Hari ini cuaca di Kota Jakarta begitu panas, bahkan angin yang berhembus terasa hangat menerpa kulitku, aku bersandar duduk di depan meja komputerku, dengan segelas cola dingin, dan cemilan kecil menemaniku membaca novel, enggan rasanya untuk berpergian ke luar rumah saat cuaca seperti ini.
"kring.. kring.."
Handphoneku berdering, aku mengambilnya dan terlihat nomer Telp yang tidak aku ketahui, aku pun menerima panggilan itu, "Hollo, dengan siapa?"
"Hayo, coba tebak siapa?"
sekilas aku terkejut, suara wanita ini, terdengar tidak asing bagiku, dan aku teringat pada seseorang, aku yakin suara ini miliknya,
"Oh, Tamara, kau sudah pulang?"
jawabku, terdengar ia tertawa pelan,
"Ada yang lucukah?"
tanyaku dengan mengkerutkan halis,
"Oh, tidak-tidak, kukira kau sudah lupa terhadapku, coba tebak aku berada di mana sekarang?"
Tamara teman semasa kecilku, aku mengenalnya sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar, yah, memang terkadang wanita lebih mudah memahami pelajaran ketibang pria, tak heran ia cerdas dan mendapatkan Biasiswa yang membawanya untuk melanjutkan Kuliah di luar Negri.
Dengan menghelaikan nafas dan kelopak mata menurun aku menjawab pertanyaannya,
"Sudah jelas di bandara," ucapku dengan santai,
"Wah, ternyata kamu mesih cerdas seperti dulu ya, jika sudah tahu mengapa tidak menjemputku kebandara" jawabnya seakan berbicara dengan tersenyum.
Oe-oe, apanya yang cerdas, tempat dimana infomarsi menggunakan dua bahasa, inggris dan lokal, suara yang menggema menandakan ruang yang luas, dan lagi ia sendiri yang berkata telah pulang, sudah jelas ia berada di bandara, aku menghelaikan nafas mengingat perkataannya.
"Bilang saja sejak awal agar aku menjemputmu, baiklah aku segera kesana," Tamara kembali tertawa kecil mendengar perkataanku, mungkin ia senang, aku mengakhiri panggilannya lalu segera berganti pakaian untuk menjemputnya.
Selang berbrapa menit aku memacu kendaraan, akhirnya aku tiba di bandara, tak ingin berlama-lama aku mengamabil Handphone dari sakuku dan menghubungi Tamara, hingga kami menentukan tempat pertemuan, tak lama aku mencari, dari kejauhan aku melihat seorang wanita menghapiriku, dengan kulit putih, rambutnya terurai hingga pinggang, aku terkejut ketika memperhatikannya, dengan handphone di lengannya, senyuman mengarah kepadaku, tak di ragukan lagi wanita itu pasti Tamara, lama tidak berjumpa terlihat perbedaan yang begitu membuatku terpesona.
"Hey Riu, " sapanya dengan melambaikan tangan kanannya, aku membalas dengan senyum dan menghampirinya, kami memutuskan bergegas meninggalkan bandara.
"Maaf Riu, baru beberapa jam aku kembali, namun telah merepotkanmu," mendengar perkataannya itu terasa melegakan perasaanku, dengan tersenyum aku membalas perkataannya, "Tidak usah di fikirkan, lagi pula aku sedang tidak ada kegiatan, oh ya, apa kau lelah?"
"aku tidak lelah, jika Riu ada waktu, banyak hal yang ingin aku ceritakan." balas Tamara, melihat senyumnya nampak ada makna yang berbeda, mungkin ia ingin aku mengajaknya berkeliling sebelum ia sampai di rumah, hingga aku teringat pada kafe yang terakhir kali kita jumpai sesaat sebelum Tamara pergi, tanpa fikir panjang aku merubah arah kendaraan menuju kafe itu yang tidak begitu jauh dari posisi kami.
Berapa saat kemudian kami tiba di kafe yang aku maksudkan, Tamara seakan flashback pada saat pertemuan terakhirnya denganku, ia memperhatikan sekitar dengan sesama,
"Wah Riu, kafe ini.. kafe yang terakhir kita datangikan, tidak banyak perubahan hampir sama seperti dulu," raut wajah gembira nampak jelas terlihat pada Tamara, aku menepi dan memarkirkan kendaraanku,
"Yu, kita segera kesana, tempat ini cocok untuk bersantai,"
Tamara hanya mengangguk, dan kami keluar dari kendaraan berjalan masuk kedalam kafe, beruntung saat ini tidak begitu ramai pengunjung, hanya ada tiga orang wanita, dan satu pasangan remaja, kami memilih meja dan kulihat seorang pelayan kafe berjalan menghampiriku, dengan sopan ia berkata dan memberikan daftar menu yang ia pegang kepadaku,
"Maaf, ini daftar menunya, silahkan di pesan"
sejenak aku berusaha mengingat pesanan yang Tamara sukai..
"Aku pesan, Swiss mocha Ltte dan Vanilla Latte," aku terperangah mendengar ucapan Tamara, ia masih mengingat baik pesanan terakhir yang kami pesan,
"Ah-haha. Itu yang aku ingin pesan, ternyata kau masih mengingatnya," kataku dengan tersenyum,
"Jelas aku ingat, karna terakhir kita di sini aku yang memesan minuman untukmu," ternyata karna itu aku tidak dapat mengingatnya.
Tak lama pesanan kami sampai di meja,
"Ini pesannya, jika perlu bantuan, jangan sungkan panggil saya," ujar Pelayan.
"Oke, terimakasih" jawab Tamara dengan senyum.
"Oh, hal apa yang ingin kamu ceritakan?" tanyaku pada Tamara, terlihat ia sedang menambahkan sedikit gula pada minumannya,
"Hem.. mulai dari mana yha, oh iya, ketika aku disana aku begitu ingin makan masakan Indonesia, disana ada lestoran khas Indonesia tapi semua makannya mahal sekali,"
Oe-oe, jelas mahal, karna bahannya harus Export langsung.
Fokusku teralih pada aroma Parfum yang begitu kental terasa di hidungku, aku menoleh kearah sumber wangi itu, dan terlihat tiga wanita yang sedang membicarakan perlengkapan makeupnya, tak ingin memperdulikan itu aku lantas berbincang-bincang dengan Tamara.Namun Selang beberapa saat aku mendengar suara seorang yang sedang tersedak.
"Aaaa..aaaa..aaah "
"Prang!!!"
"Rosita!!! Rosita!! hey, Rositaa!! bangun, ini tidak lucu, bangun!!"
Serentak seisi kafe terkejut mendengar gelas yang terjatuh di iringi suara gaduh dari kedua temannya.
Ini tidak benar, ia tersedak sesuatu!!, wanita itu tidak sedang berpura-pura.
Aku segera berlari menghapiri mejanya dan berteriak pada pelayan kafe,
"Tolong Cepat hubungi, Ambulance."
aku terpaku melihatnya.. perlahan aku mendekati tubuh wanita yang telah sebagian badan terbaring pada sofa berbentuk 'U', dengan wajah tertutup rambut menghadap pada meja, aku memegang pergelangan tangannya, masih terasa hangat, namun sudah tak ada tanda denyut nadi, untuk meyakinkan nadi, aku hendak memegang lehernya, namun ketika aku menyapu rambut wanita ini, aku terkejut melihat mata korban terbelalak dengan pandangan kosong, cairan yang keluar dari mulutnya, dan lidah berwarna keunguan, tidak di ragukan lagi wanita ini sudah tak bernyawa, korban tewas pada pukul 14:24.
Jika melihat kondisi Korban, ada dugaan ia tewas akibat tersedak atau over dosis, namun tidak ada dugaan yang pasti, bahkan bisa ada kemungkinan korban tewas akibat racun, melihat wajah korban dengan kosmetik yang seakan baru ia kenakan, bisa saja ia menghirup atau tak sengaja tercampur pada minuman yang ia pegang,
Mendengar perkataanku sebelumnya, beberapa pekerja kafe lantas berlari menghapiriku,
"Apa yang terjadi," tanya seorang Pekerja kafe itu,
"Wanita ini telah tewas, Tolong hubungi Polisi, kematiannya tidak wajar," jawabku pada Pekerja kafe itu, ia langsung beranjak dari tempatku.
Terlihat wajah panik pada semua orang yang berada di TKP, namun aku harus tetap fokus, karna ini kasus keduaku, aku harus segera bertindak. aku milihat kesekitar tubuh korban dan terhenti pada lantai, aku melihat gelas yang telah hancur, dengan saputangan aku mengambil salah satu serpihan geles yang tercecer di lantai, namun saat aku perhatikan aku terkejut sekilas tercium aroma sebahan kimia.
Di gelas ini, tercium.. ah! jangan-jangan ini..? bau ini.. tak salah lagi, ini bau dari Almond, racun senyawa Kalium Sianida, tidak di ragukan lagi, ini Pembunuhan, tapi, siapa yang telah memasukan racun ini, mengapa korban tidak menyadarinya, yang berada dekat dengan korban hanya kedua wanita ini, tapi, mustahil jika salah satu dari mereka memasukan racun begitu saja kedalam gelas ini, tentu korban akan melihatnya, meski dapat larut dalam cairan, tapi cara itu terlalu beresiko di lakukan, jika seperti ini, yang dapat melakukannya dengan mudah, mungkinkah pelakunya salah satu dari Pelayan kafe, aku melirik tajam kearaha pekerja kafe, karna yang membuat dan mengantar hidangan hanya mereka, tapi mengapa? ini akan menjadi kasus yang rumuit.
"Ada apa sh?"
"Entahlah, sepertinya ada yang sakit."
"Yang mana sh orangnya?"
"Itu lho, yang di samping sana."
Terdengar dari kejauhan suara dari sirine mobil Petugas.
"Wiw.. "
"Drap.. Drap.." langkah kaki yang terburu-buru.
"Mohon beri jalan, menjauh dari TKP."
Aku menoleh kearah suara itu dan melihat tiga Petugas sedang menerobos masuk di antar kerimunan orang yang memadati pintu masuk kafe.
Aku teringat pada dua teman korban.
Ada baiknya jika mengajak mereka bergabung di mejaku dan Tamara, melihat Tamara, ia nampak bingung dengan apa yang terjadi disini.
Aku menoleh kearah dua wanita teman korban,
"Maaf, sebaiknya kita jauhi TKP, karna Petugas akan memeriksa meja ini untuk penyidikan, sebaiknya kalian duduk bersama teman wanitaku disana." ujarku menunjuk kearah Tamara.
Mendengar perkataanku, mereka beranjak dari duduknya dan berjalan melewatiku, lalu menuju meja kami.
Dua wanita yang bersama korban duduk tepat di depanku dan Tamara,
mereka hanya membisu, raut wajah kedua gadis itu seakan tanpa ada semangat,
"Perkenalkan, Aku Riu, dan ini temanku Tamara, kalian teman baik korban?" tanyaku kepada dua gadis itu yang langsung melihat kearahku sekejap. Mereka nampak begituh syock atas kejadian ini, bagai mana tidak jika melihat seorang teman tewas tepat di hadapannya dengan cara seperti itu.
"Namaku, Nadia, aku teman kerja Amanda," ujar Nadia teman korban dengan nada lemas.
"Namaku, Novie, aku tinggal di apartemen bersama Amanda," ujar Novie teman korban.
Bio Data Novie: Usia 25 Tahun, tinggi badan 161cm, rambut bondol sampai bahu dan berponi tipis, hidung mancung, bibir tipis, ia Mahasiwi di sebuah Universitas, tinggal di apartemen bersama Amanda.
Bio Data Nadia: Usia 27 Tahun, tinggi badan 155cm, rambut poni dengan kuncir pada bagian belakang, hidung mancung, bibir tipis, ia satu kantor dengan Amanda.
Pandanganku tak lepas dari Novie dan Nadia, mereka nampak biasa saja, tak ada ciri mencurigakan dari gerak-gerik dan cara bicaranya.
"Pukul berapa kalian tiba di kafe ini, apa selama kalian di sini melihat hal mencurigakan?" Kembali aku bertanya dengan santai, tak ingin mereka merasa terdesak olehku.
