Home » » Rumah Terbengkalai 04 - Malam Penuh Cemas

Rumah Terbengkalai 04 - Malam Penuh Cemas

Malam Penuh Cemas


Malam terus berlalu, angin yang berhembus semakin dingin menusuk tulang. Kami beruntung karna sempat membuat beberapa lampu yang kini menerangi ruangan di setiap sudut.
"Lho, itu aku udah cekih,"
"Pake di dutup, bukan di denda si Ardan biar tambah mines, haha.."
Yha, kami menghabiskan malam dengan bermain Kartu Remi, cukup menyenangkan menghilangkan rasa cemas yang menggangguku.
"Bentar aku mau ketoilet, awas kalau kartuku jelek, berarti di tuker," ujar Ardan beranjak dari duduk.
Sejenak kami terdiam, menunggu Ardan kembali dari toilet.
Duarr!!! 
kami terdiam seketika dan saling menoleh, terkejut mendengar suara pukulan keras pada pintu kamar mandi.
Trangg!!! trang!!! drukk!!! suara kaleng yang terpantul di lantai dan terbentur keras pada pintu depan. Kami terdiam tanpa kata, rasa cemasku kembali terasa di hati.
Ardan kembali pada ruangan kami, dengan tawa jahilnya, "kaget ga, kaget ga," kata Ardan, "haha"
"Si kampret!" kata Arif, aku menghelaikan nafas menggelengkan kepala.
Namun selang berapa saat kami kembali bermain kartu remi. Aku di kejutkan oleh padamnya seluruh lampu yang berada di dalam rumah.
"Wha, mati lampu!!" Kata Arif. Sekejap susana berubah menjadi hening dan panik.
Aku menoleh kesegala arah dengan pandangan yang menghitam. meraba kasur mencari handphone yang aku letakan tidak jauh dari tempat dudukku. Perlahan cahaya maldm terpancar dari balik jendala memberikan kami penerangan yang redup. Aku menyalakan handphone dan menyodorkan kesekitarku, di susul cahaya handphone milik Alvien dan Ardan.
"Cek yu, mungkin MCB nya turun," kata Arif bangun dari duduknya yang di ikutin Ardan, "Hayu, aku temenin."
Mereka berjalan dengan perlahan menuju depan pintu.
Aku dan Alvien hanya duduk menunggu Ardan dan Arif mengecek MCB.
"Vien, ngarasa ada yang aneh ga sama rumah ini?" kataku pelan dan menyodorkan cahaya handphone kelangit-langit rungan. "Mungkin karna kita masih baru asing dirumah ini jadi terkesan seram, sama aku juga ngarasa kurang nyaman," jawab Alvien menoleh kekiri dan kekanan.
Trangtangg...!!! sura kaleng yang terhempas di iringi suara langkah kaki yang nampak tergesa-gesa.
Arif yang kembali terlihat begitu ketakutan.
"Oe, si Ardan! si Ardan bertingkah aneh di pinggir rumah," kata Arif dengan nafas terengah-engah.
Aku dan Alvien lantas beranjak untuk melihat apa yang terjadi. Kami berjalan dengan cahaya handphone yang aku pegang. Nampak gelap gulita di luar rumah. Aku kembali menyodorkan handphone kesegala arah di teras depan namun kami tidak melihat Ardan. "Oy, Rif, mana si Ardan," kata Alvien menoleh kearah Arif yang membuntut di belakangnya. "Si Ardan disamping rumah, itu kesitu." Kata Arif menunjuk jalan yang berada di sisi rumah sebelah kiri dari arah kami.
Aku berjalan perlahan di depan Alvien dan Arif, menyusuri sisi kiri rumah, karna sangat gelap hanya cahaya handphone yang memandu kami, aku sangat berhati-hati melangkah, masih banyak puing kayu berpaku dan Seng yang tergeletak di tanah. Hingga langkah kami berakhir di belakang rumah.
Aku menerangain sudut kiri tepat di samping pintu belakang rumah dan menemukan Ardan yang sedang diem tak bersuara, terpaku memandang sebuah pohon rambutan yang berada di perkarangan belakang.
Aku memanggilnya dengan nada rendah, "Oe, Dan, ngapai disitu," namun Ardan tak menghiraukan perkataanku, wajahnya yang datar, bola mata yang tak berpaling sedikitpun membuat aku bertanya-tanya, "kenapa ini orang."
