Home » » Rumah Terbengkalai 03 - Interaksi Astral

Rumah Terbengkalai 03 - Interaksi Astral

Interaksi Astral


Tiga bulan berlalu semenjak aku meninggalkan rumah tua bergaya khas belanda yang kini di milik bang Yudi. Entah sudah seperti apa sekarang bangunan itu. Selama tiga bulan ini aku hanya menghabiskan waktu di rumahku yang berlokasi di Cilebut Bogor. Aku hanya bermain Game Online di dalam kamar yang tak begitu luas namun cukup menyenangkan, dengan 1 unit komputer lengkap dengan soundnya aku terfokus dalam permainan Game yang begitu menantang, angin yang berhembus dari kipas angin, aroma kopi yang terendus seakan setia menemaniku.
Kring..!! kring..!! deringan handphone menggangu fokusku.
Dengan meraba handphone tanpa melihatnya, aku menjawab panggilan, "Yo, hallo" kataku, terdengar suara bising dari lawan bicaraku, samar-samar terdengar suara pria berbicara seakan menjauh dari microphone, "siap yak, berisik banget"
"Oh, Den, ini Babang," aku berhenti memainkan game dan mengecilkan volume komputerku, "gimana kabar mamah Den,"
"Baik bang, lagi di mana? bising amat" jawabku.
"Syukurlah kalau semua sehat, Babang lagi di Loji Den, lagi ngeliatin yang lagi pada ngecor,"
"Oh, udah mulai di bangun ulang yha bang," kataku.
"Gini, Babangkan tidak bisa terus-terusan disini, harus pulang ke Serang, nah si Arif di suruh mandorin ga bisa, pengen berdua sama Deni, bisa ga?"
"Oke, siap bang," aku senang karna tabunganku akan mulai terisi lagi.
"Berangkat sekarang ya Den, Babang tunggu," tak sempat menjawab panggilan terputus.
Aku lantas membersihkan diri, dan berganti pakaian, Ibuku yang menyadari aku hendak pergi bertanya "mau kemana Den?"
Dengan senyum aku menjawab, "Ketempat bang Yudi, yang di Loji Mah," (Mah=Mamah)
Aku berpamitan kepada ibu, dan pergi menuju rumah Loji.
Panas yang terasa menyengat kulit setia mengiringi laju langkahku, debu dari jalan yang terhempas angin hangat terasa menggelikan mataku.
Dua jam berlalu, setelah aku meninggalkan rumah, berjalan dengan panas, berdesakan dalam kereta, dan terhimpit penumpang lain pada angkutan umum, mempersempit jarak pada tujuanku.
Aku yang telah tiba, melihat truk molen pembawa semen tepat terparkir di depan rumah tua yang di miliki Bang Yudi, nampak air bercampur semen mengalir pada sepanjang jalan, debu semen begitu mengepul bersatu dengan angin hangat yang berhembus sunggu ini menggangu.
Aku mendekat dengan langkah memilih jalan yang becek oleh cairan semen, aku menutupi hidungku menahan agar debu pekat ini tidak terhirup. Suara bising yang terdengar dari handphone ternyata bersumber dari truk molen yang sedang beroprasi dengan selang berwarna biru memiliki lubang seukuran bola sepak ini menjulur panjang di sisi rumah.
"Oy, Den" aku menoleh, terlihat Arif sedanp berada di luar rumah bersama bang Yudi, dan dua orang pekerja kontraktor. Aku lantas menghampirinya.
Aku melewati rumah tua itu dan terpaku seketika, melihat pemandangan yang sangat berbeda. Kini bangunan bergaya khas belana sudah tak nampak lagi di mataku, yang ada hanya puing-pung kayu yang menghitam tertumpuk di perkarangan depan rumah yang di penuhi debu dan air semen. Rumah tua itu telah berevolusi menjadi bangunan baru yang sangat kokoh, dangan dua tiang penyangga di terasas depan rumah, lantai keramik bercorak bunga, jendela di sisi kiri dan kanan pintu bercorak ikan mas dan bunga mawar, meski bangunan itu belum di lumuri cat tapi sudah nampak mewah. Namun entah mengapa sekilas aku teringat pada raut wajah sang kakek ada pada puing-puing rumah tua itu.
"Den, sini! debu disitu, disini aja" teriakan Arif menyadarkan fikiranku, aku lantas menghapirinya.
"Eh, orang pada menjauh kamu malah disitu" ujar seorang kontraktor yang berada berasama Arif dan bang Yudi.