"Kami tiba di kafe ini sekitar pukul 11:30, seingatku tidak melihat orang yang mencurigakan disekitarku, karna saat kami tiba sedang tidak ada pengunjung." jawab Novie memandang jam dingding yang tepat berada di atas meja korban.
"Aku juga, tidak melihat ada hal mencurigakan, yang aku ingat hanya melihat pasangan yang duduk disana masuk ke kafe ini," jawab Nadia dengan nada rendah, kepala menoleh kearah pasangan yang sedang duduk di kursinya.
"Apa kalian mengenal pasangan itu?" ujarku di iringin Novie dan Nadin menoleh kearah kedua pasangan itu.
"Kami tidak mengenalnya," jawab Nadia menggelengkan kepala.
"Wahh, kalian pasti begitu memperhatikan penampilan, cantiknya, sayang aku kurang mahir dalam hal bermakeup, aku jadi iri." ujar Tamara dengan senyum wajah Nadia.
Mendengar itu aku melihat ke arah Novie dan Nadin, mereka memang cantik, makeup yang nampak baru, wangi parfumnya begitu terasa di hidungku.
"Yha, karna kami baru membeli beberapa alat kosmetik, jadi kami mencobanya bersama." ujar Novie dengan singkat
Oe-oe, tidak ada waktu lainkah untuk memperhatikan makeup,
Tak lama terlihat salah seorang Petugas nampak menghampiri meja kami,
"Selamat sore, apa kalian kerabat korban?" Dengan nada Tegas Petugas bertanya, yang membuat kami menoleh kearah Petugas itu.
"Iya, kami teman Amanda, namaku Novie, dan ini Nadia." ujar Novie
"Aku dan Riu, kebetulan sedang berada di sini untuk minum Coffe, tidak mengenal korban" ujar Tamara, namun Petugas justru memandang kearahku seakan mengingat sesuatu,
"Nama dan wajahmu, nampak tidak asing, apa kita pernah berjumpa sebelumnya?" ujar Petugas yang seakan sedang mengingat sesuatu.
"Ah-haha, tidak-tidak, mungkin Paman salah orang," jawabku dengan berpura-pura tertawa.
"Ah, begitu yha, aku mungkin salah orang, oh-yha, kalian di minta jangan meninggalkan lokasi karna setelah Tim Penyidik melakukan olah TKP, aku ingin mengumpulkan saksi mata, dan menanyakan beberapa hal pada kalian." ujar Petugas, kami hanya menggaruk menanggapinya, dan Petugas itu kembali ke meja korban.
Sampai saat ini, Aku belum menemukan titik terang untuk kasus ini. Aku beranjak dari kursiku untuk mencari petunjuk yang bisa menuntunku mengungkap jati diri pelaku yang telah menghilangkan nyawa seorang wanita muda bernama Amanda, bergegas aku berjalan mendekati kasir yang berada pada suatu sisi di dalam kafe, terlihat pekerja yang sedang berkumpul.
"Wanita itu tewas akibat racun yang terdapat pada gelasnya," ujarku kepada beberapa pelayan itu, merka nampak begitu terkejut, dan wajah yang memucat,
"Ka-kami, tidak tahu akan hal itu, tidak ada sangkutannya dengan kafe ini, semua makanan dan minuman selalu kami perhatikan kualitasnya." ujar seorang pekerja peria paru baya, ia tidak menggunakan pakaian serupa pelayan, sepertinya ia pemilik kafe atau manajer disini.
"Ada yang ingat pukul berapa meja itu memesan sesuatu?" tanyaku,
"Aku, yang mengantar pesanan untuknya, mereka memesan tiga gelas just, dan tiga porsi kentang goreng, jika tidak salah itu pukul 13:40" balas Seorang pelayan dengan perawakan, tinggi sekitar 165cm, agak, kurus, kulitnya putih, ia juga yang mengantarkan Coffe untukku dan Tamara.
Seperti ada yang ganjil akan hal itu, mereka tiba jam 11:30, namun mengapa baru pesan sesuatu pukul 13:40, sedangan ketika aku dan Tamara baru saja duduk, seorang pelayan langsung menghampiri kami, atau mungkinkah?
"Apa itu pesanan yang kedua dari mereka?" tanyaku menoleh pada pelayan itu.
"Tidak, sesaat mereka tiba aku lantas menghapiri mejanya, untuk menawarkan pesanan, namun salah satu dari mereka berkata
'Kami mau mengadakan arisan, mungkin meja akan tenuh dengan barang kami, kalo tidak keberatan, kami pesan makanan ringan saja,' setelah itu mereka hanya berbincang-bincang," jawab pelayan itu.
Aku melihat ke arah Novie dan Nadin, aku merasa seperti ada yang mereka sembunyikan.
"Apa ada yang melihat salah satu dari mereka meninggalkan meja?" tanyaku kembali pada pelayan itu.
"Tidak, sepanjang aku berjaga di balik meja kasir mereka tidak ada yang meninggalkan meja, tapi aku sempat meliahat ada seorang peria dengan pakaian rapih menghampiri mereka, jika tidak salah pada pukul 14:09, entah apa yang di bicarakan, tak lama orang itu pergi," jawab pelayan.
Aku mulai mengerti kasus ini, ada gambaran yang aku curigai tentang cara pelaku menaruh racun tanpa di ketahui, dan cara pelaku menghilangkan bukti kejahatannya, jika analisaku benar, maka pelakunya, ada di antara mereka berdua(Novie dan Nadia)
Kemungkinan pekerja ini yang memberi racun tetap ada, namun jika melihat cara kerja mereka yang memiliki posisi tersendiri tentu akan sulit menentukan target, pelayan memberikan kertas daftar pesanan yang di terima dari pelanggan untuk di serahkan kepada pekerja di bagian kasir yang setelah itu pekerja kasir akan memberikan kertas pesanan itu kepada koki yang seger membuatnya.
Aku berjalan meninggalkan Pelayan menuju meja korban, sesampainya di sana aku melihat sebuah tas yang terdapat di sisi tubuh korban.
Jika dugaanku benar, pasti ada suatu bukti di dalam tas milik korban.
"Paman, apakah sudah memeriksa isi pada tas korban?" tanyaku pada Petugas, yang sedang memeriksa
"Sudah kami lakukan, kami temukan, dua buah lipstik, dua buah bedak bubuk, dua buah parfum, satu handphone, dan dompet berisi tanda pengenal, ATM dan sejumblah uang tunai, hanya ada sidik jari korban pada benda-benda itu." jawab Petugas seakan terganggu olehku.
Mendengar perkataan Petugas membuatku mengrti dengan kasus ini, nampaknya tersangka telah merencanakan pembunuhan ini dengan matang,
Mustahil, apakah pelaku menggunakan sarung tangan dalam aksinya, tidak,tidak mungkin tersangka menggunakan sarung tangan, karna itu akan membuat dirinya mudah di curigai. Lantas trik apa yang pelaku gunakan!, pada tas korban terdapat alat kosmetik yang begitu banyak, mengingat perkataan Novie dan Nadia mereka membeli barang-barang ini untuk kegitaan arisannya.
ah! Undian..!! mereka akan mengadakan undian dengan perlengkapan kosmetik itu, dengan kata lain, jika memang akan di undi berarti akan ada 1 buah lipstik, 1 buah bedak bubuk, 1 buah parfum, untuk hadiah pemenang, dan lagi Nadia berkata acara ini telah berlangsung dua minggu yang lalu dengan kata lain ini adalah undian yang ketiga dalam acara mereka, tepat tiga minggu setelah acaranya berjalan.
Aku masih harus mencari bukti lain terkait perlengkapan kosmetik yang berada pada tas korban, aku merasakan ada sesuatu yang janggal pada perlengkapan kosmetik itu, namun mengapa terasa sulit untuk mengungkapkannya.
Waktu kian berlalu, detik yang berjalan seakan di penuhi kabut hitam yang menyelimuti mistery di balik kematin Amanda. Hingga saat ini aku masih belum pasti dengan kasus ini, meski aku memiliki satu dugaan dan kecurigaan, namun belum aku temukan bukti nyata yang bisa memperkuat dugaanku ini.
Tak lama terlihat seorang Petugas pria dengan catatan di lengannya menghapiri Petugas yang sedang memeriksa di sekitar meja korban,
"Lapor, kami telah memeriksa serpihan gelas yang di gunakan korban, terdapat kandungan racun senyawa Kalium Sianida pada tepi gelasnya." ujar Petugas yang baru tiba itu.
Sejenak aku terdiam memikirkan perkataan Petugas yang baru tiba di TKP itu, dan tak sengaja pandanganku tertuju pada sisi lantai dekat dengan kursi korban, "Ini.. Serpihan kaca, namun ketebalannya berbeda dengan serpihan gelas yang aku temuka sebelumnya."
Seketika aku terperangah akan gambaran yang baru aku dapatkan tentang cara pelaku menggunakan racun itu.
Ah!! jangan-jangan, itu kah cara yang di gunakan pelaku, bukan air yang beracun, namun air yang membasuh racun, kini aku mengerti mengapa ada parfum yang menyengat, makeup yang di gunakan, seorang pria yang datang dan pergi, serpihan kaca yang baru aku temukan, semua ini tidak lain hanyalah permainan dari sang pelaku.
Pandanganku melesat kuat kearah Novie dan Nadia, perlahan aku dapat membaca trik yang di gunakan tersangka, namun aku tidak bisa memastikan siapa jati diri tersangka untuk saat ini.
Terlihat Petugas sedang menanyai Novie dan Nadia di meja lain yang sedikit jauh dari meja Tamara berada. aku harus bergegas mencari bukti yang dapat memperkuat analisaku.
Sekilas aku terfikir akan sesuatu yang ingin aku buktikan terkait trik yang di gunakan oleh pelaku, aku menoleh kearah Tamara yang sedang duduk seorang diri dengan handphone di lengannya, aku berjalan menghapiri Tamara, dan duduk tepat di hadapannya,
"Hye, Tamara, aku ingin mencari tahu sedikit tentang bermakeup," ujarku yang membuat wajah Tamara nampak kaget dan bingung.
"a-Haha, apa Riu sudah bosan menjadi pria?" jawab Tamara malah tertawa dan mengejekku.
"Ssstttt, jangan keras-keras, a-anu, hm, bukan-bukan, tidak seperti itu maksudku," balasku sambil menahan tawa Tamara. Aku tidak ingin jika tersangka mendengarnya, dan menghilangkan bukti kejahatannya.
"Lantas apa yang kamu ingin tahu tentang makeup Riu?" balas Tamara dengan nada sedikit berbisik.
"Tentang lipstik, dan bedak bubuk, apa yang di rasakan jika bibir menggunakan lipstik? dan apa bedak yang di kenakan pada wajah menimbulkan aroma yang tercium dengan jelas?" tanyaku pada Tamara dengan nada rendah.
"Tergantung lipstik apa yang di gunakan, mungkin hanya terasa sedikt tebal pada bagian bibir, untuk bedak jelas akan terasa wangi tergantung dari bedaknya," Tamara menanggapi dengan nada rendah.
"Lipstik yang melekat pada bibir, apakah memiliki rasa tersendiri?" tanyaku kembali.
Mendengar perkataanku Tamara seakan sedang mengingat sesuatu,
"hem, selama lipstik itu memiliki lebel Food Grade, maka tidak akan masalah jika tertelan, biasanya lipstik seperti itu memiliki rasa tersediri. Lho.. Riu malah pergi, huh dasar Riu, tidak sopan,"
Aku beranjak dari dudukku, meninggalkan Tamara begitu saja yang sedang berbicara, aku menghampiri sebuah meja kosong dan duduk pada kursi yang tepat berada di belakang meja Novie dan Nadia yang sedang di mintai keterangan oleh seorang Petugas wanita, alasanku hanya untuk memdengar apa yang mereka jelaskan pada Petugas, dan mencari titik lemah yang akan membuka siapa pembunuh di balik kasus ini.
Terimaksih, Tamara, berkat kau, kini aku mengerti bagai mana pelaku menggunakan racun tanpa di sadari orang lain, hanya perlu satu bukti lagi untuk mengungkap siapa kah Blak Shadow di antara Novie dan Nadia.
