Home » » Detective Riu Aldebaran - Mistery Dingding Berdarah (Bab 01)

Detective Riu Aldebaran - Mistery Dingding Berdarah (Bab 01)


"Selamat siang, Kembali lagi dengan kami di Hot News, berita kali ini datang dari seorang pemuda yang menjadi perbincangan hangat Netizen di sosial media akhir-akhir ini, pria tersebut berhasil membantu kepolisian dalam memecahkan kasus pembunuhan terhadap seorang gadis..," Suara TV.
Kring.. kring..
Suara handphone merubah fokusku, aku lantas mengambil dan melihat layar handphone,
"Tidak biasanya ayah Telp," aku lantas menerima panggilan yang ternyata dari ayahku.
"Hallo Riu, ayah sudah melihat berita yang memuat tentangmu, aku sangat bangga padamu," kata ayahku.
"I-iyah, terimaksih, aku hanya membantu sedikit kok," jawabku, "oh, tidak biasanya Ayah telp, ada sesuatukah?"
"Iya Riu, aku ada kasus yang menarik untukmu, sudah beberapa detektif yang menyelidiki kasus ini tapi belum juga membawakan hasil, aku ingin memintamu untuk menyelidiki kasus ini, Ayah harap kamu mau menerimanya," aku merasa bahagia sekali mendenger kata-kata ayah, akhirnya aku bisa di andalkan olehnya.
"Tentu saja aku akan menerima kasus itu," kata aku penuh semangat.
"Sebaiknya kamu segera kekantor Ayah untuk dapat info detail pada kasus ini,"
"Baik, aku akan segara kesana Yah," panggil berakhir.
Hari ini aku sangat bersemangat untuk memecahkan kasus yang di berikan Ayahku, tak ingin membuang waktu, aku lantas mempersiapkan diri dan bergegas menuju kantor Ayahku.
Aku memacu mobil yang aku kendarai di bawah teriknya matahari, beruntung saat ini jalan tidak sedang sesak mempermudah aku dalam perjalanan.
Tepat pukul 11:45 aku tiba di depan lahan parkir kantor Ayahku yang berada di lantai bawah gedung, terlihat petugas berjaga disetiap pintu masuk, aku berhenti sejenak di depan portal masuk yang tertutup.
"Selamat siang," kata petugas dengan hormatnya, aku membuka kaca mobilku, "Perlihatkan tanda pengenel?" kata pria kekar yang berjaga di portal masuk, ia mengenakan seragam petugas dan romi hitam lengkap dengan senjata Machine Gun yang di pegangnya.
Aku memberikan kartu identitasku padanya, dan terlihat petugas lain sedang memeriksa setiap sudat pada mobilku.
"Oh, silahkan masuk, maaf menunggu lama, demi keamanan," kata petugas yang memegang identitasku, ia memberikannya kembali dan membuka pintu portal yang menghalangi mobilku.
Hawa panas dan pengap terasa di ruangan ini, cahaya hanya bersumber pada lampu yang berada di langit-langit. Aku berjalan menuju sebuah pintu kaca yang berada di ruang parkir untuk masuk kedalam gedung.
Terasa sejuk dan nyaman setalah aku melewati pintu masuk kaca, beberapa petugas yang kadang melirik kearahku, mungkin mereka merasa asing.
"Riu?" suara wanita terdengar menyapaku. Aku menoleh pada suara itu dan melihat seorang petugas wanita berambut bondol, kulit putih, mendekat kepadaku.
Sekilas aku teringat pada seorang petugas wanita yang memecahkan kasus di kafe bersamaku. Dia tidak terlalu tua dariku, "i-iyah, hehe," aku sedikit cangkung di tempat ini.
"Pasti inging menemui Ayahmu? oh ia, namaku Hilda, bertugas sebagai penyidik, aku antar keruangan Ayahmu" ia memanduku keruangan Ayah.
Karna baru pertama kali aku masuk kekantor pusat, aku agak sedikit gerogi dan tidak tahu di mana ruangan Ayahku berada.
Aku terus membuntuti Hilda yang berjalan di depanku, kami menaiki lift menuju lantai 12 yang menjadi lantai teratas, kami kembali berjalan menyusuri kantor hingga terlihat satu ruangan yang sangat berbeda.
"Ini ruangan Ayahmu, sepertinya sedang ada rapat di dalam," kata petugas Hilda, ia lantas mengetuk pintu kaca ruangan itu.
tap!! tap!! tap!!
kreeet...
