutup panggilan itu.
Di sisi lain seorang pemuda berpakaian rapih dengan mobilnya sedang menunggu kedatangan Riu pemuda itu bermama Alan.
"Aduh, lama banget ini anak," ujar Alan melihat jam tangannya.
Beberapa hari yang lalu Alan dan Riu mendapatkan undangan pesta ulang tahun dari seorang teman meraka di sebuah villa daerah Jawa Barat, dan meraka sepakat untuk bertemu hari ini pada jam 8 pagi, Alan yang tiba terlebih dahulu merasa jengkel mengingat tempat Alan yang lebih jauh ketimbang rumah Riu.
15 menit berlalu dan akhirnya Alan melihat Riu menghampirinya, dengan senyum bersalah. "Hadeh-hadeh, maaf ya nunggu lama, aku hampir lupa kalau ada acara hari ini,"
ujar Riu menggaruk-garuk kepala.
"Kebiasaanmu tidak belum hilang juga , dari dulu bangun siang terus, hah payah! udah cepet naik," saut Alan.
"Iya, maaf-maaf," balas Riu sambil menutup pintu mobil.
Tak ingin membuang waktu mereka bergegas menuju tempat acara, mengingat lokasinya yang lumayan jauh, di perjalanan mereka saling berbincang mengisi waktu jenuh saat di perjalanan, hingga jam 10:45 akhirnya mereka tiba di tempat acara, tepat di depan lahan parkir villa seorang Peria muda menyambut Alan dan Riu, nama pemuda itu Anton,
"Yah elah, tua di jalan kalian, acara mau di mulai, ya sudah langsung parkir di sana," cetus Antun.
"Sory, ini si Riu biangkerok kesiangan, mandinya satu tahun," balas Alan sambil mengejek.
Riu dalam hati,
"Oe-oe, sebenarnya aku lupa jika ada acara ini, karna semalaman aku membaca novel mistery hingga larut malam, hehe."
Karna sedang ada perbaikan jalan kendaraan tidak diperbolehkan melintas, meraka harus berjalan kaki hingga sampai kelokasi acara.
"Udah becek jalan kaki pula, jauh tidak villa yang kita tuju?" ujar Alan ke Anton.
"Itu villanya, gak terlalu jauh kok," saut Anton.
"Apa tidak masalah kita mengadakan acara pesta di villa ini? liat jarak villa saling berdempetan," ujar Riu.
"Tenang saja, kita sudah minta ijin kepemilik villa," saut Anton.
Setibanya di villa, mereka kembali mendapatkan sambutan dari teman-teman yang telah lebih dulu berada di lokasi acara.
"Nah, lengkap sudah semua telah datang, acara sudah bisa kita mulai, yey hu.." ujar Teman di tempat acara.
Canda gurau pecah dalam suasana bahagia, tawa dan saling beradu cakap menghiasi pertmuan mereka, hingga tak lama acarapun di mulai, semua tampak berjalan normal, namun Riu yang bersandar dekat jendala tiba-tiba menoleh seakan melihat sesuatu pada sudut lain pada sisi villa, sekilas ia melihat bayangan, "Seperti ada yang lari, tapi siapa," tak ingin memikirkannya Riu kembali hanyut dalam suasana pesta.
Tak terasa sesi tiup lilin dan makan-makan mengakhiri acara mereka, namun tak sedikit yang masih di lokasi untuk berbagi cerita dan sekedar berkumpul. Di tengah suara percakapan terdengar lirih sirine mobil Petugas mengiung, tak ada yang memperhatikannya namun tidak dengan Riu, "Nampaknya ada beberapa mobil Petugas, apa yang sedang terjadi."
Merasa ada sesuatu yang ganjil dan melihat yang lain sedang sibuk bercakap, Riu memutuskan untuk mencari tau apa yang sedang terjadi, ia berjalan menuju pintu depan villa untuk memastikannya, dan sesampainya di pintu villa ia melihat kerimbunan orang dan polisi,
"Aku tau ada yang tidak beres di sana, sebaiknya aku mencari tahu apa yang sedang terjadi," Riu beratanya-tanya dalam hati.
Sambil berjalan menghapiri kerumunan orang, Riu yang penasaran lantas bertanya kepada seorang peria paru baya,
"Maaf Pak, ini ada apa ya?"
"Ada yang gantung diri mas!" saut peria paru baya itu.
Serentak Riu terkejut mendangarnya, meliat warga saling berdiskusi di lokasi,
"ia itu orang baru nyewa villa ini"
"numpang mati di kampung kita"
"mencoreng nama villa jika seperti ini."
Keresahan warga dengan kejadian ini membuat rasa penasaran Riu semakin kuat, hingga ia memutuskan untuk melihat mayat Korban secara langsung.
"Tapi aku tidak bisa masuk begitu saja jika tanpa alasan yang jelas, karna Petugas telah berjaga di sekitar TKP, tapi tak ada salahnya aku mencoba," Riu berjalan menghampiri bibir pintu.