Aku terdiam untuk mendengar perkataan Novie dan Nadia yang sedang memberikan keterang pada seorang Petugas wanita yang tepat berada di hadapan mereka.
"Selain ingin bersantai, apa ada hal lain yang kalian bicarakan?" tanya Petugas pada Novie dan Nadia
"Selain berbagi cerita tentang keseharian Kami, kami juga membicarakan arisan yang kami adakan," ujar Novie pada Petugas wanita.
"Arisan? arisan seperti apa itu?" jawab Petugas wanita kepada Novie.
"Aku, Novie dan Amanda sepakat untuk membuat arisan perlengkapan kosmetik yang telah berjalan sejak dua minggu lalu, karna barang yang kami impor baru tiba hari ini, jadi kami berencana mengundi arisannya hari ini," terlihat Petugas wanita itu sedang memikirkan sesuatu mendengar perkataan Nadia,
"Perlengkapan apa saja yang kalian jadikan bahan untuk hadiah undian, dan apa saja yang telah kelian pesan?" tanya Petugas dengan pandangan mengarah pada Nadia dan Novie.
"Kami memesan, Satu lipstik 'Sara Happ Lip Scrub' Satu parfum 'The Bolt of Lightning'
Satu bedak bubuk padat 'Chanel Poudre Universelle Compacte' hanya itu saja perlengkapan yang kami jadikan hadiah arisan," jawab Novie pada petugas yang memandang kearahnya.
"Apa saat kalian berbincang ada sesuatu yang aneh terhadap Amanda?" tanya Petugas.
"Kami tidak merasa ada yang aneh pada Amanda, ia hanya mengeluh tidak cocok dengan lipstik barunya." jawab Novie dengan singkat
"Mengapa bisa merasa tidak cocok, kamu tau alasannya?" tanya Petugas memandang Novie.
"Mungkin karna Amanda telah terbiasa dengan lipstik yang ia gunakan, karna itu ia merasa tidak cocok dengan rasa lipstik lainnya." jawab Novie.
Tidak cocok yha hem,hem..
"Sebelum Amanda meminum jus miliknya, apa ada ciri aneh pada gelas atau pada jusnya?" tanya Petugas
"Kami tidak memperhatikannya, karna saat itu Novie sedang memintaku untuk mencoba parfum barunya," jawab Nadia."
"Apa kalian pernah ada masalah dengan salah satu pekerja di kafe ini?" kembali Petugas menanyai Novie dan Nadia.
"Aku rasa tidak, bahakan kami tidak mengenalnya sama sekali," jawab Nadia.
"Baiklah, data kalian akan kami perdalam lagi, namun siap jika suatu waktu di mintai keterangan lagi," kata Petugas wanita sambil beranjak dari duduknya.
"Kapan pun itu kami siap untuk di mintai keterangan," jawab Novie.
"Jika seperti itu, mau kah menjawab beberapa pertanyaanku?" sekilas pandangan Novie, Nadia dan Petugas Wanita berpaling kearahku.
"Kamu lagi, apa urusannya denganmu?" ujar Novie dengan pandangan sinis melihat kearahku.
"Riu Aldebaran, anak dari kepala inspektur, benar?" perkataan Petugas yang membuatku sedikit terkejut, karna mengenal identitasku.
"I-iyha, hanya kebetulan saja, aku dan Tamara sedang berada di kafe ini," jawabku sedikit canggung.
"Kau juga yang membantu membongkar trik pembunuhan terhadap seorang gadis yang tergantung di kamar villa, benar?" mendengar perkataan Petugas itu membuat aku bertanya-tanya, siapa Petugas wanita ini.
"na-nah, Sebaiknya kita membicarakan tentang kasus yang terjadi di kafe ini," jawabku
"Baiklah, tidak ada salahnya mendengarkan penuturanmu, mengingat kau yang pertama mendekat pada tubuh korban, apa yang kau tahu tentang kasus ini," ujar Petugas wanita, ia kembali duduk pada kursinya.
"Saat aku mendengar suara korban, aku segera berlari menghapirinya, dan aku mencium aroma Almoad pada serpihan gelas yang korban gunakan," ujarku pada petugas wanita, di iringin Novie dan Nadia kembali duduk pada kursinya.
"Hasil penyidikan awal, memang di gelas korban terdapat kandungan racun Sianida, butuh waktu untuk memastikan sumber racun itu berasal, entah pada air, atau pada tepian gelas korban," jawab petugas wanita dengan mata melihat pada sebuah buku laporan.
"Racun bukan berasal dari jus yang korban minum atau pun dari tepian gelasnya, jika kasus ini tertunda maka tersangka memiliki waktu untuk melenyapkan bukti kuat yang ada padanya," perkataanku membuat petugas wanita sedikit terkejut.
"Maksudmu, air dan gelas yang di gunakan korban tidak beracun?" jawab petugas wanita.
"Tentu saja tidak, jika tersangka menaruh racun pada jus korban tentu itu tindakan yang ceroboh, dan mungkin korban akan menyadarinya,"
"Lalu cara apa yang pelaku gunakan?" jawab petugas wanita menanggapi perkataanku.
"Hanya ada satu cara yang dapat di gunakan oleh tersangka," kataku "cara itu dengan memanfaatkan benda yang dapat menyentuh bibir dengan merata."
Petugas wanita terkejut dan beranjak dari duduknya, ia menyadari akan sesuatu.
"Li-lipstik, mungkinkah!!" ujar petugas wanita, ia lantas bergegas menuju petugas lain yang sedang memeriksa area dekat meja korban.
"Lapor, saya memiliki infomarsi yang perlu di uji," dengan tegap petugas wanita itu menanyakan pada seorang petugas dengan buku pada lengannya.
"Infomarsi apa yang ingin kau dapatkan?" jawab petugas pria, dengan melihat pada buku laporannya.
"Saya ingin memastikan apakah terdapat kandungan racun pada salah satu lipstik yang berada di dalam tas korban?" dengan tegak petugas wanita itu berbicara.
"Team Forensik baru memeriksa racun pada gelas yang di gunakan korban, hanya baru memerisa sidik jari pada barang-barang yang terdapat pada tas korban." ujar seorang petugas pria.
"Yha, memang akan sulit mengetahuinya jika hanya melihat sekilas, dan lagi aroma dari Kalium Sianida hampir sama dengan aroma kacang Almond, dan itu akan tersamar oleh aroma pada lipstik yang memiliki aroma vanilla,"
Mendengar ucapanku Seorang petugas pria menatap kearahku, "siapa kau?"
"Pemuda ini Riu Aldebaran, ia yang membantu memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di villa tiga bulan yang lalu," ujar petugas wanita.
Aku cukup beruntung karna ada yang mendukungku kali ini, mungkin akan mempermudah mecari bukti sesuai analisaku.
Aku mendekat pada meja korban, memandang tajam kearah tas yang berada di atas kuris tepat di sisi kanan tubuh korban, "bisakah aku melihat barang bawaan yang berada di dalam tas korban?"
"Tidak masalah, akan kami perlihatkan, namun tidak untuk di sentuh," petugas saling menatap, dan menganggukan kepalanya.
Seorang petugas pria berjalan mendekat pada meja korban, dengan sarung tangan putih yang ia kenakan lantas mengambil tas yang berada di sisi tubuh korban dan mengluarkan barang yang terdapat di dalam tas yang ia pegangnya.
Isi pada tas yang kini tercecer di atas meja tepat di hadapanku dan dua Petugas yang mendampingiku, isi tas itu terdiri dari: Dua Buah lipstik bermerk 'Sara Happ Lip Scrub' dan dua bedak bubuk, dua buah parfum, satu buah handphone, dompet, dan tisu basah.
Pandanganku tertarik pada dua buah lipstik yang berdiri sejajar di atas meja, aku mulai dapat tersenyum, kini analisaku tidak diragukan lagi, "Ternyata benar, itu yang di gunakan tersangka."
"Jika kita perhaikan pada dua lipstik ini, ada satu lipstik yang terdapat embun pada tutupnya," ujarku "seperti yang kita tahu Kandungan Sianida jika terkena lembam ia akan menguap dan kemudian larut, namun lembam pada lipstik tidak cukup kuat untuk membuat Sianida larut menjadi cair hanya akan membuat Sianida menguap dan mengendap pada tutup lipstiknya."
Mendengar penuturanku, petugas melihat tajam kearah dua lipstik yang sejajar rata di atas meja yang aku pandangi dengan tajam,
"A-ada," ujar seorang petugas yang juga melihat embun yang aku maksudkan "seger panggil Team Forensik untuk melakukan uji terhadap ketiga lipstik ini," tegas petugas pria memerintahkan seorang petugas lain.
Petugas pria menoleh kearahku,
"Lantas bagai mana tersangka bisa menaruh racun pada lipstik itu."
"Tentu tersangka telah merencanakan aksinya denga matang-matang," jawabku "sebelum bertemu dengan korban, tersangka terlebih dahulu menaburi racun Sianida kedalam lipstik yang telah ia siapkan, setelah itu tersangka memasukan lipstik kedalam kotak kado yang telah ia buat agar tidak tertukar dengan lipstik miliknya."
Mendengar penuturanku, Petugas memliki sudat pandang yang sama denganku.
"Berarti, yang bisa melakukannya hanya orang yang berada dekat dengan korban." ujar petugas pria menjawab, dengan pandangan menuju kepada Novie dan Nadia yang tengan terdiam duduk di kursinya.
Petugas pria berjalan melewatiku, mendekat kepada Novie dan Nadia, aku dan seorang petugas wanita mengekorinya.
"Kami menemukan racun pada lipstik korban, apa kalian tahu akan hal itu?" tegur petugas pada Novie dan Nadia yang lantas duduk di depannya.
"Aku tidak tahu jika lipstik yang Amanda pesan menggandung racun, karna kami membelinya di internet," ujar Nadia dengan wajah yang membingung.
"kami telah di intrograsi, memberika infomarsi yang kami tahu, lantas biarkan kami pergi, aku teroma dengan kejadian yang terjadi pada teman kami, ingin menenangkan fikiran" cetus Novie pada petugas yang berada di depannya.
"Sebelum itu aku ingin bertanya kepada Novie dan Nadia," tanyaku "siapakah pria yang datang dan pergi 15 menit sebelum Amanda meregang nyawa?"
"Ketika kami akan memesan perlengkapan make up untuk hadiah undian, ada temanku yang lain menitip untuk di pesankan juga, pria yang datang itu hanya kurir pengantar pesanan yang tiba bersama pesanan kami," ujar Novie
"Apakah barang itu lipstik?" jawabku
"Tentu saja bukan, teman Kuliahku hanya membeli bedak bubuk," balas Novie
"Apa Nadia melihat ketika kurir itu mengambil barangnya?" ujarku, "apa barang itu di bungkus kotak kado?"
"Aku tidak terlalu memperhatikannya, sekilas terlihat seperti kotak yang rapih, dan besarnya sebanding dengan kotak bedak bubuk," jawab Nadia
"Dengan kata lain, kau tidak tahu barang apa yang terdapat pada isi kotak itu yha," ujar petugas wainta yang berdiri di sisiku, Novie hanya menganggukan wajahnya membenarkan perkataan petugas wanita itu.
"Apa kalian mencurugai aku dan Novie?" ujar Nadia "jika mencurigai kami tentu harus ada bukti yang kuat, tidak bisa jika hanya menuduh seperti itu," dengan nada agak meninggi.
"Yha, kau berbicara seperti itu karna yakin jika barang bukti sudah tidak berada disini," sautku dengan tenang "Tidak, bukan menuduh, tapi memang tersangka ada di antara kalian berdua" dengan sedikit senyum aku melihat kearah Novie dan Nadia yang membuat mereka terperangah terkejut.
"Jika kalian tidak bersalah maka tidak perlu cemas, tidak ada salahnya jika mendengarkan analisa dari pemuda ini," ujar petugas mengarah pada Novie dan Nadia, "silahkan teruskan Riu"
petugas menoleh kerahku.
