Home » » Rumah Terbengkalai Episode 01 - Rumah Tua

Rumah Terbengkalai Episode 01 - Rumah Tua

Rumah Tua

Tahun 2007 tepatnya di bulan Juni aku sedang berada di Rumah yang berlokasi di Bandung. Aku dan Arif jadi begitu akrab semenjak kami duduk di bangku SMA yang sama di Bandung. Arif memiliki seorang kaka pria yang berusia 32 tahun yang bernama Yudi, saat kecil Yudi di besarkan oleh Ibuku, yang kini ia telah menganggapku sebagai adiknya. Ia kini menjadi pembisnis Batu Bara, jika sedang bisnisnya naik tak tanggung-tanggu semua jenis kendaraan beroda dua mau pun roda empat di belinya, bahakan di rumahnya terdapat empat buah motor yang saat itu masih keluaran terbaru dan dua buah mobil Honda Jezz.
Yudi begitu gemar membangun rumah di setiap daerah yang ia kunjungi, hingga ia memiliki dua rumah berlokasi yang berbeda ya itu, Bandung dan Serang Banten.
Yudi hanya menempati Rumah yang berada di Serang Banten, dan untuk rumah yang berlokasi di Bandung menjadi tempat tinggal Aku dan Arif, hanya kami yang tinggal di rumah berlantai lima ini, fasilitas kami sangat di perhatikan, di pekarangan rumah di sediakan kolam renang yang luas, dan di dalam rumah sangat menyenangkan karna di lengkapi fungsi yang berbeda di setiap lantai yang di mulai dari lantai dua untuk Room Theater, lantai tiga Studio Music lengap dengan peralatan Band, lantai empat untuk bermain billiard, lantai lima hanya untuk bersantai, meja, bangku tidur, di lantai ini hanya ada pagar almunium di tepi bangunan hingga dengan mudah untuk melihat kesegala sudut terbuka, dangan atap yang melindungi dari panas maupun hujan, aku sangkat suka berada disini untuk melihat senja.
Setiap hari libur datang kami selalu menyempatkan untuk pulang kerumah yang berada di Bogor.
Pukul 15:45 aku sedang berada di lantai tiga yang nyaman, dengan udara sejuk karna pendingin ruangan, aroma pengharum yang kadang terendus di hidungku, suara bola billiard yang bertabrakan mengiringi permainan billiard kami.
Kring..!! kring..!!
deringan handphone menghentikan permainan billiardku.
Aku lalu mengambil handphone yang berada di meja tidak jauh dari meja Billiard.
Ternyata panggilan itu dari Yudi, aku lantas menerimanya, "Hallo Bang,"
('Bang' panggilan dari 'Babang' artinya sama seperti 'kaka' )
"Den, Babang lagi di jalan, mungkin jam empat Babang sampai sana, kalian siap-siap kita pulang ke Bogor dulu," kata Bang Yudi.
"Oke, siap Bang, emang ada apa Bang? kayanya semangat banget buat pulang" tanyaku sedikit penasaran.
"Babang mau beli rumah di daerah Bogor, Loji," jawab Bang Yudi.
"Wow, beli rumah lagi," jawabku "Loji, yang di belakang Yoniv 315 yha Bang,"
"Iya Den, ya sudah tunggu Babang sampai sana yha," jawab Bang Yudi dengan mengakhiri percakapan kami di Telp.
Aku menoleh kearah Arif yang sedang bermain Billiard seorang diri, "Rif, Babang beli rumah lagi di Loji, kita suruh nemenin dia ke Bogor."
"Widih, tuh orang tak pernah puas beli rumah terus, bukan yang ada di bagusin, malah beli lagi," jawab Arif menaruh stik Billiard.
Melihat sekarang sudah hampir jam empat, kami bergegas mempersiapkan diri sebelum Bang Yudi tiba disini.
Selang berapa menit, terdengar suara kelakson mobil di depan rumah.
"Bip.. bip.."
Aku lantas menghampiri pintu depan, dan melihat dari balik jendela, terlihat sebuah mobil sedang memasuki lahan parkir dengan perlahan.
Aku berbalik dari jendela, menoleh pada sebuah pintu kamar yang bercat putih, dengan korden kerang di depan pintunya,
"Rif, Babang udah sampai, cepatlah sedikit," ujarku dengan nada sedikit tinggi memberi tahu Arif yang sedang berada di kamarnya.