"I-iya, aku hanya bingung aja, yang tadinya hanya rumah tua, sekarang jadi bangunan kokoh," kataku
"Mantep ya, nanti Deni dan Arif sementara tinggal disini dulu, karna banyak barang bangunan mahal yang di simpan di kamar nomer dua," kata bang Yudi, sambil menepuk-nepuk bahuku perlahan, "siapkan, Den, Rif?"
Aku dan Arif hanya mengangkuk.
"Tapi jangan pulang tanpa ijin lagi ya?" ledek bang Yudi tertawa padaku.
"Apaan aku pulang ga ada yang bangun, mau minta anter padahal, tapikan aku Telp Arif setelah aku sampai rumah" jawabku sambil tertawa, membayangkan Arif dan yang lain, yang sedang tidur pulas lantas di kusur oleh buldozer.
"Pak, ini truk yang terakhir ya, tadi Bapak pesan lima truk berisi semen full," kata pekerja konstraktor sambil melihat catatan yang ia pegang.
"Oh, ini yang terakhir ya, ia,ia," kata bang Yudi, setelah itu mengobrol dengan pekerja yang aku tidak mengerti, seperti membahas bahan bangunan.
Waktu terus berlalu, truk molen nampak meninggalkan kami beserta para pekerjanya.
"Rif, nanti cari orang untuk bersihin di lantai bawah, kotor lagi karna abis ngecor lantai dua," kata bang Yudi, lantas berjalan mendekati rumah.
Masih dengan langkah memilih, debu yang mengganggu, aku membuntuti bang Yudi, "Hadeh, panas ini kalau kena kaki,"
Nampak Yudi terdiam sejenak setelah ia melihat handphonnya, mungkin membaca suatu pesan, "Eh, Babang tinggal aja yha, harus pulang ke Serang sekarang," kata bang Yudi, merubah arahnya mendekat pada motor yang terparkir di tempat kami berkumpul tadi.
"Sekarang bang?" kata Arif. "Istri Babang bawel, ga bisa di nanti-nanti" jawab Yudi dengan memasang helm dan duduk pada motornya.
"Ya sudah bang, hati-hati," kataku di iringi suara motornya menyala.
"Nanti Babang transfer ke ATM kalian yha, buat pegangan," kata bang Yudi lantas pergi.
Itu perkataan yang selalu aku tunggu darinya. aku berbalik kembali berjalan mendekat teras rumah. Dan untuk kedua kalinya aku menginjakan kaki di rumah ini, walau sudah berubah.
Aku mengedarkan pandangan kesegala arah, nampak tak ada beda, semak belukar dan pohon pisang masih berdiri di sisi rumah, namun kini di pageri oleh besi berwarna hitam mengelilingi sampai pager depan, aku menoleh kearah sebaliknya, melihat rumah yang berada di sisi lain, aku mengkerutkan halisku melihat di sisi pagar tembok pemisah rumah itu terdapat pelang yang cukup besar bertuliskan 'JANGAN KOTORI RUMAH KAMI' aku fikir sejak awal rumah itu tak berpenghuni, dengan begitu berarti aku jadi tahu jika kami memiliki tetangga yang apik.
Pintu rumah tetaplah dua bagian, namun kini sudah jauh lebih baik, terlihat Arif sudah berada di dalam, aku menyusulnya kedalam. Setibanya di dalam udara terasa dingin dengan aroma berbau semen yang masih tercium di hidungku, aku menoleh kekiri pada sebuah kamar nomer satu yang sekarang menjadi ruangan tak berpintu, semua barang yang ada hanya peralatan bangunan, cuma ada dua tempat duduk dan satu meja jati kotak. "Tidur pake apa ini Rif," kataku sambil berjalan kearah belakang. Aku menyadari sesuatu ketika tiba di dapur "ini tempat sumur yang waktu itu aku lihat, sekarang menjadi dapur" di sisi kanan ada tangga tembok yang masih belum rapih.
Tak lama terdengar suara motor di depan rumah, "siapa rif?" tanyaku pada Arif.
"Si Ardan sama Alvien, biar ikut nemenin kita disini" kata Arif dengan penuh semangat berjalan menemui Ardan dan Alvien.