"Selamat siang pak, maaf menggu, Riu sudah tiba." Hilda membuka separuh pintu kaca ruang, aku hanya berdiri dengan gerogi.
"Segara suruh ia masuk, aku sudah menunggunya," terdengar suara ayah di dalam ruangan. Aku mengangkuk pada Hilda mengisyaratkan terimakasi lantas masuk kedalam ruangan.
Sesaat aku masuk ayah menyambutku dengan senang, terlihat tiga pria kekar berjas lengkap dengan dasi yang tengah duduk di sofa, ada banyak bertas berkas terletak di atas meja yang berada di depan sofa.
"Ini Riu, anakku" ayah memperkenalkan aku kepada tiga pria yang sedeng terduduk melihat kearahku, mereka menyambutku dengan senyum.
"Jika semua telah berkumpul, sebaiknya kita langsung kepermasalahan," kata ayahku sambil mengajak duduk di sofa.
Semua wajah sudah nampak serius menandakan ini bukan kasus yang mudah. Ayah mengenlkanku pada ketiga orang yang berada di depanku.
"Kenalkan, yang di samping kiri Inspektur Rian usia 32 tahun,
dan yang di tengah, Inspektur Dika usia 39 tahun,
yang di samping kanan Inspektur Handoko 41 tahun," kata Ayahku, aku memberi salam dengan anggupan dan senyum, "ketiga inspektur ini yang akan menemanimu menyelidiki kasus, meski aku tahu kau cerdas, namun bagaimanapun juga kau tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk terlibat langsung dalam kasus ini," tambah Ayahku yang membuat aku merasa semakin canggung.
Meraka memiliki tinggi skitar 170cm, berambut pendek, pakaian jas lengkap dengan dasi, hanya Insgektur Dika yang memiliki perut yang agak gemuk.
"Tepat pada tanggal 12 Juli 2016 telah di ketemukan mayat seorang penulis novel yang berinisial R.H," Ayahku menjelaskan dengan memperlihatkan beberapa foto korban yang berada di atas meja, "R.H, di temukan sudah tak bernyawa di ruangan kerja lantai empat di Villa milik kakeknya, penyebab kematian karna dehidrasi yang di alami korban, di perkirakan korban terkunci lebih dari empat minggu di dalam ruangan kerjanya, hingga akhirnya tewas."
"Apa hanya R.H yang menempati villa?" jawabku.
"Setelah sang kakek tiada, villa itu di wariskan kepada empat cucunya, mereka kevilla itu jika ada suatu pekerjaan atau sekedar pertmuan keluarga." kata Inspektur Dika menjawabku.
"Menurut kesaksian seorang pekerja kebersihan, hanya empat orang termasuk korban yang kerap datang dan pergi." tambah inspektur Rian.
Aku berfikir sejenak agar dapat mengerti akan kasus ini, "korban di temukan pada ruang kerja, apakah hanya R.H yang dapat menggunakan ruangan itu?"
"Semua pewaris memiliki hak untuk masuk kesemua ruangan, termasuk ruangan kerja yang di gunakan R.H, kempat orang itu memegang kunci pada setiap ruangan, hanya kamar tidur mereka masing-masing yang tidak memiliki kunci ganda, namun sayangnya tidak ada satupun dari ketiga pewaris yang datang kevilla di bulan kematian R.H, walau ada pekerja kebersihan tapi ia tak berani jika masuk tanpa ijin pemilik villa," ujar inspektur Handoko.
"Sebaiknya kita menuju kelokasi untuk detail lebih pastinya, agar lebih mudah di mengerti," saran Inspektur Dika.
Kami sepakat dengan sarannya, karna akan sulit di mengerti jika aku tidak melihat tempat kejadian secara langsung, nampaknya ketiga Inspektur ini telah melakukan penyidikan sebelumnya.
"Semoga kali ini kalian berhasil menemukan kebenaran di balik kematian R.H, karna sudah hampir satu tahun berlalu namun tidak ada dugaan yang tepat, hingga kasus itu di tutup dengan dugaan kecelakaan" kata Ayahku beranjak dari duduknya bersama aku dan ketiga inspektur.
Kami bergegas meninggalkan ruang Ayahku, nampak petugas yang berada di kantor ini memberi sikap hormat setiap kali berpapasan dengan inspektur Dika, Handoko dan Rian, menyenangkan sekali berdampingan dengan mereka.