Hingga langkahnya terhenti ketika seorang Petugas menegurnya,
"Mas-mas, tolong menjauh dari TKP."
Bingung apa yang harus ia ucapkan Riu menjawab,
"A-aku, hanya ingin memastikan Pak, karna aku cemas jika mayat itu orang yang aku kenal (salah satu dari teman kami), aku sewa villa tidak jauh dari sini untuk merayakan hari ulang tahun temanku."
Alasa Riu di tanggapi dengan baik oleh Petugas yang berjaga, ia di perbolehkan masuk kedalam untuk melihat korban lebih dekat.
"Baiklah anak muda, jika bener seperti itu silahkan kau lihat, tapi jangan sentuh Mayat dan benda apapun di TKP, MENGERTI ? " tegas Petugas terhadap Riu.
Menanggapi dengan angguk kepala, Riu mulai memasuki pintu villa, sesampainya di TKP seketika susana berubah mencekam, Riu melihat mayat yang berselimutkan kain terbujur kaku di hadapannya, Ia lakes membuka kain pada mayat yang ternyata seorang Wanita muda, dengan mata memerah dan mulut terbuka, lidah menjulur.
Jelas pemandangan itu membuat Riu terkejut, tak ingin membuang waktu, Riu mulai mengamati TKP secara diam-diam tak ingin gerak-geriknya di sadari Petugas yang berada di TKP.
"Korban di temukan dalam kamarnya, kematian korban akibat cekikan pada leher, dan di samping mayat terdapat kurusi yang terjatuh, tali tambang yang masih tergantung namun ujung bagian bawah telah terpotong oleh Petugas, dan di ujung atas tali tambangnya, 'hah apa itu?' ada yang aneh, di ujung tambang bagian atas, terdapat besi yg menyerupai jangkar, dan ada tali lebih yang terpotong di sisi jangkar itu, di tambah tali ini tidak terikat pada kayu penopang atap, namun tersangkut pada dua paku beton, jika korban berniat menyangkutkannya mungkin akan terdapat guratan pada kayu yang di sebabkan karna mencoba menyangkutkan jangkar keatas, tapi tidak ada guratan di sana, atau mungkin korban memasukan ujung tambang satunya dan menariknya kebawah, hal itu bisa saja terjadi melihat ada kursi yang terjatuh disini, terlebih bekas lubang pintu ini telah rusak akibat dobrakan, benarkah ini murni kasus bunuh diri? tidak-tidak, aku tidak bisa menyimpulkan secepat ini sebaiknya aku menanyakan kepada Petugas siapa yang bersama Korban di tempat ini."
Riu berbalik pandangan berniat menghapiri Petugas untuk menanyakan sesuatu, namun pandangannya terhenti pada suatu ruangan,
"Tunggu dulu! siapa empat orang itu, teman korbankah?."
Riu melihat empat orang yang sedang duduk di ruang tamu, tanpa fikir panjang ia menghapiri empat orang itu.
"Terlihat dari raut wajah yang sedih, tampaknya mereka mengenali korban dengan baik, terlebih Petugas yang memberiku ijin masuk selalu memperhatikanku, akan sisa-sia jika aku di keluarkan dari TKP, sebaiknya aku bertanya langsung kepada empat orang ini."
Riu berjalan menghapiri empat orang tersebut dan bertanya,
"Maaf mengganggu, aku Riu anak dari pemilik villa ini, aku hanya ingin tau apa wanita yang tewas gantung diri ini teman kalian? boleh kita berkenalan?"
Mendengar Ucapan Riu keempat orang itu memandang kearahnya, dan mulai berkenalan.
"Andini, wanita ini teman korban sejak duduk di bangku SMA,"
"Agung, teman 1 kuliah korban,"
"Ayu, teman rumah korban," dan
"Andi, teman kuliah korban."
Keempat orang ini yang terakhir bersama korban, meraka semua tampak sedih terutama Ayu, bukan hanya sedih namun raut wajahnya menggambarkan rasa kegelisahan.
Riu yang penasaran terhadap keempat orang ini mulai bertanya kepada,
"Apa kegiatan korban di rumah, dan siapa namanya?"
Dengan nada sedih Ayu menanggapinya,
"Namanya Intan, ia anak yang baik dan cerdas, semangatnya untuk menggapai impian begituh besar, namun aku tidak menyangka ia sampai sebodoh ini mengakhiri hidupnya, harus berkata apa terhadap keluarganya karna aku yang meminta ijin mengajak Intan berliburan kevilla ini."
Kembali air mata terlihat mengalir di kedua pipi Ayu, mendangar ucapan Ayu rasa ganjil dalam kasus ini semakin mencuat, membakar rasa penasaran Riu, ia kembali menyakan hal lain,
"Apa tujuan kalian menyewa villa ini? ada recana menginap?"