Aku dan yang lain lantas menghampirnya. dengan matanya yang memerah, pandangan tajam tertuju kearah subah pohon yang rimbun membuat bulukudukku serentak berdiri.
Aku saling pandang dengan Arif dan Alven mengisyaratkan kebingungan kami. Menyadari hal tidak benar terjadi pada Ardan, perlahan aku mengusap dahi hingga hidung dengan telapak lenganku berharap ia tersadar. Namun itu siasia, Ardan tetap terdiam seakan terpaku oleh sesuatu yang ada di balik rimbunnya pohon rambutan.
Aku mengambil langkah cepat, menarik lengannya yang terasa dingin seperti mayat, namu ia memberikan perlawanan dengan menatap wajahku dengan sinis, "mau apa kaliannn!!" menggeram penuh nafsu.
Aku terdegub mendengarnya, suaranya terkesan seperti orang berusia sangat tua. "Vien, Rif, angkat-angkat" dalam keadaan panik kami membopong Ardan yang terus meronta-ronta tak ingin kami membawanya.
Dengan jalan yang gelap, benda tajam terasa bergesekan pada kakiku, kami berusaha membawa Ardan kembali kedalam rumah dengan susah payah.
Saat kami sudah berada di teras denpan, masih dengan Ardan yang meronta-ronta, kembail Aku, Arfi dan Alvien di kejutkan dengan sesosok bayangan yang tak jelas perawakannya lari begitu cepat dari dalam rumah menuju pagar depan dan menghilang di balik gelapnya malam.
"Hahahaha!!!! Pergii kaliaan!!!!" kata Ardan dengan nada anehnya.
Raut wajah syok nampak bukan hanya dariku, namun Arif dan Ardan nampak syok dengan apa yang baru saja terjadi. Kami meletakan Ardan pada kasur busah. "Rif, anter nyalain MCB," kataku dengan nafas yang tak teratur.
Aku dan Arif kembali kesisi rumah, karna disana tempat MCB berada. Tak berduli dengan puing, rasa panik membuat tubuhku seakan mati rasa. Aku lantas menaikan MCB yang di iringi cahaya lampu kembali menyala, masih terdengar Ardan berteriak-teriak tak karuan. "Pergiiii!! ini rumah kami!!!!" geram terdengar dari perkataan Ardan.
Aku, Arif dan Alvien tak tahu harus berbuat apa terhadap Ardan. Arif mencoba menghubungi Yudi, dengan gelisah tak menentu.
"Oe bang!! parah ini, si Ardan kemasukan, anak-anak ga tau harus gimana," kata Arif dengan handphonenya, "beneran, oh, ok, ok"
Aku dan Alvien hanya bisa memegangi kaki dan tangan Ardan yang terus menerus meronta-ronta.
"Woy, Dan, sadar dong!!," ujar Alvien terus memegangi tangannya.
Aku yang masih syok dengan bayangan hitam yang melintas di hadapan kami sewaktu di teras depan, di tambah rasa penasaran dengan apa yang merasuki tubuh Ardan seakan ada sesuatu yang mengganjal di benakku, "Apa maumu!!?" kataku dengan nada meninggi, menekan kedua kaki Ardan.
Sekeketika Ardan terdiam tak lagi meronta, kekuatan yang besar hingga Alvien tak mampu menahan tubuh Ardan yang hendak bangkit dari tidurnya.
Dengan wajah ganas, mata begitu merah, ia duduk dengan senyum sinis menatap tajam kearahku yang sedang memegangi kakinya. "Pergi kalian! atau orang ini tak akan kembali!" perkataannya dengan nada rendah namun penuh dengan acaman!.
"Kami tidak akan pergi, karna ini rumah kami," jawabku dengan tegas, "buktikan jika kau benar ada, jangan menggunkan tubuh temanku!!,"
Mendenger ucapanku, Ardan tertawa pelan, di iringi mesin air yang hidup dan mati, "hahaha!! pengecut!!"
Bermandikan bulukuduk yang tanpa henti berdiri, tak banyak yang bisa kami perbuat saat itu. Ardan yang terus meronta dan sesekali ia bernyanyi sinden entah apa aku tidak mengerti, hingga aku mendengar suara motor yang mendekat pada pintu pager. Terlihat pamanku datang dengan seorang yang bisa mengobati Ardan.