Setibanya diruang parkir kami menaiki mobil sedan berwarna hitam yang berkilaukan cahaya lampu yang berbaris di langit-langit ruang parkir. masih terasa pengap disini, sangat berbeda ketika aku berada di dalam kantor yang terasa sejuk.
Kami lantas masuk kedalam mobil yang terparkir rapih dan aku duduk di kursi belakang yang bersebelahan dengan Inspektur Rian.
"Aku telah membaca tentangmu yang tersebar di media, sungguh tindakan yang cerdas untuk membantu petugas, usut punya usut, ternyata kau anak dari Kepala Ispektur kami, hahaha, sungguh sempitnya dunia ini." kata inspektur Rian menepuk bahuku, aku hanya tersenyum mendengarnya.
Bip!! bip!!
Hanya dua kali kelakson saja yang di bunyikan inspektur Handoko untuk melewati portal parkir, penjaga yang bertugaspun nampak memberi sikap hormat padanya, tidak seperti saat aku masuk yang tertahan hampir lima menit untuk melakuan pemeriksaan pada mobilku.
Aku berfikir mungkin lebih baik waktu di perjalanan ini aku gunakan untuk mencari infomarsi tentang kasus ini, bagaimanapun juga aku terasa tertinggal di belakang mereka.
"Lantas apa saja yang di temukan di TKP?" tanyaku membuka topik.
"Di dalam ruangan R.H tidak terlalu banyak barang, bahakan nampak kosong, mungkin karna saat itu R.H sedeng belajar melukis, tak ingin cat lukis mengenai novelnya jadi ia memindahkan semua novel beserta lemarinya yang kini tersandar di depan ruangan yang di gunakan R.H," kata Inspektur Dika yang sedikit menoleh kearahku.
"Selain itu, di dalam ruangan di temukan kaleng Spray berwarna merah, dan papan lukis lengkap dengan bangku," tambah inspektur Rian, aku hanya terdiam mencoba menangkap sesuatu dari perkataan Inspektur Rian dan Dika.
Mobil terus melaju melintasi jalan tol yang terbuka tanpa kemacetan, aku memandang keluar jendela yang berada disisi kananku, gedung dan kendaraan menjadi latar belakang yang menemani perjalanku, tak henti aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus ini hingga termakan waktu yang cukup lama, rasa penasarenku membuat aku ingin bertanya,
"faktor apa yang membuat kasus ini terasa berat?"
"Petugas daerah telah menutup kasus ini dengan dugaan korban tewas akibat kecelekaan, meski dari keluarga R.H nampak keberatan dengan keputas itu, namun tak adanya bukti yang menunjukan korban tewas karna dibunuh membuat keluarga menerima kenyataan bahwa R.H tewas karna kecelakaan," jawab Inspektur Rian.
"Kecelakaan?" jawabku berpaling dari jendela.
Mendenger perkataanku inspektur Handoko yang sedang mengemudi angkat bicara,
"yha, karna terdapat patahan kunci yang tersangkut pada lubang pintu, membuat R.H terperangkap di dalam ruangan, hanya ada pentilasi udara yang berada disudut atas yang tidak bisa terjangkau, di tambah tidak ada jendela pada ruangan kerja R.H."
"Kaca pada lubang pentilasi pun telah pecah, mungkin R.H memcoba memberika tanda jika ia terperangkap, namun usahanya siasia, karna lokasi villa berada di tempat yang terpencil terisolasi dari aktiftas sosial," tambah inspektur Dika.
"Enam bulan terakhir kami menyelidiki dan mempelajari ruangan korban tetap saja tidak membawakan hasil, tidak ada sidik jari lain selain milik korban di lokasi," kata Rian.
Benarkah ini kasus kecelakan?
"Apa yang membuat kasus ini kembali di buka?" tanyaku.
"Sebenarnya Ayahmu yang meminta kasus ini untuk kembali di usut, karna menurutnya ada sesuatu yang ganji di balik kematian R.H, yha walau kami memandang kasus ini murni terjadi karna kecelakaan, perintah atasan tetaplah harus di kerjakan," balas inspektur Dika di akhiri tawa Rian dan Handoko.
"Mungkin Ayahmu ingin kasus ini dilihat oleh sudut pandangmu, mengingat perkataan ayahmu 'Semoga kali ini kalian berhasil menemukan kebenaran' padahal sebelum ini kami telah menyelidikinya, dan sepakat jika kasus ini murni kecelakaan," kata Rian, Aku tersenyum menanggapin perkataannya.