Kali ini agung yang menjawab pertanyaannya,
"Kami tidak ada rencana menginap karna esok kami sudah beraktifitas, tempat kami yang berbeda jarak maka Andi memutuskan menyewa villa untuk tempat pertemuan dan beristirahat."
"Jika tempat kalian berbeda siapa yang lebih dulu sampai di villa ini?" tanya Riu.
"Aku, Andini dan Intan sampai lebih dulu kevilla ini, karna kami menggunakan angkutan umum menghindari jalur padat jadi kami berangkat lebih pagi," ujar Ayu.
"Seperti yang Ayu katakan, aku yang kedua sampai di tempat ini, karna sesampainya disini aku hanya bertmu Ayu dan Andini, aku fikir Intan tak jadi datang tapi ternyata ia sedang istirahat dikamar," ujar Agung.
"Berarti Andi yang terakhir sampai di tempat ini,"
dalam fikiran Riu masih bertanya-tanya,
"Pada pukul 11:00 apa yang kalian lakukan, apa kalian melihat Intan keluar kamar, atau seseorang masuk pada kamarnya?" tanya Riu kepada empat orang itu.
"Sesampainya aku di tempat ini, aku dan Andini beristirhat sejenak, sampai Intan berpamitan hendak tidur di kamar itu, karna mengeluh kepalanya terasa pusing, setelah itu aku dan Andini menunggu yang lain di sini, hingga Agung tiba, maka kami bertiga bercakap tentang rancana liburan ini, aku tidak melihat Intan keluar kamar, dan tidak ada orang selain kami bertiga" ujar Ayu.
"Aku sampai di tempat ini pada pukul 10:12, setelah itu aku memutuskan untuk pergi membeli rokok, sekitar jam 10:20 aku sampai kevilla dan bertemu mereka berdua," ujar Agus.
"Tidak usah bertanya!! ceritaku sama seperti Ayu," ujar Andini Nampak geram akan kehadiran Riu yang terlalu banyak bicara.
"Jam 10:45 aku sampai di lahan parkir villa ini, karna aku terjebak macat, di tambah lahan parkir villa yang penuh menyulitkanku untuk memarkirkan mobil," ujar Andi.
Riu tak henti berfikir mencari fakta akan kebenaran di balik perkataan meraka.
"Tentang pusing yang di alami Intan apa kondisinya memang sedang tidak baik?" Tanya Riu.
"Intan tidak sakit, memang setiap kali ia naik kendaraan beroda empat pusing dan mual selalu ia rasakan, di tambah jalan yang kami lalui tadi begitu banyak kelokan tajam dan menanjak untuk Intan jalan seperti ini dapat membuatnya mual," jawab Andini.
"Siapa saja yang tau jika Intan seperti itu?" tanya Riu.
"Semua teman mungkin mengetahuinya, karna kita pernah berlibur menggunakan bus, saat itu Intan muntah-muntah," jawab Andini.
Mendengar itu Riu terasa masuk semakin dalam pada mestery kematian Intan, ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kematian Intan.
"Mungkinkah ini murni bunuh diri? namun bukti yang ada menunjukan sesuatu yang ganjil, tali tambang yang berujung jangkar dengan sisi tali yang terpotong rapih di bagiaan lain, bagaikan tersambung tambang lain, dan pintu yang rusak karna di buka secara paksa dengan kata lain pintu dalam keadaan terkunci, di tambah alibi yang mereka punya tidak ada yang kuat, karna tidak adanya saksi keberadaan mereka, empat orang ini bisa saja merencanakan sesuatu, terutama orang itu, sial posisiku saat ini tidak memungkinkan untuk menyelidiki dengan detail, terlebih Petugas masih berada di TKP. jika seperti ini aku hanya bisa mengamati dari kejauhan. meski Petugas yang memperhatikanku sejak tadi sudah tidak memperdulikan keberadaanku, mungkin ia hanya mengira aku kerabat dari 4 orang ini, meski letak kamar korban terlihat dari sini namun pintu kamar yang mengarah kedepan membuat aku tidak bisa melihat seisi ruangan pada kamar itu, jika tidak salah terdapat jendela di dalam kamar yang mengarah kebelakang, jangan-jangan, jendela itu!"
Riu menyadari sesuatu yang luput dari analisanya, ia bergegas untuk memastikannya kembali, dan mendekati pintu kamar di mana mayat Intan di temukan, Riu melihat kedalam untuk yang kedua kalinya, dengan tatapan tajam, perlahan ia memperhatikan tiap sudut pada ruangan itu, hingga pandangannya terhenti pada jendela.
"Jendela itu cukup besar, dan dapat di lalui olah satu orang dewasa."
Kembali ia mencari bukti lainnya.
"Ada apa dengan tempat tidur ini! seprainya terlihat kusut, kenapa bantal berada di lantai."
Sejenak ia berfikir dan terperangah ketika, ia mendapatkan satu gambaran ilustrasi akan trik yang di gunakan pelaku untuk menghabisi nyawa Intan.