Aku meraba pegangan pintu, dan menariknya, lalu berjalan keluar menghampiri mobil yang telah terparkir.
Seketika matahari terasa menyilaukan mata memaksa untuk mengkerutkan halisku menahan silaunya cahaya, debu dan bau dari asap mobil terasa menusuk di hidungku.
"Den, si Arif mama?" kata Bang Yudi dengan nada sedikit keras, ia hanya membuka sedikit pintu mobilnya.
"Lagi siap-siap Bang, bentar lagi juga kesini," jawabku, dengan langkah mendekat pada mobilnya.
"Oh, ya sudah, masuk Den, jangan lama-lama takut keburu macet jalannya."
Aku membuka pintu depan mobil, lalu duduk menunggu Arif yang belum juga terlihat.
Aku menoleh kearah Babang, nampak ia sangat sibuk dengan jari yang terus beradu pada keypad handphone miliknya.
"Bang, rumah yang akan di beli seperti apa?" tanyaku "kesannya buru-buru banget."
Sekilas bang Yudi menoleh kearaku
"Oh, itu rumah tua, tapi lahannya lumayan luas Den, yang nempati hanya Kakek dan Nenek," jawab Bang Yudi, kembali pada handphonenya.
Aku hanya menaikan halis dan mengangguk, "Oh"
Tak lama terdengar suara pintu mobil terbuka, yang membuat perhatian kami beralih, terlihat Arif yang baru tiba lantas duduk di kursi belakang,
"Maaf Bang nunggu lama, nyari jam tanggan lupa naruhnya"
"Dasar pikun, oh ya, itu di dalam koper uang Rif, buat bayar rumah, jangan di buka" jawab Bang Yudi, di iringi mesin mobil yang kembali menyala.
Dengan volume full, kami mendengarkan musik yang menambah keceriaan menemani perjalanan kami menuju Kota Bogor.
Tepat pukul 7 malam kami baru keluar dari pintu Tol Ciawi, terlihat antrian kendaraan yang berjalan begitu padat merayap.
"Den, panggil teman yang lain untuk menemani kalian di rumah yang baru nanti," kata Bang Yudi.
Mendengar perkataan Bang Yudi aku menoleh kearah Arif yang berada di belakangku,
"Rif, Telp yang lain, aku lupa ngisi pulsa" Arif mengeluarkan handphone di sakunya.
Satu jam berlalu semenjak kami keluar dari Pintu Tol, karna macet yang cukup menyita banyak waktu akhirnya mobil menepi di pinggiran jalan yang agak berbatu.
Entah perasaan takut, atau masih asing dengan tempat ini, namun aku melihat rumah tua yang berada di hadapanku nampak ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Rumah ini terlihat sangat tua, dengan genting coklat yang tidak tersusun rapih, pagar besi berkarat, miring seakan hendak jatuh, namun di sisi kanan berdiri rumah dengan cat putih, tanpa ada penerangan lampu, pekarangan depan yang luas, lengkap dengan pohon yang rumayan rimbun, menambah kesan mistis yang menerpaku, aku tidak tahu ada penghuninya atau tidak di rumah itu. Di sisi kiri rumah yang hendak kami beli hanya terdapat semak belukar dan pohon pisang yang saling berdempetan.
Aku melepas sabuk pengaman yang melintang pada tubuhku, dan membuka pintu mobil, seketika terasa hembusan angin menerpa kulitku, sungguh sunyi disini, hanya ada suara dahan dan daun yang saling bergesekan terhempas oleh kecangnya angin malam.
Aku menutup pintu mobil dan melihat pada jam tanganku, waktu tepat menunjukan pukul 8 malam namun disini sudah tidak nampak seorang pun, aku menoleh kearah ujung jalan yang gelap, tanpa ada seorang pun melintas.
Tak ingin membuang waktu lama, kami mulai berjalan mendekati pintu pagar yang berkarat dan rapuh.
Drekk..!! drekk..!! drekk..!!
Yudi mengetuk pagar besi itu dengan ujung kunci mobil yang ia pegang, karna jarak dari pagar ke pintu sekita delapan meter.
Tak lama kami mengtuk, terdengar kunci bergerincing di iringin pintu terbuka perlahan dan terlihat seorang wanita tua berjalan menyeret sandalnya menghapiri kami, perkiraan usia mungkin 78 tahun, dengan tubuh membungkuk, pakaian khas Jawa Barat, kain kebaya bercorak bunga dan batik.