Sampai saat ini aku masih belum mengerti akan kasus yang ada di hadapanku.
"Mungkin R.H depresi dengan apa yang ia kerjakan tak kunjung membawakan hasil, R.H yang geram hendak keluar ruangan, emosinya yang tinggi membuat R.H tidak fokus hingga ia memutar kunci kearah yang salah dan membuat gagang kunci patah," ujar inspektu Handoko.
Aku terdiam mencoba menakap sesuatu dari penuturan inspektur Handoko, "kunci yang patah?" aku mengulang perkataan dengan ragu.
"Yha, selain kuncin yang patah ada pula dingding berlumurkan cairaan mengering berwarna merah yang hampir memenuhi bagian dingding, dan di lantai terdapat dua jenis warna cet putih dan hitam yang nampak berhadapan," kata inspektur Dika.
Aku tersenyum lebar mendengar perkataan Inspektur Dika dan Handoko.
"Yhe, kenapa malah tersenyum?" tegur Rian menaikan satu halisnya.
"Semakin sulit teka teki di ungkap, maka, semakin membuatku ingin mengungkapnya," perkataanku sedikit membuat bingung ketiga inspektur saling menoleh.
Roda terus berputar seiring waktu yang kian berjalan. Jam menunjukan pukul 14:24. Kami pun tiba di sebuah desa kecil di daerah Bandung.
"Apa sudah sampai?" kataku melirik kesekitar.
"Belum, setelah melewati desa ini kita akan tiba di lokasi," jawab inspektur Handoko.
Jalan yang masih berbatu dengan persawahan yang luas, rumah penduduk nampak sederhana merata, aku membuka jendela mobil untuk menghirup udara segar.
Selang beberapa menit aku melihat sebuah bangunan megah, nampak seperti kastil tua namun masih sangat terawat.
"Akhirnya kita tiba di Villa yang kita tuju," kata inspektur Handoko menunjuk kearah villa.
Langit yang menghitam, dahan pohon yang bergoyang oleh angin kencang sekaan cuaca buruk yang menyambut kedatangan kami.
Tin!! tin!!! 
Mendengar kelakson berbunyi, seorang pria paruh baya lantas membuka pargar besi dan mempersilahkan kami masuk.
Pukul 15:00 kami tiba di Villa R.H, aku lantas keluar dari mobil yang telah terparkir, segera aku menghirup udara yang sejuk dengan rakus untuk menghilangkan rasa letih yang aku rasakan selama perjalanan.
"Ayo, kita langsung melihat TKP," kata inspektu Rian membuatku menoleh kearahnya yang tengah berjalan menuju pintu villa.
Aku membuntutinya bersama Inspektur Handoko dan Dika, terlihat pria paruh baya menghapiri kami.
"Mari saya antar," kata pria itu memandu kami masuk kedalam villa.
"Kamar korban ada di lantai empat," kata inspektur Dika menunjuk pada tangga yang berada di dalam villa.
Kami mulai memasuki villa dan naik sampai lantai empat.
Setibanya di lantai yang kami tuju, aku melihat hanya ada satu pintu kamar di lantai empat ini, tidak seperti di lantai 2 dan 3 yang memiliki kamar berjumblah empat.
Aku merasa aneh dengan pintu kamar yang terlihat terhimpit oleh dua lemari besar penuh dengan buku-buku, dan di jalan menuju kamar terasa sempit oleh kardus yang bertumpukan, langkahku terhenti seketika.
"A-aa, perasaan apa ini?" aku kembali mendapatkan firasat yang seakan menekan kuat amarahku.
"Oe Riu, ada apa?" aku menoleh cepat kearah inspektur Rian yang berada di depanku.
"I-iyha, tidak ada apa-apa," sautku dengan melanjutkan langkah.
Aku berjalan menyusul yang lain, jalan menuju kamar terasa terhimpit, disisi kiri pagar pembatas yang terbuat dari kayu berukir, dan sisi kanan terlalu banyak kardus-kardus membuat sesak untuk melewatinya, hingga aku tiba tepat di depan pintu kamar yang hendak di buka oleh pria yang memandu kami masuk.
Seketika kamar terbuka udara tidak sedap menerpa tubuhku dari dalam kamar, bau cat masih terasa di ruangan ini.
"Silahkan masuk," kata pria paruh baya mempersilahkan kami masuk,
Inspektur Dika, Rian dan Handoko mulai memasuki ruangan, dengan memandang kesetiap sudut, 
"Oe, Riu cepatlah masuk," kata Rian menoleh kearahku.