"Jika cara itu yang di lakukan pelaku, maka akan ada bukti pada celah jendela itu, tapi aku tidak bisa melwatin Police Line lni, hanya ada satu cara yaitu meminta petugas yang sedang melakukan olah TKP untuk memeriksa sudut atas pada celah jendela itu,"
"Permisi Pak, aku Riu, kerabat korban, apakah ada yang aneh di sudut jendela itu?"
Petugas yang sibuk menghiraukan perkataannya.
"Akan sulit membuat dugaanku menjadi benar jika seperti ini, aku tidak bisa berdiam diri, mau tak mau aku harus mengungkapkannya dengan caraku."
Dengan keyakinan penuh Riu menarik nafas dan berkata,
"Mungkinkah jika ini bukan kasus bunuh diri? tapi ini kasus pembunuhan berencana,"
Mendengar cetusan Riu, seluruh Petugas yang sedang di tkp memandang tajam kearahnya.
Merasa yakin Riu melanjut analisanya,
"Jika benar dugaanku, maka si pelaku menggunakan trik untuk melancarkan aksinya, untuk memastikan trik itu, jika benar maka ada salah satu bukti pada celah jendelanya."
Tak sia-sia perkataannya mendapatkan tanggapan dar salah satu Petugas dan menjawab ucapan Riu dengan nada tegas,
"Baiklah, aku akan memeriksanya untukmu, namun jika dugaan kau salah maka kau kembali duduk bersama temanmu, kau mengerti!!"
Merasa tidak cukup akhirnya Riu mengungkapkan semua analisanya,
"Tidakkah tempat tidur ini terlihat aneh," ujar Riu di iringi pandangan
Petugas yang berpaling kearah tempat tidur yang di tunjuk Riu.
"Terlihat dari seprai yang seprti tertarik pada sudut lain, bantal yang terjatuh di lantai, cukup tidak masuk akal untuk orang yang ingin mengakhiri hidup tentu hal seprti itu tidak perlu ia lakukan, terlebih ini di villa yang ia sewa, mustahil jika ia mencari sesuatu di kamar ini."
Lagi-lagi ucapan Riu membuat Petugas berhenti seketika,
"iya, jika melihat dari sisi seprti itu memang terlihat aneh, tapi tadi kita sempat menanyakan kepada rekanmu yang lain, jika korban langsung meminta kamar ini untuk beristirahat, mungkin itu hanya alasan korban agar tidak ada temannya yang tau jika ia akan mengakhiri hidupnya." balas Petugas.
Di saat Petugas berkata seorang Petugas lainnya menemukan bukti yang di maksut oleh Riu, dengan tegas Putugas itu berkata,
"Memang benar perkataan anak itu Pak, saya menemukan bekas guratan di sisi jendela, terlihat gesekan benda tumpul, dan itu tampak masih baru karna di temukan juga bubuk kayu disisi guratannya."
Mendengar perkataan itu Petugas yang berada di TKP terkejut dan kembali memeriksanya.
Di sisi lain Riu menemukan sesuatu yang menguatkan dugaannya,
"Jadi dugaanku benar, ini bukanlah bunuh diri, ini kasus pembunuhan berencana, walau trik pelaku sudah dapat aku simpulkan namun masih belum cukup sempurna untuk membawa trik itu menjadi nyata."
Tanpa Riu sadari ia telah membuat Petugas memperhatikan gerak-geriknya.
"Hey kau, sebenarnya apa yang membuatmu berfikir ini kasus pembunuhan?" tegarg Petugas terhadap Riu.
"Ini sudah jelas kasus pembunuhan, ada beberapa bukti janggal yang dapat menyimpulkan hal itu, kejanggalan pertama ada pada mayat korban, saat aku melihatnya, terdapat luka gores pada jari-jari Korban, itu cukup aneh jika seorang yang ingin mengakhiri hidup tapi malah menahan tali yang menjerat lehernya, dan keadaan bangku kecil itu yang membuatku sangat tidak masuk akal," ujar Riu.
dengan tatapan mata yang jajam melihat kearah kayu penyangga atap, ia sangat menggunakan kesmpatan ini untuk mencari bukti yang bisa memperkuat analisanya.
"Memang terdapat luka pada jari mayat, kalau bangku ini, di duga untuk merahi tali yang hendak di kalungkan oleh korban, melihat tinggi badan korban tidak mungkin meraihnya tanpa pijakan kursi itu," balas Petugas.
"Jika hanya untuk meraih tali tak perlu menggeser kursi itu, bukankah tempat tidur ini sudah sama tingginya dengan kursi?" balas Riu.
mendengar semua perkataan Riu Petugas akhirnyatmerasakan keganjilan yang sama, dugaan yang semakin kuat membuat Riu kembali melakukan pencarian di sekitar TKP, hingga ia teringat oleh sesosok bayangan yang ia lihat saat acara pesta berlangsung membawa Riu tepat berada di belakang villa, dengan pandangan tajam menyisir tiap sudut perkarang, selang beberapa saat kembali Riu terperangah mendapati pada sisi luar jendela kamar korban terdapat jalan kecil yang menembus kelahan parkir.