"Saat aku sedang berbincang dengan teman satu mejaku Tamara, seklias kami mencium wangi aroma parfum yang begituh menyengatan dari arah belakang kami, aku melihat tiga wanita dengan beberapa alat make up terdapat di atas mejanya," ujarku sedikit berjalan kearah meja Tamara, "memang aku tidak menaruh curiga pada saat itu, karna aku hanya berfikir mungkin mereka sedang memebicarakan peralatan make up," aku kembali berjalan mendekat meja Novie dan Nadia, "namun jika di kaitkan dengan apa yang terjadi selanjutnya jelas itu bukanlah hal yang biasa."
"Tidak biasa?" ujar petugas melihat kearahku.
"Yha, itu hanya trik agar si pelaku dapat menjalankan aksinya," jawabku dengan menyodorkan lipstik yang aku pinjam dari Tamara, "Ingin mencobanya? ini rasa vanila."
Petugas wanita mengambil lipstik itu dan membuka tutup dari lipstik yang aku berikan padanya.
"Jangan-jangan!! ini.." petugas wanita menyadari akan sesuatu dari lipstik yang ia pegang.
"Yha, pelaku hanya tinggal memberikan lipstik yang sebelumnya telah di taburi racun Sianida kepada korban, dengan aroma vanilla tentu korban tidak akan curiga jika lipstik yang akan ia gunakan mengandung racun yang mematikan," perkataanku membuat wajah Novie dan Nadia terkecambuk dalam cemas.
"Apa perkataan pemuda ini benar?" ujar petugas mengarah pada Novie dan Nadia, "jika benar tolong jelaskan siapa di antara kalian yang memberikan lipstik pada Amanda?" mendengar perkataan petugas seakan membuat Nadia dan Novie sulit untuk bicara.
"A-aku tidak, tidak tahu akan hal itu, aku tidak mengingatannya, yang hanya aku ingat Amanda memperlihatkan beberapa lipstik miliknya yang ia taruh di atas meja." jawab Nadia dengan nada sedikit berat.
"Aku pun tidak melihat Nadia menukar lipstik dengan Amanda, saat itu kami sedang antusias membicarakan perlengkapan make up yang kami miliki," ujar Novie.
Terlihat raut wajah petugas yang merasa bimbang dengan perkataan Novie dan Nadia, "Bagai mana jika seperti ini?" petugas menoleh kearahku, "tidak ada bukti pasti jika mereka yang menukar lipstik maut yang di gunakan korban."
"Yha, namum sebelum itu aku ingin bertanya tentang urutan pemenang undian?" ujarku dengan telunjuk menyadar pada dagu, "Mengingat perkataan kalian jika acara arisan ini telah berjalan dua minggu terakhir, itu berarti sudah ada dua pemenang undian, dan ini undian untuk yang terkhir, benar?" aku menoleh kearah Novie dan Nadia.
"Ia, bagai mana kau tahu tentang itu?" jawab Nadia "karna ini akhir dari acara arisan jadi kami tidak melakukan undian lagi."
"Jika kita ingat pada jumblah alat make up yang terdapat dari isi tas korban maka kau akan mengetahuinya," ujarku "dengan lipstik berjumblah tiga buah, parfum dua buah, bedak bubuk dua buah, dari jumblah itu sudah dapat di pastikan jika Amanda yang memegang hadiah undiannya,"
"Oh, jadi karna itu mengapa korban memiliki perlengkapan make up ganda," jawab petugas pria sambil memikirkan suatu hal, "namun mengapa hanya lipstik yang meliki jumblah tiga buah?"
"Karna memang lipstik ketiga bukanlah milik korban," perkataanku membuat raut wajah petugas nampak bingung, "pada dasarnya korban hanya membawa dua lipstik, dua bedak, dua parfum, yang mana tiga buah itu adalah hadiah untuk pemenang undian."
"Jika seperti itu maka Novie, Nadia, Amanda akan hanya memiliki tiga perlengkapan make up yang terdiri dari lipstik, bedak, parfum," petugas wanita menanggapi perkataanku.
"Dengan rincian itu akan mempermudah untuk mengungkap siapa yang telah memberi lipstik beracun itu pada Amanda, benarkan?" perkataanku membuat petugas terdegup seketika.
Terlihat petugas pria seakan sedang mengartikan perkataanku,
"Jangan-jangan, lipstiknya" ujar petutagas menoleh kearah Novie dan Nadia, "perlihatkan isi dari tas kalian!" meminta Novie dan Nadia.
Mendengar itu Novie dan Nadia meletekan tas mereka di atas meja tepat di hadapan petugas yang memintanya, dengan satu persatu Petugas mulai mengluarkan isi tas yang di miliki Nadia yang berisi: satu buah handphone, satu buah, dompet, satu bungkus tisu basah, parfum, bolpoin, dan buku catatan, "Hanya itu" ujar petugas "kini giliran tas milik Novie."
Petugas mengeluarkan isi pada tas Novie yang berisi: satu buah handphone, bedak bubuk, pelembab kulit, parfum, lipstik, dompet, dan sebilah buku lengkap dengan bolpoin.
Raut wajah cemas nampak terlihat dari wajah Novie dan Nadia yang tertunduk berkeringat.
"Hanya Nadia yang tidak memiliki lipstik, itu berarti lipstik yang ada di dalam tas korban adalah milik Nadia," ujar petugas "bukan begitu Riu?"
Mendengar perkataan itu Nadia nampak ingin berbicara namun seakan berat untuk mengucap, hanya air mata yang mulai terlihat di kedua bola matanya.
"Yha, dengan begitu hanya Nadia yang tidak memiliki perlengkapan make up yang sama dengan Novie dan Amanda, karna perlengkapan milik Nadia masih ada pada Amanda," ujarku dengan senyum kecil.
"makusdmu, tersangka bukanlah Nadia?" ujar petugas terkejut, "Itu berarti, pelakunya adalah yang memiliki perlengkapan make up yang serupa dengan milik korban, orang yang memiliki itu hanya Novie!!" semua mata yang hanya tertuju pada Novie.
Dengan keringat yang menghiasi dahinya, mata yang begitu terkejut dengan tuduhan yang mengacuh padanya, "Mu-mustahil, mana mungkin aku bisa melakukan pertukaran lipstik dengan Amanda, sedangkan Nadia tidak melihatnya, masalah lipstik, aku memang lupa untuk membawanya."
Aku memasukan lengan pada saku celanaku, dan mengambil serpihan kaca yang aku temukan sebelumnya.
"Nadia, apa saat kalian berbicara ada sesuatu yang terjatuh?" tanyaku.
Dengan kaca kecil terhimpit pada kedua jariku, aku mencoba membandingkannya dengan tutup lipstik milik Tamara.
Mendengar perkataanku, Nadia seakan berusaha mengingat sesuatu.
"Ah, saat pelayan tiba dan menaruh pesanannya. tidak sengaja menyentuh salah satu lipstik yang berada di depan Amanda hingga lipstik itu terjatuh, dan yang mengambil lipstik itu, No-Novie."
Novie hanya terdiam dengan pandang kosongnya, tertunduk mendengar perkataan Nadia, dan tak lama seorang pelayan yang mendengar perkataan Novie datang menghapiri kami.
"Bukan aku yang menaruh minuman itu pada meja mereka, karna saat itu meja di penuhi dengan alat kosmetik, aku kesulitan untuk menaruh pesanannya, tapi gadis ini (Novie) yang membantuku, ia menyambut pesanan dan menaruhkannya pada meja mereka," ujar pelayan yang baru tiba di meja kami.
Novie seakan geram mendengar perkataan yang seakan memojokannya,
"Lantas kenapa jika aku yang menaruh pesanan di atas meja kami, aku yang menjatuhkannya maka aku yang mengambilnya, karna lipstik itu jatuh tepat di kakiku, wajar jika aku yang mengambilnya, kalian ingin aku yang menjadi pembunuh? apa bukti kalian menuduhku seperti ini, hanya ocehan pria bodoh ini kalian percaya begitu saja?"
Oe-oe, siapa yang kau panggil pria bodoh, bukankah trik ini yang terlihat bodoh, huh..
Nampak petugas yang menoleh kearahku, "Hey, Riu, apa kau temukan bukti dalam kasus ini?"
Dengan senyum kecil aku menanggapinya, "Tidak,"
"Apaa, tidak katamu!!" ujar seorang petugas wanita yang berada di sisiku, bicara dengan nada tinggi, "baru saja aku mempercayai anak seorang Inspektur terkenal, ternyata sia-sia."
Seramnya expresi wajah petugas wanita ini,
"A-ah, makusdku, bukti memang tidak ada di kafe ini, yha, e-hehe," ujarku mengerutkan halis, aku menoleh kearah pelayan yang berada dekat meja kami,
"ah, paman pelayan, bukankah tadi ada seorang pria yang datang lalu pergi?"
Pelayan itu menaikan halis mendengar pertanyaanku,
"I-iya, ada, pria itu berpakaian rapih dan tak lama berbicara ia lantas pergi."
"Bukankah sudah aku jelaskan jika pria itu hanya kurir yang akan mengantarkan pesanan untuk temanku," cetus Novie.
"Yha, pesanan itu berisi sebuah lipstik milik Amanda yang kau tukar dengan lipstik yang telah kau taburi racun Sianida, dan untuk menghindari pemeriksaan sidik jari pada barang bawaan kau berfikir untuk menghilangkan bukti dari TKP, karna lipstik yang berada di dalam tasmu hanya terdapat sidik jari milik Amanda," pandangku melesat tajam kearah Novie,
"lalu kau mencari cara agar menghilangkan bukti tanpa ada yang curiga sedikit pun, ya itu dengan memanfaatkan jasa kurrir untuk mengantar kotak yang berisi barang bukti berupa lipstik,"
"tapi sayang, aku telah menyadari trik apa yang kau gunakan setelah menemukan serpihan kaca kecil tepat di lantai tidak jauh dari kursimu, serpihan kaca kecil ini berasal dari pecahan tutup lipstik yang sengaja kau jatuhkan kelantai, dengan begituh kau bisa menukarnya dengan lipstik beracun milikmu, setelah itu kau hanya perlu menunggu kurir tiba dan mengirimnya kesuatu tempat untuk menghilangkan bukti yang ada, bukan begituh Novie?"
"Tapi, bagai mana jika Nadia yang menggunakan lipstik beracun itu, bukankah menjadi siasia usah pembunuhannya?" jawab petugas pria dengan menoleh kearahku.
"Nadia, bukankah tadi kau berkata sedang antusias membicarakan tentang parfum bersama Novie?"
"Iya saat itu Novie sedang bercerita pengalaman dengan parfum barunya, jadi aku tak terlalu tertarik untuk mencoba lipsik yang akan menjadi hadia undianku." jawab Nadia.
"Novie, bisakah kau jelaskan akan perkataan Riu dan Nadia?" tanya petugas pada Novie.
Terlihat seorang tetugas menghapiri meja kami,
"Lapor, kami telah menguji kandungan pada lipstik yang di kenakan korban, hasilnya positif, lipstik mengandung racun Sianida," ujar petugas yang baru tiba memotang percakapan kami.
"Terimakasih atas laporannya," jawab petugas pria yang berada di hadapan Novie, "Kau belum menjawab pertanyaanku Novie."
Diam dan membisu seakan kata-kata tak lagi bisa ia lontarkan, seorang petugas yang duduk di depan Novie mulai geram ia mengambil handphone yang ikut di keluarkan saat sedang memeriksa perlengkapan make up miliknya, "aku akan menghubungi nomer Telp yang terakhir kau hubungi, untuk membuktikan perkataan Riu."
"Tidak perlu, jika aku tidak mengakuinya pun percuma, kurir itu pasti akan membantu menemukan bukti yang di maksud oleh pria itu( Riu )," ungkap Novie dengan nada lemas, "Tiga bulan yang lalu, Amanda menghadiri pesta ulang tahunku, saat itu acara sangat menyenangkan, semua teman kuliahku datang termasuk Amanda, ia memberikan kado tepat di depan semua teman-temanku, bukan kado yang aku mesalahkan, jujur aku senang akan kehardirannya, namun semua itu sirnah, saat Amanda berkata 'Orang susah mengapa berlaga seperti orang kaya, merayakan pesta ulang tahun, oh ini aku punya kado untukmu,' yang membuat aku tambah muak, Amanda.. ia menghadiri pesta bersama kekasihku..!!" ujar Novie dengan air mata mulai mengalir mengiringi penuturannya, "dengan mesra mereka berjalan di hadapan teman-temanku tanpa rasa bersalah, hingga aku menjadi bahan perbincangan oleh teman satu kampusku yang terus membicarakan kejadian itu, harga diriku telah di rusak oleh gadis bernama Amanda,
"Karna itu kau merencanakan untuk membunuh Amanda," ujar petugas beranjak dari duduknya.