"Maaf Nak menunggu lama, maklum nenek sudah tidak bisa gesit lagi" ujar nenek sambil membuka ikatan tambang pada pagar.
Melihat takan kuat sang nenek menggeser pagar itu, aku lantas meraih pagar besi itu untuk membantunya, "biar aku saja Nek."
"Terimaksih Nak, mari masuk."
Aku menggeser pagar perlahan, karna kodisi besinya yang sudah berkarat dan rapuh terasa di telapak tanganku.
Kami lantas membuntutin sang Nenek, melangkahkan kaki menuju teras depan rumah.
Aku dan Arif tak henti melirik kekiri dan kekanan, entah apa yang di rasakan Arif sama atau tidak dengan yang aku rasakan.
Aku merasa sedang di awasi oleh seseorang pada setiap sudut di sekitar rumah tua ini. Suara bising daun dan dahan kian terdengar mengiringi angin yang berhembus di kulitku, bau dari bakaran kadang terasa melintas di hidungku.
Di sepanjang jalan aku melihat hampir tidak ada cahaya lampu satu pun, cahaya lampu satu-satunya hanya ada di teras depan rumah tua ini, itu pun tidak begitu terang, Cahaya nampak kuning dan redup.
"Silahkan duduk dulu, Nenek mau buat minum untuk kalian, nanti Kakek yang menemani kalian disini." dengan senyum mata tertutup, nenek itu berjalan kembali masuk kedalam rumah.
Kami duduk di teras depan yang telah tersedia bangku dan meja yang terbuat dari bambu.
"Bang!" Bang Yudi menoleh kearah Arif, "yakin mau beli ini rumah?"
"Yakin dong, nantikan mau di bangun ulang," melihat kesekeliling "bangunan tua ini akan di gusur, ngambil tanahnya saja" kata bang Yudi.
Pandangan kami beralih kepada seorang kakek tua yang sedang berjalan perlahan melewati pintu, dengan tongkat yang membantunya, ia susah payah untuk menghampiri kami.
"Kakek lupa, kakek lupa, sudah lama disini ramai seperti ini Cu.." (Cu, singkatan dari Cucu.)
Entahlah apa yang di maksud kakek ini, aku dan Arif saling menoleh, karna tidak mengerti apa maksud perkataan sang kakek, cuma satu di fikiranku, "nice, menambah kesan Horror ini kakek."
"Saya Yudi kek, yang kamarin datang dengan anak kakek kesini, sekarang saya sudah siapkan mahar untuk rumah kakek."
kreek...
Kakek itu duduk di balai kayu sambil menggelengkan kepalanya.
Aku melihat mata kakek itu berkaca-kaca, seperti ada kesedihan yang ia pendam, mungkinkah anak dari kakek ini? ah, aku tidak boleh berburuk sangka.
Dengan nafas pendek kakek itu berkata, "Sudah lama Cu?"
"Tidak kek, kami baru tiba," jawab Yudi nampak sedang mencoba menghubungi seseorang.
Aku menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan hawa dingin yang begitu terasa, walau pada kenyataannya tetap saja terasa dingin.
"Mana lagi rokoknya Den?" Arif miminta sebatang rokok, aku meletakan rokokku dan korek di atas meja kayu.
Tak lama sang nenek keluar dengan tiga gelas di atas nampan yang di bawanya, "Minum dulu nak, nenek buatkan teh hangat" nenek itu meletakan nampannya di atas meja kayu di sisiku.
Tak lama terlihat cahaya dari lampu mobil yang memecah gelapnya malam, dan terlihat sebuah mobil bak terbuka yang akan parkir tepat di sisi mobil kami.
"Itu andre sudah datang," ujar nenek.
"Iya nek tadi saya SMS" jawab Yudi.
Nampak samar-samar seorang datang mendekat melewati pintu pagar yang berkarat di depan.
"Den, Rif, nanti kalian nginap disini dulu yha, tenang saja, Babang beli rumah ini beserta barang yang ada di dalamnya."
"Weq," aku bertukar pandang dengan Arif.
"Kedalam gih, istirhat, sudah ada tempat tidur kok di kamarnya" ujar Yudi sambil beranjak dari duduknya, untuk menyambut pria yang bernama Andre.