Tak mau membuang waktu, ia bergegas melakukan pencarian bukti lainnya dikitaran jendela.
Selang berapa saat pencariaan berakhir dengan di temukannya bukti lain yang cukup membuatnya yakin dengan trik yang di gunakan sang pembunuh,
"Semakin jelas jika pelaku menggunakan jendela ini, untuk melancarkan aksinya."
Rasa belum puas ia bergegas mencari bukti yang dapat membokar identitas dan menjerat si pelaku.
"Ternyata benar, trik sederhana, namun jika memanfaatkan kondisi korban maka trik ini menjadi sempurna, masih ada 1 langkah lagi agar memperkuat dugaanku, dan membuat skakmat si pelaku," ujar Riu dengan senyum khasnya.
Setelah memastikan semuanya Riu kembali ke TKP, terlihat Petugas yang hendak pergi dengan barang bukti yang di kumpulkannya.
"Sebaiknya jangan meninggalkan TKP mohon tunggu sebentar untuk mendengar pengukapan dari kasus pembunuhan berencana ini," lantang Riu berkata, dengan tubuh bersandar pada pintu depan villa.
Pengakuan Riu membuat Petugas dan seisi TKP terdiam sesaat, seluruh pandangan tertuju padanya.
"Jangan main-main, ini masalah serius," tegas Petugas mengarah ke Riu.
"He, ANAK TUKANG VILLA, apa maksut dari perkataanmu?" ujar Andini dengan keras.
Petugas yang mendengar perkataan Andini lantas terheran-heran.
"Anak tukang villa! tadi kau bilang mereka temanmu?"
"Jangan mencoba mengelabui kami dengan perkataanmu," tegas Petugas mengarah pada Riu.
"Tidak Pak, kami baru bertemu dengannya di sini," saut Ayu membalas ucapan Petugas.
Dengan tatapan dan senyum yang tajam Riu menjawab,
"Hm, kalau sudah seperti ini ijinkan saya memperkenalkan diri, Namaku, Riu Aldebaran, Detective, tak perlu membuang waktu, sebaiknya kita mulai sesi ini."
"Apa, Detective, lantas apa yang hendak kau lakukan? cepat katakan!," ujar Petugas terhadap Riu.
"Baiklah, mungkin pelaku berhasil membuat semua menyangka jika Intan tewas akibat gantung diri, hm, trik sederhana tidak akan membuatku buta, kita mulai dari pengakuan yang di berikan Ayu, aneh rasanya jika seorang yang begituh gigih untuk mencapai impiannya namun malah mengakhiri hidup dengan cara yang terbilang bodoh, 'Bukan begitu Ayu?' terlebih benda yang ada di dalam kamar korban menunjukan kejanggalan yang berkaitan satu dengan lainnya, pertama tali yang berujung jangkar, jika korban menggunakan jangkar it untuk mengkail tali pada sisi lainnya, sehingga tidak perlu lagi mengikat tali pada kayu penopang, mungkin cara itu bisa memudahkannya, namun dugaan itu tidak benar,"
Riu membuat semua yang berada di TKP bertanya-tanya.
Dengan lantang ia melanjutkan ucapannya,
"Jika korban benar-benar menggunakan jangkar itu untuk mengkail tali dari sisi lain maka korban harus memasukan kail itu terlebih dahulu ke sisi atas kayu penopang, jika seperti itu pasti akan terdapat guratan pada kayu penopang yang di akibatkan gesekan dari jangkar tersebut, karna jarak kayu penopang dengan lantai tidaklah dekat meski ia gunakan kursi sekalipun, terlbih tidak ada benda yang memiliki tinggi yang melebihi kursi dan tempat tidur di dalam kamar korban, dengan kata lain korban harus melempar cukup kuat dan akurat untuk dapat memasukan jangkar itu pada sisi atas kayu penopang, yups, seperti yang kita lihat tidak di temukan tanda ada gesekan seperti itu pada kayu penopang atap, yang berarti korban tidak menggunakan cara itu, namun gesekan benda tumpul justru terdapat pada celah atas jendela tepat sejajar dengan jangkar itu tersangkut,"
"Tapi bisa saja yang di masukan terlebih dahulu ujung tali yang tak berjangkar lalu korban menariknya melewati kayu penopang agar dapat di hubungkan pada jangkar," ujar Petugas memotong perkataan Riu.
"Tidak, cara itu mustahil di lakukan oleh korban, karna tinggi badan korban tidak akan bisa merahi dan memasukan tali pada kayu penopang meski dengan bantuan kursi sekalipun," ujar mantap Riu dengan tangan yang menujuk kearah kayu.
"Kau benar, tubuh korban takan bisa meraihnya meski menggunakan kursi sekalipun, oh, tadi sempat kau bilang tentang celah jendela dan tempat tidur ini , bukti apa di balik itu semua? Dan siapa pelakunya?" ucup seorang Petugas.
Dengan senyum penuh keyakinan Riu kembali ia bercakap,
"Binggo, memang itu yang aku nantikan, tapi sebelum itu tolong perhatikan gerak-gerik keempat orang itu."
Sekejap perkataan Riu membuat semua pandangan tertuju kepada empat orang tersebut.
"Ada apa, mengapa dengan mereka?" balas Petugas.
"Iya, ada apa dengan kami?" ujar Agung.
"karna pelakunya, ada di antara KALIAN!!" tegas Riu yang menujuk kearah mereka.
"A-apaaa, apa yang kau maksutkan, jangan asal bicara, Intan teman baik kami tidak mungkin kami sampai tega membunuhnya," saut Ayu.
"He, maksutmu pembunuhnya kami? aku malah gak paham dengan apa yang kau bicarakan sejak tadi, kamu tahu Intan itu temenku mana bias aku membunuhnya" cetus Andini yang ikut emosi.
"Tolong kalian tenang, dengarkan baik-baik, 'analisanya anak ini begitu tajam, seperti inikah Detective,' baiklah kami akan mengawasinya silahkan lanjutkan Tuan Detective," jawab Petugas. 
Petugas memutuskan mendekat kepada empat orang tersebut,
"Yosh, untuk mengungkap trik pelaku, aku telah siapkan tali dan jangkar yang aku dapat dari penjual perlengkap panjat tebing di ujung jalan sana, tidak sulit mendapatkan barang ini, mengingat di daerah ini banyak tebing dan bukit berbatu yang sering menjadi arena berlatih pemanjat tebing,"
tatapan tajam Riu melesat mengarah pada salah satu dari keempat orang itu.
Persiapan Riu sudah matang dan ia melanjutkan misinya,
"Pertama aku akan memasukan ujung tali ini kesisi atas kayu, aishh, lihat, bahkan aku tidak cukup tinggi untuk meraihnya, namun bukan hanya aku, bahkan si pelakupun tidak dapat merahinya, karna memang jarak yang terlalu tinggi mustahil jika hanya dengan bantuan bangku ini, tapi jika dengan bantuan banda luar hal itu tidaklah mustahil, aku akan gunakan tangga yang ada di belakang villa ini, karna cara ini lah yang di lakukan pelaku, bukti si pelaku menggunakannya terlihat dari lubang yang membekas di tanah yang di hasilkan oleh kaki tangga ini, dengan kata lain tangga ini telah berpindah tempat, atau tepatnya telah di gunkan oleh pelaku untuk menyusun triknya."
Gaduh terasa mengiringi perkataan Riu dalam membokar trik yang di gunakan si pelaku.
"siapa sebenernya anak ini, pandangan dan analisanya sungguh tajam, semua ia perhatikan tanpa ada yang terlewat sedikitpun," dalam hati Petugas.
Di sisi lain Riu sudah siap untuk melanjutkan misinya, ia nampak percaya diri, yang ada dalam fikiriannya hanya satu, kebenaran yang akan terkuak, perlahan Riu menaiki anak tangga yang ia telah siapkan, pandangan seisi villa itu semua hanya tertuju kepadanya,
"Oke, sekarang tinggal memasukan ujung tali tak berjangkar melewati kayu penopang, namun aku tidak akan menurunkan tali ini, yang aku lakukan membiarkannya bergantung di sisi kayu ini, dan tak lupa menggunakan pemberat di ujung tali ini, lalu mengeluarkan jangkar melakui celah jendela, setalah tali tersusun, lalu si pelaku memasang kertas pada lubang kunci jendela, yang bertujuan agar jendela tidak terkunci dari dalam, setelah itu ia mengembalikan tangga pada tempatnya, di saat itulah kaki tangga menciptakan lubang baru pada tanah, setelah itu pelaku meninggalkan villa dan menunggu keesok hari hingga korban sampai di tempat ini."
"Ta-tapi bagai mana si pelaku tahu jika Intan akan menggunakan kamar itu?" saut Agus memotong perkataan Riu.
"Itu sangatlah mudah di lakukan, si pelaku dengan sengaja mengunci kamar lain, yang tidak terkunci hanya kamar ini, dengan kondisi Intan yang lelah dan pusing tentu ia akan mencari kamar untuk memulihkan kondisinya, ah, mungkin kalian akan berfikir, mengapa tidak beristirahat di ruang tamu bersama Ayu dan Andini, jelas itu tidak akan ia lakukan, karna kondisinya ia tidak mungkin beristirahat di ruang tamu yang saat itu terlalu bising untuknya, di karnakan sedang ada perbaikan jalan dan acara pesta perayaan ulang tahun temanku,
Intah yang sudah teramat mual dan pusing tentu ia akan memilih ruangan yang lebih tertutup dan nyaman, hanya ada satu, ya itu kamar agar dapat berbaring sejenak, mungkin Intan telah mencoba kamar yang terkunci, tak ingin berfikir panjang ia lantas mencoba kamar lainya, saat itulah ia berpamitan kepada Ayu dan Andini, karna ia tahu kamar satunya tak bisa di buka, ia bermaksut menandakan jika ia menggunkan kamar itu," jawab Riu dengan penuh wibawa.
TKP berubah menjadi semakin mencekam, kerumunan warga yang ingin menyaksikan kebenaran semakin ramai terasa, bisikan dan pendapat bergelotoran mewarnai perkataan yang di lontarkan oleh Riu.
"Anak sial , mungkinkah ini akan.. mengapa di saat ini.. arrrgghh"
"Ok, sekarang aku akan perlihatkan simulasi trik yang di gaunakan pelaku untuk menghilangkan nyawa Intan dan membuat ini seolah kasus bunuh diri, aku akan menggunakan bantal ini untk menggantikan korban anggap saja korban telah masuk kedalam kamar ini, pelaku menunggu waktu yang tepat di saat korban telah terlelap tidur, setelah memastikan Intan tertidur kemudian si pelaku menyusup dari arah belakang menuju jendela kamar Intan, di saat yang bersamaan pada sudut jendela villa sebelah, aku melihat bayangan seorang yang tidak lain itu si pelaku yang sedang melancarkan aksinya, setelah memastikan korban tertidur pulas, pelaku bergegas masuk melalui jendela kamar, lalu mengulur tali yang telah ia siapakan sebelumnya,
setelah tali menjunai sampai lantai, pelaku membuka jendela dan mulai memasuki kamar, ia mengambil ujung tali yang telah berada di lantai dan membuang pemberatnya. setalah itu pelaku menarik dan mengalungkannya pada leher korban yang sedang tertidur,"
"Jika seperti itu korban pasti akan terbangun dan berteriak," saut Petugas mematahkan perkataan Riu.
Dengan lantang Riu memjawabnya,
"Tidak, jika suara teriakan korban tersamar oleh kegaduhan acara yang telah kami mulai, mengingat Ayu dan yang lain tengah berada di ruang tamu tepat bersebelahan dengan villa yang di sewa kawanku untuk acara ulang tahunnya, atau mungkin di antara kalian ada yang mendengarnya, namnun tidak kalian sadari, itu karna teriakan korban tidak berlangsung lama, korban yang yang terjerat kuat pada leher, sudah tidak sanggup lagi berteriak karna si pelaku menarik sisi talinya, disaat itu korban hanya bisa menahan tali dengan menggenggamnya, namun usaha itu sia-sia, pelaku menarik kuat tali hingga semakin mencekik lehernya, hingga Intan tewas," jawab Riu dengan tenang.
Seluruh Petugas dan yang lain terkejut dengan uangkapan yang di lontar kan Riu.
"Jadi karna itu luka yang terdapat pada jari korban, dan tempat tidur yang berantakan," ucap seorang Petugas.
"Ia benar, saat itu memang tarasa bising sekali, suara Wanita dan Pria tertawa, di tambah alat perata tanah(Stamper)" saut Agung.
Riu semakin bersemangat ketika ia melihat perubahan sikap pada orang yang ia curigai,
"Setelah korban tewas si pelaku menarik tali dengan kuat, dan memotog sambungan tali yang terhubung dengan jangkar, dengan berat tubuh korban maka jangkar akan tertarik seketika dan tersangkut pada paku yang telah ia siapkan di kayu penopang itu, dengan semua ini, yang hanya bisa melakukan triknya, tentu orang yang membeli tali dan jangkar, menyewa villa ini sebagai tempat pertemuan strategis untuk melancarkan rencananya, dengan memanfaatkan kelemahan korban yang sangaja memberikan jalan yang berliku dan menanjak, orang itu dalam kata lain, pelakunya!!! adalah, Andaaaa andiii,"
tatapan tajam dan tangan menunjuk kearah Andi, membuat semua terperangah sesaat.
Semua terdiam , sudut pandang berubah seketika tertuju kepada Andi,
Andini, Agung, Ayu masih tak percaya dengan kenyataan pahit yang di rasakan, mereka hanya terdiam dan terpaku.
Andi yang merasa terheran-heran membela dirinya,
"Haha.. j-jika aku pelakunya tentu kau harus memiliki bukti yang kuat? Dan ingat, a-aku dapat menuntut balik jika kau menuduh tanpa bukti," keringat den senyum palsu Andi terlihat mengiringi pembelaan dirinya.