"Yha, aku menyusun rencana dengan sangat matang, dan aku juga yang mengusulkan acara undian kosmetk, si bodoh itu nampak senang mengikuti acara yang akan merenggut nyawanya, hahah.." tertawa dengan air mata, itu sebuah kepalsuan yang mengiringi langkahnya menuju jeruji besi tempat di mana ia akan merasakan arti dari sebuah harga diri.
"Terimakasih, Riu Aldebaran, sekali lagi telah membantu kami memecahkan kasus," ujar petugas dengan senyum dan lengan mengarah kepadaku
"nampaknya ada yang memperhatikanmu dengan detail, dari sejak tadi lho"
Aku menoleh kearah Tamara, "A-ah, iya aku hampir lupa akan Tamara," ujarku aku berjalan menghapiri Tamara yang sedang terduduk di mejanya.
"Hye, maaf telah menunggu lama, ingin berpindah kafe?" tanyaku pada Tamara,
"Lipstikku, kembalikan hem" balas Tamara dengan tangan menjulur kearahku "tidak usah Riu, sebaiknya kita pulang saja."
waah. niat bersama dengan Tamara kini terbuang siasia, hhuft.
"oke, aku akan mengantarmu pulang."
Langkahku dan Tamara meninggalkan ruang kafe yang menutup kasus yang terjadi, kami kembali di hadapkan dengan padatnya kendaraan yang mengiringi perjalanan kami.
"Berlaga Detective, lihat akhirnya kita terjebak kemacetan yang panjang," ujar Tamara sedikit menggerutu "Riuu...!!!!"
Nyahaha...
"Setidaknya kita bisa berbincang lebih lama"
(Kasus Di Tutup)
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.
Daftar Isi:
Hari ini cuaca di Kota Jakarta begitu panas, bahkan angin yang berhembus terasa hangat menerpa kulitku, aku bersandar duduk di depan meja komputerku, dengan segelas cola dingin, dan cemilan kecil menemaniku membaca novel, enggan rasanya untuk berpergian ke luar rumah saat cuaca seperti ini.
sekilas aku terkejut, suara wanita ini, terdengar tidak asing bagiku, dan aku teringat pada seseorang, aku yakin suara ini miliknya,
jawabku, terdengar ia tertawa pelan,
"Ada yang lucukah?"
tanyaku dengan mengkerutkan halis,
Dengan menghelaikan nafas dan kelopak mata menurun aku menjawab pertanyaannya,
"Wah, ternyata kamu mesih cerdas seperti dulu ya, jika sudah tahu mengapa tidak menjemputku kebandara" jawabnya seakan berbicara dengan tersenyum.
"Wah Riu, kafe ini.. kafe yang terakhir kita datangikan, tidak banyak perubahan hampir sama seperti dulu," raut wajah gembira nampak jelas terlihat pada Tamara, aku menepi dan memarkirkan kendaraanku,
Tamara hanya mengangguk, dan kami keluar dari kendaraan berjalan masuk kedalam kafe, beruntung saat ini tidak begitu ramai pengunjung, hanya ada tiga orang wanita, dan satu pasangan remaja, kami memilih meja dan kulihat seorang pelayan kafe berjalan menghampiriku, dengan sopan ia berkata dan memberikan daftar menu yang ia pegang kepadaku,
sejenak aku berusaha mengingat pesanan yang Tamara sukai..
"Aku pesan, Swiss mocha Ltte dan Vanilla Latte," aku terperangah mendengar ucapan Tamara, ia masih mengingat baik pesanan terakhir yang kami pesan,
"Ah-haha. Itu yang aku ingin pesan, ternyata kau masih mengingatnya," kataku dengan tersenyum,
"Jelas aku ingat, karna terakhir kita di sini aku yang memesan minuman untukmu," ternyata karna itu aku tidak dapat mengingatnya.
"Ini pesannya, jika perlu bantuan, jangan sungkan panggil saya," ujar Pelayan.
"Oke, terimakasih" jawab Tamara dengan senyum.
"Oh, hal apa yang ingin kamu ceritakan?" tanyaku pada Tamara, terlihat ia sedang menambahkan sedikit gula pada minumannya,
"Hem.. mulai dari mana yha, oh iya, ketika aku disana aku begitu ingin makan masakan Indonesia, disana ada lestoran khas Indonesia tapi semua makannya mahal sekali,"
"Prang!!!"
"Rosita!!! Rosita!! hey, Rositaa!! bangun, ini tidak lucu, bangun!!"
Aku segera berlari menghapiri mejanya dan berteriak pada pelayan kafe,
"Tolong Cepat hubungi, Ambulance."
"Ada apa sh?"
"Entahlah, sepertinya ada yang sakit."
"Yang mana sh orangnya?"
"Itu lho, yang di samping sana."
"Entahlah, sepertinya ada yang sakit."
"Yang mana sh orangnya?"
"Itu lho, yang di samping sana."
Terdengar dari kejauhan suara dari sirine mobil Petugas.
"Wiw.. "
"Drap.. Drap.." langkah kaki yang terburu-buru.
"Wiw.. "
"Drap.. Drap.." langkah kaki yang terburu-buru.
"Mohon beri jalan, menjauh dari TKP."
Aku menoleh kearah suara itu dan melihat tiga Petugas sedang menerobos masuk di antar kerimunan orang yang memadati pintu masuk kafe.
Aku teringat pada dua teman korban.
Ada baiknya jika mengajak mereka bergabung di mejaku dan Tamara, melihat Tamara, ia nampak bingung dengan apa yang terjadi disini.
Aku menoleh kearah dua wanita teman korban,
"Maaf, sebaiknya kita jauhi TKP, karna Petugas akan memeriksa meja ini untuk penyidikan, sebaiknya kalian duduk bersama teman wanitaku disana." ujarku menunjuk kearah Tamara.
"Maaf, sebaiknya kita jauhi TKP, karna Petugas akan memeriksa meja ini untuk penyidikan, sebaiknya kalian duduk bersama teman wanitaku disana." ujarku menunjuk kearah Tamara.
Mendengar perkataanku, mereka beranjak dari duduknya dan berjalan melewatiku, lalu menuju meja kami.
Dua wanita yang bersama korban duduk tepat di depanku dan Tamara,
mereka hanya membisu, raut wajah kedua gadis itu seakan tanpa ada semangat,
mereka hanya membisu, raut wajah kedua gadis itu seakan tanpa ada semangat,
"Perkenalkan, Aku Riu, dan ini temanku Tamara, kalian teman baik korban?" tanyaku kepada dua gadis itu yang langsung melihat kearahku sekejap. Mereka nampak begituh syock atas kejadian ini, bagai mana tidak jika melihat seorang teman tewas tepat di hadapannya dengan cara seperti itu.
"Namaku, Nadia, aku teman kerja Amanda," ujar Nadia teman korban dengan nada lemas.
"Namaku, Novie, aku tinggal di apartemen bersama Amanda," ujar Novie teman korban.
Bio Data Novie: Usia 25 Tahun, tinggi badan 161cm, rambut bondol sampai bahu dan berponi tipis, hidung mancung, bibir tipis, ia Mahasiwi di sebuah Universitas, tinggal di apartemen bersama Amanda.
Bio Data Nadia: Usia 27 Tahun, tinggi badan 155cm, rambut poni dengan kuncir pada bagian belakang, hidung mancung, bibir tipis, ia satu kantor dengan Amanda.
Pandanganku tak lepas dari Novie dan Nadia, mereka nampak biasa saja, tak ada ciri mencurigakan dari gerak-gerik dan cara bicaranya.
"Pukul berapa kalian tiba di kafe ini, apa selama kalian di sini melihat hal mencurigakan?" Kembali aku bertanya dengan santai, tak ingin mereka merasa terdesak olehku.
"Kami tiba di kafe ini sekitar pukul 11:30, seingatku tidak melihat orang yang mencurigakan disekitarku, karna saat kami tiba sedang tidak ada pengunjung." jawab Novie memandang jam dingding yang tepat berada di atas meja korban.
"Aku juga, tidak melihat ada hal mencurigakan, yang aku ingat hanya melihat pasangan yang duduk disana masuk ke kafe ini," jawab Nadia dengan nada rendah, kepala menoleh kearah pasangan yang sedang duduk di kursinya.
"Apa kalian mengenal pasangan itu?" ujarku di iringin Novie dan Nadin menoleh kearah kedua pasangan itu.
"Kami tidak mengenalnya," jawab Nadia menggelengkan kepala.
"Wahh, kalian pasti begitu memperhatikan penampilan, cantiknya, sayang aku kurang mahir dalam hal bermakeup, aku jadi iri." ujar Tamara dengan senyum wajah Nadia.
Mendengar itu aku melihat ke arah Novie dan Nadin, mereka memang cantik, makeup yang nampak baru, wangi parfumnya begitu terasa di hidungku.
"Yha, karna kami baru membeli beberapa alat kosmetik, jadi kami mencobanya bersama." ujar Novie dengan singkat
Oe-oe, tidak ada waktu lainkah untuk memperhatikan makeup,
Tak lama terlihat salah seorang Petugas nampak menghampiri meja kami,
"Selamat sore, apa kalian kerabat korban?" Dengan nada Tegas Petugas bertanya, yang membuat kami menoleh kearah Petugas itu.
"Iya, kami teman Amanda, namaku Novie, dan ini Nadia." ujar Novie
"Aku dan Riu, kebetulan sedang berada di sini untuk minum Coffe, tidak mengenal korban" ujar Tamara, namun Petugas justru memandang kearahku seakan mengingat sesuatu,
"Nama dan wajahmu, nampak tidak asing, apa kita pernah berjumpa sebelumnya?" ujar Petugas yang seakan sedang mengingat sesuatu.
"Ah-haha, tidak-tidak, mungkin Paman salah orang," jawabku dengan berpura-pura tertawa.
"Ah, begitu yha, aku mungkin salah orang, oh-yha, kalian di minta jangan meninggalkan lokasi karna setelah Tim Penyidik melakukan olah TKP, aku ingin mengumpulkan saksi mata, dan menanyakan beberapa hal pada kalian." ujar Petugas, kami hanya menggaruk menanggapinya, dan Petugas itu kembali ke meja korban.
Sampai saat ini, Aku belum menemukan titik terang untuk kasus ini. Aku beranjak dari kursiku untuk mencari petunjuk yang bisa menuntunku mengungkap jati diri pelaku yang telah menghilangkan nyawa seorang wanita muda bernama Amanda, bergegas aku berjalan mendekati kasir yang berada pada suatu sisi di dalam kafe, terlihat pekerja yang sedang berkumpul.
"Wanita itu tewas akibat racun yang terdapat pada gelasnya," ujarku kepada beberapa pelayan itu, merka nampak begitu terkejut, dan wajah yang memucat,
"Ka-kami, tidak tahu akan hal itu, tidak ada sangkutannya dengan kafe ini, semua makanan dan minuman selalu kami perhatikan kualitasnya." ujar seorang pekerja peria paru baya, ia tidak menggunakan pakaian serupa pelayan, sepertinya ia pemilik kafe atau manajer disini.
"Ada yang ingat pukul berapa meja itu memesan sesuatu?" tanyaku,
"Aku, yang mengantar pesanan untuknya, mereka memesan tiga gelas just, dan tiga porsi kentang goreng, jika tidak salah itu pukul 13:40" balas Seorang pelayan dengan perawakan, tinggi sekitar 165cm, agak, kurus, kulitnya putih, ia juga yang mengantarkan Coffe untukku dan Tamara.