Aku melangkahkan kaki melewati pintu ruangan, namun sejenak langkahku kembali terhenti, "pe-perasaan ini lagi!!" aku merasakan sebuah firasat yang sangat tidak nyaman di ruangan ini, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Aku kembali berjalan dan mengendarkan mata kesetiap sudut ruangan, dan lagi-lagi fokusku terhenti, bola mataku membesar seketika, saat melihat  dingding yang di penuhi cairan yang telah mengering berwarna merah! "dingding ini, terlumuri!! darah!!" pandangku terpaku pada dingding merah yang berada di depanku, "tidak, tidak, ini bukan darah, terlalu sempurna jika ini darah, dan lagi di bagian bawa dingding tidak ada bekas aliran darah yang menetes," aku menoleh kearah tengah ruangan, nampak jelas lantai yang telah di warnain dengan putih dan hitam.
Aku menghampirinya dan menekuk kedua lututku,
"noda ini nampak tidak biasa! mustahil jika noda ini bukan disengaja karna bentuk segi empat yang sempurna, nampak rata bahakan ukurannya pun sama.
Aku berfikir sejenak, memandang noda pada lantai dan dingding.
"Jika di urutkan maka akan terlihat saling berhadapan pada arah dingding berwarna merah itu, noda di lantai di awali dengan warna hitam, lalu putih, dan dingding berwarna merah," aku kembali menoleh kesegala arah dan melihat lubang pentilasi di sudut atas dekat dangan langit-langit.
"Pentilasi itu yang di katakan oleh inspektur Handoko, nampak kacanya telah pecah, namun tidak rata, itu berarti disebabkan oleh lemparan benda."
"Hye, Riu," aku menoleh cepat kearah Inspektur Dika,
"jika ada yang kau perlukan katakanlah," aku hanya mengangkukan kepala padanya.
Aku mendekati lubang pentilasi tepat di bawahnya, "ah, ada bercakan di dingding?" aku mengusap yang aku temukan,
"ini noda cat yang telah mengering, mungkin kaca ini pecah karna kaleng cat yang R.H lempar."
"Ada yang kau temukan Riu?" aku menoleh kearah Rian yang menghapiriku.
"Tidak, sejauh ini aku belum menemukan jawaban yang pasti, hanya saja aku merasa aneh dengajm warna cat-cat ini," jawabku.
"Aneh?" jawab Rian memikirkan sesuatu.
"Yha, di dingding berwarna merah, dan berwarna hitam, putih yang terdapat di tengah ruangan, pertanyaanku, mengapa R.H memilih warna putih, hitam, merah? sedangan pilihan warna yang lebih mencolok justru R.H buang keluar jendela seperti, hijau, kuning, biru?" kataku membuat ketiga inspektur kembali berfikir.
Ini bukan sekedar pilihan warna, namun ini pesan kematian yang di tinggalkan R.H, dengan kata lain, R.H telah di bunuh oleh sesorang yang berada di villa megah ini.
Aku bersama tiga Inspektur yang telah tiba di villa, terus melakukan olah TKP dengan sangat mendetail pada ruangan R.H.
"Mungkin R.H melempar cat lukisnya kearah dingding yang menyebabkan cairan cat melumuri dingding," ujar inspektur Handoko, nampak ragu terdengar, menatap dingding merah.
"Bisa kita lihat cairan tidak mengalir hingga lantai, bahakan di bagian. bawa dingding nampak tidak terkena cat, besar kemungkinan R.H sengaja mewarnai dingding dengan tujuan tertentu," jawabku membungkuk di sudut dingding.
"Maksudmu, dingding ini sebuah pesan kematian?" ujar Rian, membuatku mengangguk dengan pandangan menatap dingding.
"Tapi jika ini pesan kematian mengapa tidak menulisnya? bukankah lebih mudah untuk di pahami?" kata inspektur Handoko pandangan menerawang.
Aku berjalan menghampiri pintu untuk melihat lubang kunci yang patah. Kuncinya sudah tidak ada? tapi lubang ini, terasa condong kesebelah kanan. Aku menatap lubang kunci dengan penuh fokus.
Jika R.H yang menyebabkan kunci ini patah dengan cara memutar kearah yang salah tentu lubang kunci akan nampak condong kearah kiri, bayangkan segala sesuatu yang dapat terjadi dengan lubang kunci ini. Jangan-jangan!!
Aku menoleh cepat kearah tiaga inspektur yang berada di tenah ruangan,
"Apa aku bisa melihat kedua patahan kunci?"