Dengan senyum khasnya Riu memjawab tantangan Andi,
"Bukti itu jelas tak dapat kau musnahkan, karna ada pada pinggangmu, lukaluka itu kau dapatkan ketika menarik tali yang telah menjerat leher korban, dengan tangan tentu itu mustahil karna tubuh korban yang tak seringan kapas, karna itu kau melilitkan tali pada pinggangmu, dan menggulung tali itu dengan tubuhmu, kau telah menyewa villa ini sejak kemarin pagi, namun pada jam 21:15 kau kembali kevilla ini untuk menyusun semua rancana busukmu, aku yang menyadari hal itu lantas memastikannya dengan menanyakan kepada pemilik villa, ia berkata 'Oh-iya betul, tadi malam saat aku ingin berkeliling pada jam 21:15, aku melihat Mobil Nak Andi berada di lahan parkir, dan lampu dalam villa sebagian menyala.' Itu yang di katakan pemilik villa padaku, karna terburu-buru tak ingin kedatanganmu di ketahui kau lupa tidak menggunakan sarung tangan yang berarti sidik jarimu tertinggal pada paku dan tangga itu, aku menyadarinya sesaat aku menggunakan tangga, seketika expresi wajahmu berubah, benar begitu Andi.?"
Mendengar perkataan Riu membuat Andi berlutut lemas, ia tidak bisa menyangkal lagi jika ada luka di pinggangnya, ia sadar jika sidik jari pada tangga dan paku miliknya.
"Tidak semua analisamu itu benar Tuan Detective, ada satu kesalahan, aku bukanlah lupa untuk menggunakan sarung tangan, aku yang terlalu yakin dengan trik itu berfikir tidak akan ada yang menyadari sejauh itu, hingga kau datang dan membongkar semuanya!! expresi wajahkah?? hah,. hahaha" cetus Andi dengan tatapan kosong melihat kedua telapak tangannya.
Andini,Ayu dan Agung bertanya-tanya, mereka sangat geram terhadap kelakuan Andi.
"Mengapa kau setega itu Andi, apa salah Intan kepadamu" ujar Ayu.
"Ka-kamu, iblis Andi!!, bajingan kau Andi, aarrghh!!" ujar Andini dengan tamparan melayang kebelah pipi Andi.
Dengan raut wajah menyesal Andi mengungkapkan sesuatu,
"Berkali-kali aku menyatakan cinta padanya namun selalu ia tolak, dengan alasan Kuliah dan impian BODONYA!!, emosiku tak terbendungkan saat aku tau ia menerima cinta dari Peria lain, bukan cinta dariku yang ia terima!!, mengapa peria keparat itu yang Intan cintai, aku takan bisa melupakan luka yang memalukan ini, lebih baik tidak ada yang bisa memilikinya, karna itu aku merencanakan ini, jika bukan karna KAUUU!!! rencanaku ini akan berjalan sempurna. Aaaaahhh"
Tak terduga, Andini melempar handphone miliknya kepada Andi,
"Bacaaa..!! pesan itu dari Intan, tadi malam Intan membahas semua tentang kau," dengan nada kepedihan Andini yang emosi.
Tangan yang bergetar meraih Handphone yang ada di hadapannya, Andi membaca isi pesan itu, tatapan kosong, air mata mulai mengalir pada pipinya,
"Pasti ikut dong, selama ada Andi aku merasa terlindungi, eh, Din, kayanya aku mulai suka sama dia deh, tapi kamu jangan bilang-bilang ke dia yah tentang hal ini, sebanarnya aku menerima Rangga hanya untuk menguji ketulusan dan kestiaan Andi, andai ia menyatakan perasaannya lagi, dengan senang hati aku akan menerimanya"
Andi yang membaca isi pesan itu hanya bisa terdiam tak bersuara.
"Alasan Intan berlibur jauh kesini, tak perduli jika ia harus menempuh jalan yang sangat di hindarinya, semua itu ia lakukan karna Intan ingin bertemu denganmu, menurutnya ia merasa bahagia saat berada di dekatmu,"
Tangisan Andi tak dapat di bendung lagi, dengan borgol yang melinkar di kedua lengannya, ia terus memandangi kearah kamar Intan, 'Intannn... Intaaannn!!!!' ia pun digiring untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Disisi lain Riu sibuk menerima ucapan terimakasi yang datang bertubi-tubi dari teman dan Petugas untuknya, hingga ia lupa akan teman-teman yang telah meninggalkan lokasi acara.
"Lalala, seru banget acaranya.. nyahahaha.. kapan-kapan jika kita ada waktu buat acara pertemuan lagi yah," ujar Alan berbicara dengan teman yang berada satu mobil dengannya.
"wah, ide bagus, berikan info yang lain juga dong, oh ia, tadi saat keacara bukannya kau bersama Riu?" balas teman Alan.
"Ah, biarkan saja anak itu, entahlah ia menghilang, aku sudah coba menghubungi kenomer Handphonenya namun tidak aktif, semoga yang tewas di villa sebelah buka dia, nyahahaha" ujar Alan yang memacu mobilnya.
"Mau tak mau pulang dengan taxi, huh.." ujar Riu dalam perjalanan pulangnya.
"Tali cinta yang menghitam telah menjerat sesorang dalam kegelapan"
(Kasus Di Tutup)
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.
Daftar Isi:


Popular Posts

 
Copyright ©
Created By Sora Templates | Distributed By Gooyaabi Templates