Seperti ada yang ganjil akan hal itu, mereka tiba jam 11:30, namun mengapa baru pesan sesuatu pukul 13:40, sedangan ketika aku dan Tamara baru saja duduk, seorang pelayan langsung menghampiri kami, atau mungkinkah?
"Apa itu pesanan yang kedua dari mereka?" tanyaku menoleh pada pelayan itu.
"Tidak, sesaat mereka tiba aku lantas menghapiri mejanya, untuk menawarkan pesanan, namun salah satu dari mereka berkata
'Kami mau mengadakan arisan, mungkin meja akan tenuh dengan barang kami, kalo tidak keberatan, kami pesan makanan ringan saja,' setelah itu mereka hanya berbincang-bincang," jawab pelayan itu.
'Kami mau mengadakan arisan, mungkin meja akan tenuh dengan barang kami, kalo tidak keberatan, kami pesan makanan ringan saja,' setelah itu mereka hanya berbincang-bincang," jawab pelayan itu.
Aku melihat ke arah Novie dan Nadin, aku merasa seperti ada yang mereka sembunyikan.
"Apa ada yang melihat salah satu dari mereka meninggalkan meja?" tanyaku kembali pada pelayan itu.
"Tidak, sepanjang aku berjaga di balik meja kasir mereka tidak ada yang meninggalkan meja, tapi aku sempat meliahat ada seorang peria dengan pakaian rapih menghampiri mereka, jika tidak salah pada pukul 14:09, entah apa yang di bicarakan, tak lama orang itu pergi," jawab pelayan.
Aku mulai mengerti kasus ini, ada gambaran yang aku curigai tentang cara pelaku menaruh racun tanpa di ketahui, dan cara pelaku menghilangkan bukti kejahatannya, jika analisaku benar, maka pelakunya, ada di antara mereka berdua(Novie dan Nadia)
Kemungkinan pekerja ini yang memberi racun tetap ada, namun jika melihat cara kerja mereka yang memiliki posisi tersendiri tentu akan sulit menentukan target, pelayan memberikan kertas daftar pesanan yang di terima dari pelanggan untuk di serahkan kepada pekerja di bagian kasir yang setelah itu pekerja kasir akan memberikan kertas pesanan itu kepada koki yang seger membuatnya.
Aku berjalan meninggalkan Pelayan menuju meja korban, sesampainya di sana aku melihat sebuah tas yang terdapat di sisi tubuh korban.
Jika dugaanku benar, pasti ada suatu bukti di dalam tas milik korban.
"Paman, apakah sudah memeriksa isi pada tas korban?" tanyaku pada Petugas, yang sedang memeriksa
"Sudah kami lakukan, kami temukan, dua buah lipstik, dua buah bedak bubuk, dua buah parfum, satu handphone, dan dompet berisi tanda pengenal, ATM dan sejumblah uang tunai, hanya ada sidik jari korban pada benda-benda itu." jawab Petugas seakan terganggu olehku.
Mendengar perkataan Petugas membuatku mengrti dengan kasus ini, nampaknya tersangka telah merencanakan pembunuhan ini dengan matang,
Mustahil, apakah pelaku menggunakan sarung tangan dalam aksinya, tidak,tidak mungkin tersangka menggunakan sarung tangan, karna itu akan membuat dirinya mudah di curigai. Lantas trik apa yang pelaku gunakan!, pada tas korban terdapat alat kosmetik yang begitu banyak, mengingat perkataan Novie dan Nadia mereka membeli barang-barang ini untuk kegitaan arisannya.
ah! Undian..!! mereka akan mengadakan undian dengan perlengkapan kosmetik itu, dengan kata lain, jika memang akan di undi berarti akan ada 1 buah lipstik, 1 buah bedak bubuk, 1 buah parfum, untuk hadiah pemenang, dan lagi Nadia berkata acara ini telah berlangsung dua minggu yang lalu dengan kata lain ini adalah undian yang ketiga dalam acara mereka, tepat tiga minggu setelah acaranya berjalan.
Aku masih harus mencari bukti lain terkait perlengkapan kosmetik yang berada pada tas korban, aku merasakan ada sesuatu yang janggal pada perlengkapan kosmetik itu, namun mengapa terasa sulit untuk mengungkapkannya.
Waktu kian berlalu, detik yang berjalan seakan di penuhi kabut hitam yang menyelimuti mistery di balik kematin Amanda. Hingga saat ini aku masih belum pasti dengan kasus ini, meski aku memiliki satu dugaan dan kecurigaan, namun belum aku temukan bukti nyata yang bisa memperkuat dugaanku ini.
Tak lama terlihat seorang Petugas pria dengan catatan di lengannya menghapiri Petugas yang sedang memeriksa di sekitar meja korban,
"Lapor, kami telah memeriksa serpihan gelas yang di gunakan korban, terdapat kandungan racun senyawa Kalium Sianida pada tepi gelasnya." ujar Petugas yang baru tiba itu.
Sejenak aku terdiam memikirkan perkataan Petugas yang baru tiba di TKP itu, dan tak sengaja pandanganku tertuju pada sisi lantai dekat dengan kursi korban, "Ini.. Serpihan kaca, namun ketebalannya berbeda dengan serpihan gelas yang aku temuka sebelumnya."
Seketika aku terperangah akan gambaran yang baru aku dapatkan tentang cara pelaku menggunakan racun itu.
Ah!! jangan-jangan, itu kah cara yang di gunakan pelaku, bukan air yang beracun, namun air yang membasuh racun, kini aku mengerti mengapa ada parfum yang menyengat, makeup yang di gunakan, seorang pria yang datang dan pergi, serpihan kaca yang baru aku temukan, semua ini tidak lain hanyalah permainan dari sang pelaku.
Pandanganku melesat kuat kearah Novie dan Nadia, perlahan aku dapat membaca trik yang di gunakan tersangka, namun aku tidak bisa memastikan siapa jati diri tersangka untuk saat ini.
Terlihat Petugas sedang menanyai Novie dan Nadia di meja lain yang sedikit jauh dari meja Tamara berada. aku harus bergegas mencari bukti yang dapat memperkuat analisaku.
Sekilas aku terfikir akan sesuatu yang ingin aku buktikan terkait trik yang di gunakan oleh pelaku, aku menoleh kearah Tamara yang sedang duduk seorang diri dengan handphone di lengannya, aku berjalan menghapiri Tamara, dan duduk tepat di hadapannya,
"Hye, Tamara, aku ingin mencari tahu sedikit tentang bermakeup," ujarku yang membuat wajah Tamara nampak kaget dan bingung.
"a-Haha, apa Riu sudah bosan menjadi pria?" jawab Tamara malah tertawa dan mengejekku.
"Ssstttt, jangan keras-keras, a-anu, hm, bukan-bukan, tidak seperti itu maksudku," balasku sambil menahan tawa Tamara. Aku tidak ingin jika tersangka mendengarnya, dan menghilangkan bukti kejahatannya.
"Lantas apa yang kamu ingin tahu tentang makeup Riu?" balas Tamara dengan nada sedikit berbisik.
"Tentang lipstik, dan bedak bubuk, apa yang di rasakan jika bibir menggunakan lipstik? dan apa bedak yang di kenakan pada wajah menimbulkan aroma yang tercium dengan jelas?" tanyaku pada Tamara dengan nada rendah.
"Tergantung lipstik apa yang di gunakan, mungkin hanya terasa sedikt tebal pada bagian bibir, untuk bedak jelas akan terasa wangi tergantung dari bedaknya," Tamara menanggapi dengan nada rendah.
"Lipstik yang melekat pada bibir, apakah memiliki rasa tersendiri?" tanyaku kembali.
Mendengar perkataanku Tamara seakan sedang mengingat sesuatu,
"hem, selama lipstik itu memiliki lebel Food Grade, maka tidak akan masalah jika tertelan, biasanya lipstik seperti itu memiliki rasa tersediri. Lho.. Riu malah pergi, huh dasar Riu, tidak sopan,"
Aku beranjak dari dudukku, meninggalkan Tamara begitu saja yang sedang berbicara, aku menghampiri sebuah meja kosong dan duduk pada kursi yang tepat berada di belakang meja Novie dan Nadia yang sedang di mintai keterangan oleh seorang Petugas wanita, alasanku hanya untuk memdengar apa yang mereka jelaskan pada Petugas, dan mencari titik lemah yang akan membuka siapa pembunuh di balik kasus ini.
Terimaksih, Tamara, berkat kau, kini aku mengerti bagai mana pelaku menggunakan racun tanpa di sadari orang lain, hanya perlu satu bukti lagi untuk mengungkap siapa kah Blak Shadow di antara Novie dan Nadia.
Aku terdiam untuk mendengar perkataan Novie dan Nadia yang sedang memberikan keterang pada seorang Petugas wanita yang tepat berada di hadapan mereka.
"Selain ingin bersantai, apa ada hal lain yang kalian bicarakan?" tanya Petugas pada Novie dan Nadia
"Selain berbagi cerita tentang keseharian Kami, kami juga membicarakan arisan yang kami adakan," ujar Novie pada Petugas wanita.
"Arisan? arisan seperti apa itu?" jawab Petugas wanita kepada Novie.
"Aku, Novie dan Amanda sepakat untuk membuat arisan perlengkapan kosmetik yang telah berjalan sejak dua minggu lalu, karna barang yang kami impor baru tiba hari ini, jadi kami berencana mengundi arisannya hari ini," terlihat Petugas wanita itu sedang memikirkan sesuatu mendengar perkataan Nadia,
"Perlengkapan apa saja yang kalian jadikan bahan untuk hadiah undian, dan apa saja yang telah kelian pesan?" tanya Petugas dengan pandangan mengarah pada Nadia dan Novie.
"Kami memesan, Satu lipstik 'Sara Happ Lip Scrub' Satu parfum 'The Bolt of Lightning'
Satu bedak bubuk padat 'Chanel Poudre Universelle Compacte' hanya itu saja perlengkapan yang kami jadikan hadiah arisan," jawab Novie pada petugas yang memandang kearahnya.
Satu bedak bubuk padat 'Chanel Poudre Universelle Compacte' hanya itu saja perlengkapan yang kami jadikan hadiah arisan," jawab Novie pada petugas yang memandang kearahnya.
"Apa saat kalian berbincang ada sesuatu yang aneh terhadap Amanda?" tanya Petugas.
"Kami tidak merasa ada yang aneh pada Amanda, ia hanya mengeluh tidak cocok dengan lipstik barunya." jawab Novie dengan singkat
"Mengapa bisa merasa tidak cocok, kamu tau alasannya?" tanya Petugas memandang Novie.
"Mungkin karna Amanda telah terbiasa dengan lipstik yang ia gunakan, karna itu ia merasa tidak cocok dengan rasa lipstik lainnya." jawab Novie.
Tidak cocok yha hem,hem..
"Sebelum Amanda meminum jus miliknya, apa ada ciri aneh pada gelas atau pada jusnya?" tanya Petugas
"Kami tidak memperhatikannya, karna saat itu Novie sedang memintaku untuk mencoba parfum barunya," jawab Nadia."
"Apa kalian pernah ada masalah dengan salah satu pekerja di kafe ini?" kembali Petugas menanyai Novie dan Nadia.
"Aku rasa tidak, bahakan kami tidak mengenalnya sama sekali," jawab Nadia.
"Baiklah, data kalian akan kami perdalam lagi, namun siap jika suatu waktu di mintai keterangan lagi," kata Petugas wanita sambil beranjak dari duduknya.
"Kapan pun itu kami siap untuk di mintai keterangan," jawab Novie.
"Jika seperti itu, mau kah menjawab beberapa pertanyaanku?" sekilas pandangan Novie, Nadia dan Petugas Wanita berpaling kearahku.
"Kamu lagi, apa urusannya denganmu?" ujar Novie dengan pandangan sinis melihat kearahku.
"Riu Aldebaran, anak dari kepala inspektur, benar?" perkataan Petugas yang membuatku sedikit terkejut, karna mengenal identitasku.
"I-iyha, hanya kebetulan saja, aku dan Tamara sedang berada di kafe ini," jawabku sedikit canggung.
"Kau juga yang membantu membongkar trik pembunuhan terhadap seorang gadis yang tergantung di kamar villa, benar?" mendengar perkataan Petugas itu membuat aku bertanya-tanya, siapa Petugas wanita ini.