Mungkin tak ingin aku dan Arif menyaksikan transaksinya, kami lantas beranjak dari duduk dan berjalan masuk kedalam rumah.
Sekejap Hawa berbeda terasa ketika aku pertama kali menginjakan kaki di dalam rumah tua ini. 
Dingin dan lembam terasa pada telapak kakiku, aku melirik kekiri dan kanan, warna tembok yang terbagi dua seperti bendara berwarna putih dan hijau muda dan di setiap sudut rumah nampak retakan pada tembok yang bermula dari ujung atas, pintu kamar yang terlihat tua dengan warna hijau muda dan kordeng yang kumuh, membuktikan jika rumah ini tak pernah di renovasi.
Aku membuka pintu kamar, seketika tercium aroma yang aneh, entah apa itu, seperti bau tembok yang terkena lembab, aku tertegup ketika melihat tempat tidur tua yang tertutup kordeng putih berbolong-bolong halus, membuat aku terasa tidak nyaman melihatnya.
Arif yang membuntutiku lantas masuk kedalam kamar itu,
"ih, baru liat aslinya tempat tidur kaya gini, lepas aja kali yha kordengnya, serem bangat, coba bayangin kalau lagi ada yang tidur, mata hitam, rambut lebat melilit di badannya" ujar Arif yang berada di dalam kamar.
"Bongkar aja, udah di beli ini, lagi juga kesannya horror banget" jawabku mendekati pada tempat tidur.
Kami lantas berusaha melepas kordeng yang terpasang di atas tempat tidur tua.
"Den, Den.." terdengar suara bang Yudi memanggil.
"Ya, apa bang" sautku
"Temennya udah pada datang ni" ujar Yudi.
"Suruh masuk aja bang," jawabku
Terdengar tawa kecil dari teman-temanku yang baru tiba, entah apa yang di bicarakan, namun kehadiran mereka membuat tenang prasaanku.
"Woy, sedang apa kalian" ujar Alvien yang berdiri di depan pintu, yang lalu di susul oleh Ardan dan Jainal.
Alvien, dengan tinggi badan 160cm, kulit sawo matang, rambut styl harajuku, yang poni, bagian belakangnya berdiri (kaya ayam jago x ya, ah gk tau what ever,) mata agak sipit hidung mancung, ia tidak gemuk tidak pula kurus.
Ardan, ia masih sodara denganku, kulit putih, rambut poni batok styl Cangcuters, matanya sipit, hidung mancung lancip, tinggi badan sama si Alvien 160cm, tidak gemuk tidak pula kurus, walau saat kecil ia gemuk.
Jainal, sebenarnya dia lebih akrab sama Ardan ketibang pada aku dan Arif, tubuhnya lumayan berotot, kulit putih, rambut pendek nyaris botak, tinggi badan 163cm, hidung mancung.
(Jika kurang jelas nanti aku upload foto semua cast yang ada di cerita ini pada Prolog beserta foto rumah yang kini terbangkalai)
Melihat aku dan Arif kesulitan membuka korden, Alvien dan Ardan mendekat untuk membatu.
Bip..!! bip..!!
Terdengar suara kelakson mobil dari depan rumah, di iringi suara mobil melaju.
"Oe, babang sudah pergi?" ujarku dengan tangan menarik korden.
"Sudah, tinggal kita aja yang ada di rumah ini," jawab Jainal yang berada di luar kamar.
"Beli bohlam yang watt lebih besar, biar tambah terang, dari pada kaya gini kuning" saran Ardan.
Arif terlihat mengeluarkan uang pada dompetnya, "Beli, sekalian beli makanan ringan, Rokok, Kopi dan air mineral,"
"Sekalian perlengkapan mandi, gak ada disini" tambahku
"Biar aku yang beli," Jainal mengambil uang yang di sodorkan Arif dan pergi.
Korden telah terlepas, "Nah, akhirnya"
Arif yang lelah lantas berbaring di atas tempat tidur tua itu.
Aku berjalan keruang tamu yang kosong tanpa ada barang apapun, masih dengan pandangan mengedar aku melihat langit-langit yang sebagian telah bolong dan bernoda kuning seperti bekas air yang menggenang.

Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.

Popular Posts

 
Copyright ©
Created By Sora Templates | Distributed By Gooyaabi Templates