Mendengar perkataanku inspekturian Rian mengangkat halisnya,
"tentu bisa, tapi berupa foto," ia lantas mencari sesuatu di handphone miliknya, "ah, ini foto kuncinya, dan beberapa foto TKP saat pertama kami memasukinya," inspektur Rian menyodorkan layar hendphone kearahku.
Aku menghampiri Rian dan melihat layar handphone dengan tajam, nampak foto TKP lengkap dengan barang yang ketika itu berada disini.
mataku membesar ketika aku melihat foto ruangan yang lengkap dengan R.H yang masih tergeletak di lantai.
"Boleh aku pinjam handphonenya sebentar?" kataku pada inspektur Rian, ia lantas memberikan handphonenya.
Menyadari hal yang aneh aku kembali berjalan menghampiri pintu dengan handphone di lenganku. Aku berdiri di amabang pintu menghadap kedalam ruangan, mata ku melirik berganti dari layar handphone lalu kedalam ruangan, mencari perubahan yang bisa memperkuat dugaanku.
Tubuh R.H tergeletak kaku tepat di tengah ruangan, sungguh mengenaskan, dengan kulit putih yang mengering, leher nampak panjang, lidah menjulur seakan hendak menjilati lantai, mata yang setengah tertutup, rambut yang kusut seperti bekas terjambak dengan kuat, posisi tubuh yang menyamping nampak seperti udang yang melengkung, R.H menggunakan celana pendek berwarna putih bergaris biru, baju berlengan pendek dengan warna abu-abu yang ternoda oleh beberapa warna cat lukis pada perut dan sisinya. Ada yang aneh, mengapa semua alat lukis berada di sudut ruangan saling timpang tindih, jika R.H sedang melukis seharus papan lukis dan kursi akan pada posisi mantap dan saling berhadapan. ada kaleng spray tergeletak di lantai tepat berada di bawah lubang pentilasi dan serpihan kaca menaburi kaleng spray itu.
Aku menoleh kearah kiri, hampir aku melupakan pria paruh baya yang kini berada di sampingku.
"Ada apa dengan TKP, mengapa di bersihkan?" kataku membuat pria paruh baya menoleh, "dimana barang-barang yang saat kejadi berada di ruangan ini?" lanjutku.
"Saya yang membersihkan TKP setelah dapat permintaan dari Mr. Setiven salah satu pewaris sekaligus bosku," kata pria paruh baya mengkerutkan halis seakan mengingaat sesuatu, "tuju bulan setelah kematian Mr. Reyhan berlalu, Mr. Setiven datang kevilla ini dengan memperlihatkan selembaran kertas yang ia bawa. Isi kertas itu sebuah pernyataan jika kasus kematian Mr. Rehyan sudah di tutup dan ia berkata, 'Tidak lagi ada yang menyelidiki kematian anak manja itu, sebaiknya kau bersihkan ruangannya, karna hendak aku gunakan untuk ruang kerjaku', keesokan harinya saya bergegas membersihkan ruangan hingga seperti saat ini," nampak murung terlihat dari raut wajah pria paruh baya ini, beberapa kali ia menghelaykan nafas.
"Lantas dimana barang-barang yang ada di dalam ruangan ini berada?" tanyaku menurunkan halis berharap barang itu di simpannya.
"Saya meletakannya di gudang belakang, namun sebagian ada yang di bawa oleh petugas untuk pemeriksaan, jika ingin melihatnya saya bisa mengantar kalian,"
Aku hanya memanggut dengan berjuta fikiran yang masih berkabut. Jika benar di simpan, itu berarti pelaku memiliki kesempatan untuk menemukan benda yang bisa membokar identitasnya, walau pasti seperti itu, tidak ada salahnya untuk melihat, semoga ada petunjuk sekecil apapun.
Aku memutuskan untuk melihat sisa barang yang berada di ruangan R,H yang kini di tersimpan di gudang.
"Inspektur. Aku beranjak untuk melihat barang yang berada di gudang," seruku memberi tahu ketiga inspektur yang saling bertatap mata bertanya-tanya.
"Barang?" inspektur Rian mengulang dengan nada ragu.
"Barang yang berada di TKP yang telah di pindah," jelasku, berpaling meninggalkan ambang pintu.
Aku membuntuti pria paruh baya berjalan perlahan menuruni anak tangga dan keluar dari villa menuju kearah belakang vila.
Terlihat kamar yang berada di belakang villa dengan pintu berwarna hijau sudah usang, berkaca kotok bergagang bulat mengkilat. Lirih sura sepatu membuatku menoleh kebelakang.
"Hendak kemana Riu?" tanya inspektur Rian bersama Handoko dan Dika di belakangnya.
"Gudang pinyimpanan," singkatku melanjutkan langkah.
Pria paruh baya nampak sudah membuka pintu gudang dan berdiri di ambang pintu.
"Silahkan Tuan, saya akan menunggu disini," ujarnya dengan jari menunjuk kesuatu sudut di dalam gudang.
Aku mengendarkan pandang kesegala arah, yang nampak di dalam gudang hanya barang-barang tua berdebu yang bertumpukan tak karuan hingga meciptakan setapak jalan untuk masuk kedalam ruangan yang cukup untuk dua mobil sedan ini.
"Apa yang hendak kau cari di dalam gudang tua ini?" ujar inspektur Dika yang hendak melangkah masuk kedalam gudang.
Serentak aku menarik lengan inspektur Dika menghentikan langkahnya yang hendak melawati garis pintu masuk, "tidak, sebelum aku memeriksanya," kataku dengan pandangan tajam tertuju lantai gudang yang berdebu.
Aku menoleh kearah pria paruh baya yang nampak bingun melihatku, "siapa yang terakhir kali memasuki gudang ini?" kataku tertuju pada pria itu.
"Se-selain saya tidak ada yang masuk kegudang ini, tidak ada yang menarik di dalam sana untuk para pewaris yang kaya," jawabnya dengan senyum dan melambaikan kedua lengan di atas dadanya.
Aku menekukkan lutut memperhatikan lantai dengan sangat detail, ada debu yang tipis di antara sekitarnya, dan berulang menuju kedalam ruangan. Aku melerik kearah kaki pria tua yang tepat di sisi kananku.
"Paman? apakah selalu menggunakan sandal karet sehari-hari," tanyaku membuatnya terdegun.
"Iya, tuan, tidak cocok rasanya jika pekerja kebun menggunakan sepatu, saya tidak memiliki sepatu." jawabnya tersenyum malu.
"Ada yang kau temukan Riu?" pangkas cepat inspektur Handoko dengan membungkuk di sampingku.
"Nampaknya sudah tidak ada barang yang bisa menjadi bukti di dalam gudang ini," kataku melirik kearah lantai, "ini jejak peluku yang masuk untuk menghilangkan bukti kejahatannya."
"Apa pewaris memiliki kunci gudang ini?" tanya Rian memandang pria paruh baya.
"Gudang ini tidak terkunci tuan, hanya menggunakan kunci pada gagang pintu yang di tekan."
"Berarti siapapun dapat masuk keadalam gudang ini,"
"siapa saja yang tahu akan gudang tua di belakang villa ini?" tanya Handoko.
"Saya tidak tahu tuan, karna tidak pernah kami membahas akan gudang ini,"
Aku mulai mengikuti jejak yang hampir menyatu dengan debu hingga kedalam ruangan dan berhenti di suatu sudut yang terdapat tumpukan alat lukuis yang tergelat begitu saja di atas tumpukan barang tua. Aku terbelalak ketika menyadari tidak ada satu pun kaleng spray yang berada bersama alat lukis lainnya.
"Paman! apakah kaleng spray berwarna merah di bawa petugas untuk pemeriksaan?" seruku dari dalam gudang.
Terdengar suara berat pria yang sedikit berteriak dari arah depan ruangan,
"tentu saja tidak, saya menaruh semuanya bersama alat lukis lainnya, namun seingat saya tidak ada kaleng spray berwarna merah."
Tidak di ragukan lagi, jika ini kasus pempunuhan.
Aku berjalan dengan hati-hati keluar ruangan, "inspektur, segera hubungi semua pewaris untuk hadir disini," kataku dengan mantap, "ini kasus pembunuhan, pelakunya ada di antara ketiga pewaris itu."
Ketiga inspektur nampak tersegak ketika mendengar ucapanku.
"Dari mana kau tahu jika ini kasus pembunuhan Riu?" inspektur Rian dengan tegas dan cepat.
"Pertama, cat pada dingding berwarna merah yang di buat R.H sebagai pesan kematiannya. Kedua kunci yang patah kearah yang tidak sewajarnya dan ketiga jejak sepatu di dalam gudang, dan hilangnya kaleng spray berwarna merah," ketiga inspektur nampak berusah mengutip kesimpulan dari ucapanku.
"Lantas mengapa kau tahu jika tersangka ada di antara pewaris?" tanya inspektur Dika dengan jari menempel pada dagunya.
"Mudah saja, kita bisa tarik kesimpulan dari petunjuk yang kita dapat di dalam gudang ini, terlihat dari jejak sepatu nampak orang ini tahu betul posisi jalan yang terbentuk oleh tumpukan barang-barang tua yang mengarah kedalam, tak ada jejak yang menandakan ia kesulitan saat mencari suatu barang di dalam gudang ini, bahakan pertama kali aku melihat kedalam gudang, aku tidak menyadari jika ada celah jalan yang berbelok kesebelah kanan di sudut ruangan," kataku memasuki lengan pada saku,
"mustahil untuk orang yang belum pernah masuk kegudang ini sebelumnya, yang lebih mencoloknya lagi, aku menemukan jejak kaki yang tak bertumit di sudut ruangan setelah berbelok, menandakan kaki yang sedang berjingjit untuk menggapai seseuatu yang terdapat di atas tumpukan kardus yang tinggi, mengapa tersangka sampai susah payah kemarih hanya untuk mengambil sesuatu?"
Ketiga inspektur terlihat gelisah mencari jawaban untuk membalas pertanyaanku.
"Tapi dugaan itu masih kurang tepat untuk menunjuk tersangka kepada ketiga pewaris," saut Rian yang berjalan kekiri kekanan sesekali menoleh keatas.
"Biar aku tunjukan," kataku berbalik masuk kedalam gudang yang di ikuti ketiga inspektur.
"Gunakan meja ini untuk melihat apa yang ada di atas kardus tepat di bawah jejak kaki tak bertumit ini," untuk memperkuat dugaan aku menggeser meja berkaki empat dengan warna putih namun telah kusam oleh debu, tinggi meja ini kurang lebih sekitar satu meter cukup untuk melihat apa yang ada di dalam kardus teratas.
Inspektur Rian lantas naik keatas meja yang telah aku persiapkan, dengan jari menarik sisi kardusnya yang di iringi suara benturan kaleng dan logam.
"Tidak ada yang aneh di dalam kardus bekas mie instan ini, hanya ada dua kaleng spray, berwarna kuning, dua berwarna hijau, dan dua lagi berwarna hitam," kata Rian melirik kedalam kardus.
"Benar dugaanku," dengan senyum mata tertutup aku menghelaykan nafas lega,
"Aku masih tidak mengerti Riu?" 
"Katakan apa yang kau tahu"
"Jangan lupakan dingding berwarna merahnya?" ketiga inspektur terbelalak dengan mulut terbuka.
"Aku mengerti!!" seru inspektur Rian berada di atas meja.
"Oe, oe. Jangan sampai kau patah tulang akibat ini kawan," seru Dika yang juga mengrti apa yang aku maksudkan.
"Sampai sini aku mengerti, namun untuk apa pelaku mengambil kaleng spray berwarna merah, bukankah bisa saja ini jejak R,H yang mengambil keperluannya?" kata Handoko membuat raut wajah Dika dan Rian berubah suram.
"Jangan lupakan fakta, coba lihat berapa spray yang di bawa R.H kedalam ruangan?" kataku dengan satu jari telunjuk menunjuk pada tumpukan alat lukis,
"coba liat pada tumpakan lukisan itu, ada kaleng spray yang telah di gunakan R.H, dua spray biru, dua hitam dan dua hijau, tidak ada satupun kaleng spray bewarna merah."
"Nah, sudah cukup mengerti Pak tua?" kata Rian membungkuk di atas meja menyodorkan wajah kedepan inspektur Handoko dengan senyum mengejeknya.
"Ah, paling tidak aku selamat dari sekumpulan kecoak yang menggrayangi lengan bajumu Inspektur Rian!!" Rian meloncat dari meja, nampak sibuk dengan serangga-serangganya.
Siapa yang menggunakan spray ini, mungkinkah R.H yang menggambilnya? lantas kemana perginya kaleng-kaleng spray berwarna merah? namun jawaban yang pasti kaleng spray berwarna merah ini berkaitan erat dengan pesan kematian yang di buat R.H

Terima kasih telah membaca cerita sederhana ini. Semoga dapat menghibur Readers.
🙏 Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
Next Episode: On Going!

Popular Posts

 
Copyright ©
Created By Sora Templates | Distributed By Gooyaabi Templates