"na-nah, Sebaiknya kita membicarakan tentang kasus yang terjadi di kafe ini," jawabku
"Baiklah, tidak ada salahnya mendengarkan penuturanmu, mengingat kau yang pertama mendekat pada tubuh korban, apa yang kau tahu tentang kasus ini," ujar Petugas wanita, ia kembali duduk pada kursinya.
"Saat aku mendengar suara korban, aku segera berlari menghapirinya, dan aku mencium aroma Almoad pada serpihan gelas yang korban gunakan," ujarku pada petugas wanita, di iringin Novie dan Nadia kembali duduk pada kursinya.
"Hasil penyidikan awal, memang di gelas korban terdapat kandungan racun Sianida, butuh waktu untuk memastikan sumber racun itu berasal, entah pada air, atau pada tepian gelas korban," jawab petugas wanita dengan mata melihat pada sebuah buku laporan.
"Racun bukan berasal dari jus yang korban minum atau pun dari tepian gelasnya, jika kasus ini tertunda maka tersangka memiliki waktu untuk melenyapkan bukti kuat yang ada padanya," perkataanku membuat petugas wanita sedikit terkejut.
"Maksudmu, air dan gelas yang di gunakan korban tidak beracun?" jawab petugas wanita.
"Tentu saja tidak, jika tersangka menaruh racun pada jus korban tentu itu tindakan yang ceroboh, dan mungkin korban akan menyadarinya,"
"Lalu cara apa yang pelaku gunakan?" jawab petugas wanita menanggapi perkataanku.
"Hanya ada satu cara yang dapat di gunakan oleh tersangka," kataku "cara itu dengan memanfaatkan benda yang dapat menyentuh bibir dengan merata."
Petugas wanita terkejut dan beranjak dari duduknya, ia menyadari akan sesuatu.
"Li-lipstik, mungkinkah!!" ujar petugas wanita, ia lantas bergegas menuju petugas lain yang sedang memeriksa area dekat meja korban.
"Lapor, saya memiliki infomarsi yang perlu di uji," dengan tegap petugas wanita itu menanyakan pada seorang petugas dengan buku pada lengannya.
"Infomarsi apa yang ingin kau dapatkan?" jawab petugas pria, dengan melihat pada buku laporannya.
"Saya ingin memastikan apakah terdapat kandungan racun pada salah satu lipstik yang berada di dalam tas korban?" dengan tegak petugas wanita itu berbicara.
"Team Forensik baru memeriksa racun pada gelas yang di gunakan korban, hanya baru memerisa sidik jari pada barang-barang yang terdapat pada tas korban." ujar seorang petugas pria.
"Yha, memang akan sulit mengetahuinya jika hanya melihat sekilas, dan lagi aroma dari Kalium Sianida hampir sama dengan aroma kacang Almond, dan itu akan tersamar oleh aroma pada lipstik yang memiliki aroma vanilla,"
Mendengar ucapanku Seorang petugas pria menatap kearahku, "siapa kau?"
"Pemuda ini Riu Aldebaran, ia yang membantu memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di villa tiga bulan yang lalu," ujar petugas wanita.
Aku cukup beruntung karna ada yang mendukungku kali ini, mungkin akan mempermudah mecari bukti sesuai analisaku.
Aku mendekat pada meja korban, memandang tajam kearah tas yang berada di atas kuris tepat di sisi kanan tubuh korban, "bisakah aku melihat barang bawaan yang berada di dalam tas korban?"
"Tidak masalah, akan kami perlihatkan, namun tidak untuk di sentuh," petugas saling menatap, dan menganggukan kepalanya.
Seorang petugas pria berjalan mendekat pada meja korban, dengan sarung tangan putih yang ia kenakan lantas mengambil tas yang berada di sisi tubuh korban dan mengluarkan barang yang terdapat di dalam tas yang ia pegangnya.
Isi pada tas yang kini tercecer di atas meja tepat di hadapanku dan dua Petugas yang mendampingiku, isi tas itu terdiri dari: Dua Buah lipstik bermerk 'Sara Happ Lip Scrub' dan dua bedak bubuk, dua buah parfum, satu buah handphone, dompet, dan tisu basah.
Pandanganku tertarik pada dua buah lipstik yang berdiri sejajar di atas meja, aku mulai dapat tersenyum, kini analisaku tidak diragukan lagi, "Ternyata benar, itu yang di gunakan tersangka."
"Jika kita perhaikan pada dua lipstik ini, ada satu lipstik yang terdapat embun pada tutupnya," ujarku "seperti yang kita tahu Kandungan Sianida jika terkena lembam ia akan menguap dan kemudian larut, namun lembam pada lipstik tidak cukup kuat untuk membuat Sianida larut menjadi cair hanya akan membuat Sianida menguap dan mengendap pada tutup lipstiknya."
Mendengar penuturanku, petugas melihat tajam kearah dua lipstik yang sejajar rata di atas meja yang aku pandangi dengan tajam,
"A-ada," ujar seorang petugas yang juga melihat embun yang aku maksudkan "seger panggil Team Forensik untuk melakukan uji terhadap ketiga lipstik ini," tegas petugas pria memerintahkan seorang petugas lain.
Petugas pria menoleh kearahku,
"Lantas bagai mana tersangka bisa menaruh racun pada lipstik itu."
"Lantas bagai mana tersangka bisa menaruh racun pada lipstik itu."
"Tentu tersangka telah merencanakan aksinya denga matang-matang," jawabku "sebelum bertemu dengan korban, tersangka terlebih dahulu menaburi racun Sianida kedalam lipstik yang telah ia siapkan, setelah itu tersangka memasukan lipstik kedalam kotak kado yang telah ia buat agar tidak tertukar dengan lipstik miliknya."
Mendengar penuturanku, Petugas memliki sudat pandang yang sama denganku.
"Berarti, yang bisa melakukannya hanya orang yang berada dekat dengan korban." ujar petugas pria menjawab, dengan pandangan menuju kepada Novie dan Nadia yang tengan terdiam duduk di kursinya.
Petugas pria berjalan melewatiku, mendekat kepada Novie dan Nadia, aku dan seorang petugas wanita mengekorinya.
"Kami menemukan racun pada lipstik korban, apa kalian tahu akan hal itu?" tegur petugas pada Novie dan Nadia yang lantas duduk di depannya.
"Aku tidak tahu jika lipstik yang Amanda pesan menggandung racun, karna kami membelinya di internet," ujar Nadia dengan wajah yang membingung.
"kami telah di intrograsi, memberika infomarsi yang kami tahu, lantas biarkan kami pergi, aku teroma dengan kejadian yang terjadi pada teman kami, ingin menenangkan fikiran" cetus Novie pada petugas yang berada di depannya.
"Sebelum itu aku ingin bertanya kepada Novie dan Nadia," tanyaku "siapakah pria yang datang dan pergi 15 menit sebelum Amanda meregang nyawa?"
"Ketika kami akan memesan perlengkapan make up untuk hadiah undian, ada temanku yang lain menitip untuk di pesankan juga, pria yang datang itu hanya kurir pengantar pesanan yang tiba bersama pesanan kami," ujar Novie
"Apakah barang itu lipstik?" jawabku
"Tentu saja bukan, teman Kuliahku hanya membeli bedak bubuk," balas Novie
"Apa Nadia melihat ketika kurir itu mengambil barangnya?" ujarku, "apa barang itu di bungkus kotak kado?"
"Aku tidak terlalu memperhatikannya, sekilas terlihat seperti kotak yang rapih, dan besarnya sebanding dengan kotak bedak bubuk," jawab Nadia
"Dengan kata lain, kau tidak tahu barang apa yang terdapat pada isi kotak itu yha," ujar petugas wainta yang berdiri di sisiku, Novie hanya menganggukan wajahnya membenarkan perkataan petugas wanita itu.
"Apa kalian mencurugai aku dan Novie?" ujar Nadia "jika mencurigai kami tentu harus ada bukti yang kuat, tidak bisa jika hanya menuduh seperti itu," dengan nada agak meninggi.
"Yha, kau berbicara seperti itu karna yakin jika barang bukti sudah tidak berada disini," sautku dengan tenang "Tidak, bukan menuduh, tapi memang tersangka ada di antara kalian berdua" dengan sedikit senyum aku melihat kearah Novie dan Nadia yang membuat mereka terperangah terkejut.
"Jika kalian tidak bersalah maka tidak perlu cemas, tidak ada salahnya jika mendengarkan analisa dari pemuda ini," ujar petugas mengarah pada Novie dan Nadia, "silahkan teruskan Riu"
petugas menoleh kerahku.
petugas menoleh kerahku.
"Saat aku sedang berbincang dengan teman satu mejaku Tamara, seklias kami mencium wangi aroma parfum yang begituh menyengatan dari arah belakang kami, aku melihat tiga wanita dengan beberapa alat make up terdapat di atas mejanya," ujarku sedikit berjalan kearah meja Tamara, "memang aku tidak menaruh curiga pada saat itu, karna aku hanya berfikir mungkin mereka sedang memebicarakan peralatan make up," aku kembali berjalan mendekat meja Novie dan Nadia, "namun jika di kaitkan dengan apa yang terjadi selanjutnya jelas itu bukanlah hal yang biasa."
"Tidak biasa?" ujar petugas melihat kearahku.
"Yha, itu hanya trik agar si pelaku dapat menjalankan aksinya," jawabku dengan menyodorkan lipstik yang aku pinjam dari Tamara, "Ingin mencobanya? ini rasa vanila."
Petugas wanita mengambil lipstik itu dan membuka tutup dari lipstik yang aku berikan padanya.
"Jangan-jangan!! ini.." petugas wanita menyadari akan sesuatu dari lipstik yang ia pegang.
"Yha, pelaku hanya tinggal memberikan lipstik yang sebelumnya telah di taburi racun Sianida kepada korban, dengan aroma vanilla tentu korban tidak akan curiga jika lipstik yang akan ia gunakan mengandung racun yang mematikan," perkataanku membuat wajah Novie dan Nadia terkecambuk dalam cemas.
"Apa perkataan pemuda ini benar?" ujar petugas mengarah pada Novie dan Nadia, "jika benar tolong jelaskan siapa di antara kalian yang memberikan lipstik pada Amanda?" mendengar perkataan petugas seakan membuat Nadia dan Novie sulit untuk bicara.
"A-aku tidak, tidak tahu akan hal itu, aku tidak mengingatannya, yang hanya aku ingat Amanda memperlihatkan beberapa lipstik miliknya yang ia taruh di atas meja." jawab Nadia dengan nada sedikit berat.
"Aku pun tidak melihat Nadia menukar lipstik dengan Amanda, saat itu kami sedang antusias membicarakan perlengkapan make up yang kami miliki," ujar Novie.
Terlihat raut wajah petugas yang merasa bimbang dengan perkataan Novie dan Nadia, "Bagai mana jika seperti ini?" petugas menoleh kearahku, "tidak ada bukti pasti jika mereka yang menukar lipstik maut yang di gunakan korban."
"Yha, namum sebelum itu aku ingin bertanya tentang urutan pemenang undian?" ujarku dengan telunjuk menyadar pada dagu, "Mengingat perkataan kalian jika acara arisan ini telah berjalan dua minggu terakhir, itu berarti sudah ada dua pemenang undian, dan ini undian untuk yang terkhir, benar?" aku menoleh kearah Novie dan Nadia.
"Ia, bagai mana kau tahu tentang itu?" jawab Nadia "karna ini akhir dari acara arisan jadi kami tidak melakukan undian lagi."
"Jika kita ingat pada jumblah alat make up yang terdapat dari isi tas korban maka kau akan mengetahuinya," ujarku "dengan lipstik berjumblah tiga buah, parfum dua buah, bedak bubuk dua buah, dari jumblah itu sudah dapat di pastikan jika Amanda yang memegang hadiah undiannya,"
"Oh, jadi karna itu mengapa korban memiliki perlengkapan make up ganda," jawab petugas pria sambil memikirkan suatu hal, "namun mengapa hanya lipstik yang meliki jumblah tiga buah?"