"Mana yang kerasukan?" kata pamanku yang baru tiba, "aku di Telp Yudi" ia lantas melihat Ardan yang tengah kami pegangi dan menyuruh aku, Alvien dan Arif melepasnya, "dah biarkan, lepas saja"
Lantas Ardan di obati oleh seorang yang bersama Pamanku . Aku menceritakan semua kejadian yang aku dan yang lain alami di rumah ini.
"Ya sudah, besok Paman minta untuk di adakan pengajian di rumah ini, mungkin karna belum di do'akan," ujar Pamanku mendengar pengakuan kami.
Tak lama Ardan nampak siuman, dengan wajah yang nampak meringis seakan menahan sakit pada punggungnya.
"Sudah tidak apa-apa, cuma lagi jail saja penunggu sini," ujar orang yang mengobati Ardan.
"Untuk sekarang biar paman saja yang bermalam disini, kalian pulanglah dengan motor Paman," ia melirik kesegala sudut di dalam rumah.
Aku, Alvien, Ardan dan Arif memutuskan untuk bermalam di rumah Arif yang berada di Gg. Rantai Bogor. Tak ingin membuang waktu kami lantas meninggalkan rumah itu dengan bergantian, karna hanya ada satu motor.
Tepat jam 12:25 kami berkumpul di rumah Arif, tak banyak bicara, kami lantas tidur karna terasa sangat lelah.
"Cuu.. tolong jangan rusak rumah kami cu!! nenek lapar, kemana orang yang biasa memberi nenek makan!!" seorang nenek yang terlihat berdiri membungkuk dekat meja keramik di tengah ruang dapur.
"Nenek siapa?kenapa bisa ada disini?" jawabku "rumah yang mana maksud nenek?"
"INI RUMAH KAMI!!!!" bentakan sang nenek membuat mataku terbuka.
Aku melirik kekanan dan kiri hanya tinggal aku yang berada ditempat tidur, aku meraih handphone melihat jam sudah pukul 10:15
Saat aku mengangkat pundak, terasa berat dan pusing kepala belakangku. Tak ingin memikirkan aku lantas beranjak dari tempat tidur.
Aku berjalan keluar kamar dengan tangan mengusap bagian belakang kepala, nampak sepi di rumah Arif, aku berjalan keruang tamu, dan belakang rumah, tak ada satu orangpun terlihat, "mungkin sedang dirumah Loji, mandi terus kesana," fikirku.
Usai mandi aku lantas mengeluarkan motor untuk menyesul yang lain kerumah Loji.
Bukan hanya di Jakarta, macet bermandikan panas matahari sudah biasa aku jumpai disini.
Selang satu jam aku tiba di depan rumah Loji, dari kejauhan sudah dapat terdengar alunan pengajian yang sedang berlangsung. Aku mematikan mesin motorku dan mendorongnya hingga depan rumah. Karna ruangan tamu di penuhi orang yang hadir, aku memutuskan untuk berjalan di sisi rumah untuk masuk melalui pintu belakang. Setibanya di belakang rumah terlihat Arif, Ardan, dan Alvien yang sedang berkumpul membicarakan sesuatu yang entah apa itu.
"Tuh Deni nyusul kesini," ujar Ardan yang melihatku menghapirinya.
"Parah ga dibangunin," kataku "udah dari tadi ya pengajiannya?"
"udah mau beres lagi kali, tidur mulu si, sampai ga bantuin," kata Arif, aku sedikit merasa tidak enak mendengarnya.
Aku terdegub seketika saat aku melihat kearah dapur dari balik pintu belakang, seklias aku teringat akan mimpi yang tadi aku alami, aku menyadari ada yang aneh lantas masuk kerumah dan berhenti disisi tangga menghadap kearah ruangan dapur, aku mengedarakan pandangan kearah meja keramik dan sekitarnya, "itu ada, itu juga ada, itu juga," aku terdiam sejenak, "kenapa posisi barang yang ada disini nampak sama persis seperti di dalam mimpi tadi," aku terheran-heran, tumpukan kardus Aqua kemari jelas tidak ada, dan bakul yang berisi nasi tertutup oleh kain, bahakan warna dari kain itu sama, bergaris-garis merah.
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya. 
Next Episode:

Popular Posts

 
Copyright ©
Created By Sora Templates | Distributed By Gooyaabi Templates