Aku di dalam rumah sendiri, meski baru jam empat sore, namun di dalam terasa gelap karna tidak adanya lampu yang terpasang, aku masih berada di dapur, melihat meja keramik di sudut tembok, aku terdiam sesat ketika terasa seorang yang menepuk bahuku, seketika aku menoleh kebelakang, dan melihat Ardan berjalan menuju ruang tamu. Karna tak ada lagi yang perlu di lihat, aku kembali menuju ruang tamu, mungkin Arif yang menyuruknya memanggilku.
Namun ketika aku sampai di ruang tamu, aku hanya melihat Arif dan Alvien, "Lho, si Ardan mana?" kataku.
"Tadinya dia mau ikut, tapi kakaknya minta anter ke Laladon jadi dia ga ikut kesini, nanti nyusul katanya" ujar Alvien.
Dengan halis mengkerut mata melirik lurus kearah dapur, aku menghelaykan nafas, "di tempat yang sama!" ujarku dalam hati.
"Oh, mending kita beli kasur busah untuk tidur, dan untuk beres-beres" kataku.
"Hayu." jawab Alvien dan Arif.
Karna hanya ada satu kendaraan maka aku dan Alvien yang pergi berbelanja.
Singkat cerita, kami telah kembali membeli semua barang yang di perlukan, dan sampai di depan rumah.
Bip..!! bip..!! bip..
Alvien membunyikan kelakson.
"Woit, wait,wait.. " kata Arif, berlari menghapiri kami.
Aku tak berdaya duduk pada motor, karna kasur busah yang aku pangku membuat sulit untuk bergerak, Arif yang tiba lantas menyambut dan mengangkat kasur busahnya kedalam, "berat juga ini kasurrr.." kata Arif.
Aku lantas masuk kedalam membawa satu sapu dan satu kain pel, melihat hari mulai gelap, kami bergegas membagi tugas. Aku yang menyapu, Arif menyiapkan kasur dan Alvien mengepel lantai. Suasana nampak ceria, sesekali candaan jahil kami lakukan, hingga tak terasa kerjaan kami pun usai. Aku menseka keringat yang membasahai dahi dengan bajuku, lelah baru terasa hingga aku terduduk pada sebuh kursi.
Alvien yang sedang mengepel lantai bagian dapur sudah tak nampak karna tertutup oleh dingding kamar no tiga. Namun suara sesuatu yang jatuh dengan keras membuatku terkejut hingga beranjak dari kursiku. Aku dan Arif berlari menghampiri suara itu, nampak tubuh Alvien sudah terkapar pada lantai, ember yang berisi air pengharum lantai, tercecer pada tubuh Alvien, sekan di siramkan padanya.
Aku lantas membangunkan Alvien hingga terduduk, "Kenapa Vien?" tanyaku, sambil melihat pada belakang kepalanya, takut terjadi pendarahan. Ia hanya mengusap-usap belakang kepalanya sambil merintih kesakitan.
"Entah apa karna aku sedang berjalan mundur aku tidak melihat, aku merasa seperti menginjak sesuatu di lantai, setelah itu aku terpelanting" kata Alvien dengan nada merintih.
Kami lantas membawanya kekamar yang telah Arif sediakan, "tiduran dulu aja Vien, biar aku buatkan susu hangat" kataku sambil membantu Alvien berbaring.
"Memang ada yang tak beres!" kataku dalam hati, aku lantas menghampiri Arif yang sedang melanjutkan pekerjaan Alvien seorang diri, aku memilih menemaninya duduk pada anak tangga yang berada di dapur.
"Rif, ngarasa ada yang aneh ga sih," kataku, Arif menoleh dan melanjutkan pelnya.
"Aneh gimana" kata Arif "ngga ah, biasa aja"
"Mungkin hanya perasaanku saja," kataku, menghelaykan nafas terfikir akan sesuatu yang tak jelas apa.
Grriiiinnggggg... (suara mesin air)
Arif yang telah usai membersihkan lantai beranjak menuju ruang tamu, "ngopi yuk" ajak Arif. Aku berdiri dari duduk lantas menghampiri dapur untuk membuat kopi untukku dan Arif, sehentang aku teringat jika akan membuatkan susu untuk si Alvien, "walah, sory lupa Vien"
Aku mengambil tiga gelas yang aku bariskan di atas meja tembok berkeramik, aku sempat mencari gula dan kopi yang ternyata di simpan di lemari jati tertutup rapat.
Karna hari mulai gelap, aku kesulitan untuk melihat banyaknya gula dan kopi yang aku tuang pada gelas, karna itu aku melihatnya dengan mendekatkan wajahku pada gelas. Hal aneh kembali aku alami, aku terpaku, kedua lututku seakan tak bertenaga, ketika melihat tiga gelas berputar dan bergeser tanpa henti tepat di depanku, sekejap bulukuduku berdiri hingga ubun-ubun, aku terus memanding gelas itu dengan langkah memundur perlahan, nafasku terasa berat untuk di hembuskan, hingga lututku kembali bertenega aku berlari kearah kamar depan dan terhenti tepat di depan kamar. Dengan bersandar pada kusen ruangan aku mencoba mengatur nafasku.
"Malah bawa toples kopi, oh, gulanya ada di lemari, tau ga Den?" kata Arif memandangku kebingungan, "Den?"
"Gelas.." hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku. Beberapa kali aku menghelaykan nafas, "sebaiknya tidak perlu yang lain tau," kataku dalam hati.
"Seriu, kenapa?" kata Alvien menyadari ada yang tak beres denganku.
"Ga, ga apa-apa, cuma kaget liat laba-laba, oh ya, gulanya di mana?" kataku dengan nada yang masih gemetar.
Aku lantas kembali kedapur untuk memastikan apa yang baru aku alami itu bernar, namun sekarang Arif menemaniku, ia hendak memberi tahukan tempat gula, yang padahal aku sudah mengetahinya.
"Itu gula, di atas meja masa ga liat," ujar Arif mengambil toples yang berada di meja keramik Minimalis yang berada di dapur.
Namun aku tidak memperhatikan Arif, pandanganku hanya teruju pada deretan gelas yang masih tersimpan rapih pada tempatnya, "mustahil, tadi sudah aku taburi kopi dan gula pada gelas-gelas itu" bahakan aku tidak melihat ada bubuk gula atau kopi yang tercecer di atas meja keramik itu.
Aku terdiam sejenak, melihat kearah luar dari pintu dapur, rasa cemas yang tak menentu seakan terus bertambah seiring terbenamnya matahari, memanggil gelap malam. "Apa aku sudah gila?" dengan tatapan kosong mengarah keluar.
Tepukan Arif di bahuku serentang membuat kembali dari ketermenungan, "Oy, malah bengong, jadi ngopi ga?" kata Arif, aku hanya mengangguk menanggapinya, "elah, sini biar aku saja yang buat kopinya, tadi si minta Alvien susu ya?" kata Arif mengambil toples gula dan sondok yang terus aku pegang.
Aku lantas berjalan menuju kamar depan, sesekali melihat kearah belakang.
"Den? ada yang aneh ya?," kata Alvien yang terbaring pada kasur busah berwarna biru.
"Tidak Vien," aku deduk pada kasurnya, "gimana kepala masih sakit?."
"Sudah membaik kok," kata Alvien sambil memikiran suatu hal, "masih ga ngerti sama yang terjadi tadi, terasa menginjak bulu kucing tapi ada hentakan yang begitu kuat membuat kakiku terpelanting, hingga aku ambruk." aku hanya menggaruk kepala mendengar perkataan Alvien.
Aku tetap dengan perasaan was-was yang begitu mengganggu, tak bisa menghayalkan apa yang terjadi ketika malam tiba, "eh, lampunya cuma ada di kamar ini, yang di ruang tamu dan yang lain gimana?" kataku serentang beranjak dari duduk.
"Eh, iya, Cuma ada satu lampu disini doang," Alvien terbangun dan duduk.
Aku baru ingat akan lampu, padahal sekarang hari sudah mulai gelap, aku mengedarkan pandangan kearah langit-langit, nampak hanya kabal putih yang terurai keluar dari tembok bangunan, tak ada mangkuk untuk bohlam. "Rif, kayanya kita harus beli mangkuk lampu, malam gimana kalau cahaya cuma di kamar doang," saranku pada Arif yang sedang berada di ruang tamu dengan aroma kopi hangat dari arahnya.
"Oh, suruh si Ardan aja, dia mau kesini tadi SMS," kata Arif sambil memegang handphone.
"Sekalian beli makan Rif, laper tarmalam," aku duduk di kursi sebelahnya, dan menyeruput segelas kopi hangat yang di buat Arif, "oe, bocah salto, ini susu keburu dingin nanti"
Grriiiinnngg...!!!! (Suara mesin air)
Alvien keluar lalu berkumpul, lalu kami mengobrol di ruang tamu, tak terasa Ardan tiba di depan rumah.
Suara motor yang berhenti sejenak dan pergi, mengiringi kedatangan Ardan. Dengan raut wajah berseri-seri Ardan menghapiri kami yang sedang berada di ruangan tamu, "Woy, sory, sory, udah nunggu lama," ujarnya menaruh barang belanjaan di atas meja dan menguyup gelas kopi miliku.
"Tidak apalah Dan, yang pentai kau datang," kataku menyambutnya, dan mengambil barang bawaan yang di letakan Ardan di meja.
Aku melihat di dalam kantong pelastik yang cukup besar, ada lima mangkuk lengkap dengan bohlamnya, obeng, gunting dan beberapa meter kabel, "oe,oe, makanan ga beli?"
"Wha, lupa beli aku Den," katanya sambil tertawa bersalah. "Yha sudah tidak apa-apa, yang penting ini ruangan terang dulu," kataku mengamanil mangkuk dan obeng.
Kami bergegas merakitnya, karna sudah gelap, terdengar hillir Sholawat yang berkumandang terbawa oleh angin yang berhembus. Selang berapa saat kami menaruh bohlam lampu di berbagi sudut di dalam rumah, Satu di ruang tamu, di kamar dua, di kamar tiga, di dapur dan di kamar mandi. Kini rumah sudah terang, hanya gelap yang berasal dari celah atas tanjakan yang mengarah kelantai dua.
"Akhirnya beres juga," kami menghelaikan nafas, dan sesekali menyeka keringat yang membasahi dahi kami.
Hawa dingin mulai terasa di kulitku, sunyi yang datang bersama gelap malam, membangkitkan serangga yang terus bernyanyi meraba telingaku. Aku dan Ardan sedang terduduk di bangku pada ruang tamu, menunggu Arif dan Alvien yang keluar untuk membeli makan.
Kami hanya sibuk dengan handphone masing-masing, hanya sepatah kata yang kadang aku dan Ardan bicarakan.
Grriiiingggg..!!! Suara mesin air kembali berbunyi, aku yang merasa terganggu lantas menghapiri mesin yang berada tepat di bawah tangga dekat dapur. Namun baru aku melawati kamar ketiga mesin itu berhenti berbunyi, tapi aku tetap menghapirnya.
Aku menundukkan badan, memandang pada mesin yang bertabung merah di hadapanku. kakiku kembali bergetar, keringat terasa membasahi dahiku. Dengan perlahan aku mencari dengan teliti kabel listrik pada mesin ini, namun tak ada kabel lain, tetap hanya ada satu kabel, itu pun tidak dalam keadaan tercolok pada saklar listrik, "Apa lagi ini!!!" serentak aku terdegub merasakan jika ada bayangan hitam berdiri dekat meja keramik, seolah bayangan itu sedang melihat kearahku, aku ingin menoleh kearah belakang, namun seakan ada sesuatu yang menahan semua laju tubuhku, semakin lama aku berfikir samakin lama aku terpaku.
"Oe, Den ngapain disitu dih," teriakan Ardan membuat aku kembali tersadar. Aku menoleh keberbagi sudut dengan cemas dan linglung, aku tak menyangka jika aku sedang berdiri tepat di tengah-tengah dapur, jauh dari mesin air yang kembali berdering!! "whay?"
Seakan ada yang ingin memberi tahukannku, akan suatu hal yang pernah terjadi tepat di atas lantai dapur ini. Karna semua gangguan yang aku alami terjadi tepat berada disini. Bulukuduk yang tak henti berdiri, menemaniku terdiam menatap lantai yang aku pijak, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku merasa sudah kembali dapat berjalan, lantas melangkahkan kaki dengan tergesah-gesah menju ruang tamu.
"Ngapai di dapur? aku fikir buat kopi," kata Ardan menatapku dengan curiga.
Aku hanya menggelengkan kepala, dan meminum air mineral yang berada di atas meja, untuk menangkan diri aku membakar sebatang rokok dan duduk kembali pada kursi.
"Gemetaran kenapa sih ?" kata Ardan yang memperhatikanku.
Serentak aku menoleh kearah dapur, sekilas seperti ada yang berlari dari tangga menuju meja keramik dan hilang tertutup oleh tembok kamar ketiga,
"Coba lihat mesin air itu Dan," nadaku sedik bergemetar.
"kenapa sih," kata Ardan. "Udah liat aja, sekalian bikin kopi sana," belasku. Dengan bingung Ardan terbangun dari duduknya dan berjalan menghampiri dapur.
Aku memperhatikan langkah Ardan, ketika ia baru melawati kamar ketiga aku menghentikannya, "Dan, liat kearah meja keramik, ada orang?" Ardan menoleh kearah keramik yang aku maksud, "Ga adalah, cuma kita berdua di sini," katanya yang lantas mendekat mesin air, "kenapa di cabut mesinnya, nanti ga ada air repot," sepertinya Ardan mencolok kabel mesin kesaklar yang berada di belakang mesin itu berada.
Aku masih tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja aku alami, aku hanya terdiam di kursiku dengan sedikit membungkuk menyadarkan kedua sikut pada betisku, sesekali aku menghembuskan asap rokok yang aku hisap, "apa aku sudah tidak waras!!"
Arif dan Alvien terdengar bercakap di depan rumah, nampaknya aku tidak menyadari suara motor meraka. "Mogok!! payahlah, malah dorong-dorong motor," cetus Alvien berjalan melewati pintu depan yang di susul Arif dengan tawanya.
Aku hampir tidak menghiraukan mereka, rasa cemas yang tidak bertuju menghilangkan semua rasa mood yang ada paduku. Alvien hanya menaruh kantung pelastik hitam di atas meja, serentak tercium aroma masakan yang menusuk hidung.
"Oe, Den, itu nasi, makan dulu gih," kata Alvien lantas duduk di kursi, "Ardan mana Den?"
Duarrr!!!!
suara dentuman keras terdengar dari arah toilet di iringi riuh tawa Arif, "Hahaha." "Baanggkkeee kaget," teriak Ardan. Tak hayal aku kembali dapat tersenyum melihat canda mereka, aku kembali membiasakan diri, untuk melupakan kejadi aneh itu.
"Tadikan mau bikin kopi, eh malah nyangkut di toilet itu anak," kataku "pantes ga balik-balik."
Aku lantas membawa pelasti berisi nasi yang di bawa Alvien kedapur, mengingat suara perutku yang terus berontak meminta makan. Di dapur aku melihat Arfi sedang menyeduh susu jahe yang ia belinya, "Wih, mau dongggg," kataku melihat ia mengaduk susu beraroma jahe yang masih panas. "Itu kan banyak aku beli," jawab Arif "di plastik" ia kembali keruang tamu.
Aku meletakan satu piring di atas meja keramik, dan meletakan nasi yang baru aku buka dari bungkusnya, berniat mengambil sendok, aku kembali di kejutkan dengan piring yang perlahan memutar dan bergeser kekiri dan kekanan, namun kali ini aku memberanikan diri untuk menyaksikan hal aneh itu, piring terus bergerak dengan putaran yang perlahan tertarik kearah depan dan kesamping, "maunya apa sih. entah kalian apa, aku tidak mengusik kalian." Aku menyendok nasi yang berada di piring yang sedang berputar itu, lantas memakannya, tapi tak ada rasa apaanpun dari nasi yang aku kunyah, padahal bumbu rendang hampir membasuhi semua bagian nasi, "aneh, kok gini?" aku menyendok kembali nasi tepat di atas bumbu dan memakannya, "lho, ga ada rasanya" aku mengambil piring yang masih nampak bergerak-gerak perlahan dan membawanya keruang tamu.
"Oe, oe ini nasi kenapa ga ada rasa ya ?" aku meletakan piring di atas meja jati yang berada di ruang tamu, Ardan, Arif dan Alvien terlihat bingung dengan perkataanku.
"Ah, masa sih, aku makan tadi di warung enak kok," kata Alvien sambil menyendok nasi yang aku bawa, "lha, kok, ih" Alvien nampak merasakan kunyahannya, "dih, cobain dah, bener ga ada rasanya." Arif dan Ardan yang nampak tidak percaya lantas menyendok dan mengunyah nasi yang aku bawa.
"Uee, kok bisa gitu si," kata Ardan ia memuntahkan nasi yang di kunyahnya.
"Buang aja Den," kata Arif, "coba tuh nasi yang buat si Ardan"
Kami membuka bungkusan nasi yang di tuju untuk Ardan, dan mencobanya. Rasa gurih, pedas, terasa seketika, "ini ada rasa, tapi kok itu anyep ya" kataku.
Arif membungkus nasi yang tak berasa itu dan membuangnya pada tong sampah, akhirnya aku makan satu piring berdua dengan Ardan, karna motor yang mogok tak memungkinkan untuk keluar rumah.



Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.

Popular Posts

 
Copyright ©
Created By Sora Templates | Distributed By Gooyaabi Templates