"Karna memang lipstik ketiga bukanlah milik korban," perkataanku membuat raut wajah petugas nampak bingung, "pada dasarnya korban hanya membawa dua lipstik, dua bedak, dua parfum, yang mana tiga buah itu adalah hadiah untuk pemenang undian."
"Jika seperti itu maka Novie, Nadia, Amanda akan hanya memiliki tiga perlengkapan make up yang terdiri dari lipstik, bedak, parfum," petugas wanita menanggapi perkataanku.
"Dengan rincian itu akan mempermudah untuk mengungkap siapa yang telah memberi lipstik beracun itu pada Amanda, benarkan?" perkataanku membuat petugas terdegup seketika.
Terlihat petugas pria seakan sedang mengartikan perkataanku,
"Jangan-jangan, lipstiknya" ujar petutagas menoleh kearah Novie dan Nadia, "perlihatkan isi dari tas kalian!" meminta Novie dan Nadia.
"Jangan-jangan, lipstiknya" ujar petutagas menoleh kearah Novie dan Nadia, "perlihatkan isi dari tas kalian!" meminta Novie dan Nadia.
Mendengar itu Novie dan Nadia meletekan tas mereka di atas meja tepat di hadapan petugas yang memintanya, dengan satu persatu Petugas mulai mengluarkan isi tas yang di miliki Nadia yang berisi: satu buah handphone, satu buah, dompet, satu bungkus tisu basah, parfum, bolpoin, dan buku catatan, "Hanya itu" ujar petugas "kini giliran tas milik Novie."
Petugas mengeluarkan isi pada tas Novie yang berisi: satu buah handphone, bedak bubuk, pelembab kulit, parfum, lipstik, dompet, dan sebilah buku lengkap dengan bolpoin.
Raut wajah cemas nampak terlihat dari wajah Novie dan Nadia yang tertunduk berkeringat.
"Hanya Nadia yang tidak memiliki lipstik, itu berarti lipstik yang ada di dalam tas korban adalah milik Nadia," ujar petugas "bukan begitu Riu?"
Mendengar perkataan itu Nadia nampak ingin berbicara namun seakan berat untuk mengucap, hanya air mata yang mulai terlihat di kedua bola matanya.
"Yha, dengan begitu hanya Nadia yang tidak memiliki perlengkapan make up yang sama dengan Novie dan Amanda, karna perlengkapan milik Nadia masih ada pada Amanda," ujarku dengan senyum kecil.
"makusdmu, tersangka bukanlah Nadia?" ujar petugas terkejut, "Itu berarti, pelakunya adalah yang memiliki perlengkapan make up yang serupa dengan milik korban, orang yang memiliki itu hanya Novie!!" semua mata yang hanya tertuju pada Novie.
Dengan keringat yang menghiasi dahinya, mata yang begitu terkejut dengan tuduhan yang mengacuh padanya, "Mu-mustahil, mana mungkin aku bisa melakukan pertukaran lipstik dengan Amanda, sedangkan Nadia tidak melihatnya, masalah lipstik, aku memang lupa untuk membawanya."
Aku memasukan lengan pada saku celanaku, dan mengambil serpihan kaca yang aku temukan sebelumnya.
"Nadia, apa saat kalian berbicara ada sesuatu yang terjatuh?" tanyaku.
Dengan kaca kecil terhimpit pada kedua jariku, aku mencoba membandingkannya dengan tutup lipstik milik Tamara.
Mendengar perkataanku, Nadia seakan berusaha mengingat sesuatu.
"Ah, saat pelayan tiba dan menaruh pesanannya. tidak sengaja menyentuh salah satu lipstik yang berada di depan Amanda hingga lipstik itu terjatuh, dan yang mengambil lipstik itu, No-Novie."
"Ah, saat pelayan tiba dan menaruh pesanannya. tidak sengaja menyentuh salah satu lipstik yang berada di depan Amanda hingga lipstik itu terjatuh, dan yang mengambil lipstik itu, No-Novie."
Novie hanya terdiam dengan pandang kosongnya, tertunduk mendengar perkataan Nadia, dan tak lama seorang pelayan yang mendengar perkataan Novie datang menghapiri kami.
"Bukan aku yang menaruh minuman itu pada meja mereka, karna saat itu meja di penuhi dengan alat kosmetik, aku kesulitan untuk menaruh pesanannya, tapi gadis ini (Novie) yang membantuku, ia menyambut pesanan dan menaruhkannya pada meja mereka," ujar pelayan yang baru tiba di meja kami.
Novie seakan geram mendengar perkataan yang seakan memojokannya,
"Lantas kenapa jika aku yang menaruh pesanan di atas meja kami, aku yang menjatuhkannya maka aku yang mengambilnya, karna lipstik itu jatuh tepat di kakiku, wajar jika aku yang mengambilnya, kalian ingin aku yang menjadi pembunuh? apa bukti kalian menuduhku seperti ini, hanya ocehan pria bodoh ini kalian percaya begitu saja?"
"Lantas kenapa jika aku yang menaruh pesanan di atas meja kami, aku yang menjatuhkannya maka aku yang mengambilnya, karna lipstik itu jatuh tepat di kakiku, wajar jika aku yang mengambilnya, kalian ingin aku yang menjadi pembunuh? apa bukti kalian menuduhku seperti ini, hanya ocehan pria bodoh ini kalian percaya begitu saja?"
Oe-oe, siapa yang kau panggil pria bodoh, bukankah trik ini yang terlihat bodoh, huh..
Nampak petugas yang menoleh kearahku, "Hey, Riu, apa kau temukan bukti dalam kasus ini?"
Dengan senyum kecil aku menanggapinya, "Tidak,"
"Apaa, tidak katamu!!" ujar seorang petugas wanita yang berada di sisiku, bicara dengan nada tinggi, "baru saja aku mempercayai anak seorang Inspektur terkenal, ternyata sia-sia."
Seramnya expresi wajah petugas wanita ini,
"A-ah, makusdku, bukti memang tidak ada di kafe ini, yha, e-hehe," ujarku mengerutkan halis, aku menoleh kearah pelayan yang berada dekat meja kami,
"ah, paman pelayan, bukankah tadi ada seorang pria yang datang lalu pergi?"
"ah, paman pelayan, bukankah tadi ada seorang pria yang datang lalu pergi?"
Pelayan itu menaikan halis mendengar pertanyaanku,
"I-iya, ada, pria itu berpakaian rapih dan tak lama berbicara ia lantas pergi."
"I-iya, ada, pria itu berpakaian rapih dan tak lama berbicara ia lantas pergi."
"Bukankah sudah aku jelaskan jika pria itu hanya kurir yang akan mengantarkan pesanan untuk temanku," cetus Novie.
"Yha, pesanan itu berisi sebuah lipstik milik Amanda yang kau tukar dengan lipstik yang telah kau taburi racun Sianida, dan untuk menghindari pemeriksaan sidik jari pada barang bawaan kau berfikir untuk menghilangkan bukti dari TKP, karna lipstik yang berada di dalam tasmu hanya terdapat sidik jari milik Amanda," pandangku melesat tajam kearah Novie,
"lalu kau mencari cara agar menghilangkan bukti tanpa ada yang curiga sedikit pun, ya itu dengan memanfaatkan jasa kurrir untuk mengantar kotak yang berisi barang bukti berupa lipstik,"
"tapi sayang, aku telah menyadari trik apa yang kau gunakan setelah menemukan serpihan kaca kecil tepat di lantai tidak jauh dari kursimu, serpihan kaca kecil ini berasal dari pecahan tutup lipstik yang sengaja kau jatuhkan kelantai, dengan begituh kau bisa menukarnya dengan lipstik beracun milikmu, setelah itu kau hanya perlu menunggu kurir tiba dan mengirimnya kesuatu tempat untuk menghilangkan bukti yang ada, bukan begituh Novie?"
"Tapi, bagai mana jika Nadia yang menggunakan lipstik beracun itu, bukankah menjadi siasia usah pembunuhannya?" jawab petugas pria dengan menoleh kearahku.
"Nadia, bukankah tadi kau berkata sedang antusias membicarakan tentang parfum bersama Novie?"
"Iya saat itu Novie sedang bercerita pengalaman dengan parfum barunya, jadi aku tak terlalu tertarik untuk mencoba lipsik yang akan menjadi hadia undianku." jawab Nadia.
"Novie, bisakah kau jelaskan akan perkataan Riu dan Nadia?" tanya petugas pada Novie.
Terlihat seorang tetugas menghapiri meja kami,
"Lapor, kami telah menguji kandungan pada lipstik yang di kenakan korban, hasilnya positif, lipstik mengandung racun Sianida," ujar petugas yang baru tiba memotang percakapan kami.
"Terimakasih atas laporannya," jawab petugas pria yang berada di hadapan Novie, "Kau belum menjawab pertanyaanku Novie."
Diam dan membisu seakan kata-kata tak lagi bisa ia lontarkan, seorang petugas yang duduk di depan Novie mulai geram ia mengambil handphone yang ikut di keluarkan saat sedang memeriksa perlengkapan make up miliknya, "aku akan menghubungi nomer Telp yang terakhir kau hubungi, untuk membuktikan perkataan Riu."
"Tidak perlu, jika aku tidak mengakuinya pun percuma, kurir itu pasti akan membantu menemukan bukti yang di maksud oleh pria itu( Riu )," ungkap Novie dengan nada lemas, "Tiga bulan yang lalu, Amanda menghadiri pesta ulang tahunku, saat itu acara sangat menyenangkan, semua teman kuliahku datang termasuk Amanda, ia memberikan kado tepat di depan semua teman-temanku, bukan kado yang aku mesalahkan, jujur aku senang akan kehardirannya, namun semua itu sirnah, saat Amanda berkata 'Orang susah mengapa berlaga seperti orang kaya, merayakan pesta ulang tahun, oh ini aku punya kado untukmu,' yang membuat aku tambah muak, Amanda.. ia menghadiri pesta bersama kekasihku..!!" ujar Novie dengan air mata mulai mengalir mengiringi penuturannya, "dengan mesra mereka berjalan di hadapan teman-temanku tanpa rasa bersalah, hingga aku menjadi bahan perbincangan oleh teman satu kampusku yang terus membicarakan kejadian itu, harga diriku telah di rusak oleh gadis bernama Amanda,
"Karna itu kau merencanakan untuk membunuh Amanda," ujar petugas beranjak dari duduknya.
"Yha, aku menyusun rencana dengan sangat matang, dan aku juga yang mengusulkan acara undian kosmetk, si bodoh itu nampak senang mengikuti acara yang akan merenggut nyawanya, hahah.." tertawa dengan air mata, itu sebuah kepalsuan yang mengiringi langkahnya menuju jeruji besi tempat di mana ia akan merasakan arti dari sebuah harga diri.
"Terimakasih, Riu Aldebaran, sekali lagi telah membantu kami memecahkan kasus," ujar petugas dengan senyum dan lengan mengarah kepadaku
"nampaknya ada yang memperhatikanmu dengan detail, dari sejak tadi lho"
"nampaknya ada yang memperhatikanmu dengan detail, dari sejak tadi lho"
Aku menoleh kearah Tamara, "A-ah, iya aku hampir lupa akan Tamara," ujarku aku berjalan menghapiri Tamara yang sedang terduduk di mejanya.
"Hye, maaf telah menunggu lama, ingin berpindah kafe?" tanyaku pada Tamara,
"Lipstikku, kembalikan hem" balas Tamara dengan tangan menjulur kearahku "tidak usah Riu, sebaiknya kita pulang saja."
waah. niat bersama dengan Tamara kini terbuang siasia, hhuft.
"oke, aku akan mengantarmu pulang."
Langkahku dan Tamara meninggalkan ruang kafe yang menutup kasus yang terjadi, kami kembali di hadapkan dengan padatnya kendaraan yang mengiringi perjalanan kami.
"Berlaga Detective, lihat akhirnya kita terjebak kemacetan yang panjang," ujar Tamara sedikit menggerutu "Riuu...!!!!"
Nyahaha...
"Setidaknya kita bisa berbincang lebih lama"
"Setidaknya kita bisa berbincang lebih lama"
(Kasus Di Tutup)
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.
Daftar Isi:

