Malam Pertama Di Rumah Tua
"Den" aku menoleh kearah Ardan "rumah ini udah di beli bang Yudi?"
Aku menganguk dan menaikan halis.
Aku berjalan seakan tertarik kearah belakang rumah yang memang sejak awal ingin sekali aku hampiri, dengan Ardan membuntutiku.
Langkah demi langkah, dengan mata melirik keberbagai sudut pada ruangan yang aku dan Ardan lewati, tak hayal hanya terlihat pemandangan yang sama seperti di ruang sebelumnya.
Aku baru melewati sekat tembok yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang makan, nampak masih ada meja makan bulat terbuat dari jati berwarna coklat tanpa kursi berada tepat di tengah ruangan, dan tepat di balik sekat tembok terdapat lemari yang kokoh dengan lebar kurang lebih satu meter setengah dengan bahan jati berwarna coklat pekat di hiasi cermin yang hampir menutupi semua bagian pintu yang terbagi menjadi dua.
Jantungku terasa mati seketika, saat Ardan menarik lengan bajuku untuk menunjukan sesuatu yang ia lihat,
"Den, kamar?"
"Den, kamar?"
Aku menoleh pada sebuah kamar yang masih tertutup rapat yang menghadap pada meja makan,
"Ngagetin, kira apa" kataku "buka coba, siapa tau ada harta karun di dalamnya"
"Ngagetin, kira apa" kataku "buka coba, siapa tau ada harta karun di dalamnya"
Ardan mendekat pada pintu kamar yang berwarna hijau tua masih bergaya khas belanda, namum telah usang, terlihat dari cat yang sebagian terkelupas, Ardan mendorong kearah dalam pintu.
"Kreeeekkk..."
Ruangan yang gelap tanpa cahaya, dingin terasa menerpa tubuhku sekejap, dengan aroma aneh yang kembali aku hirup.
"Widih, gelap amat ini,"
Kreeekkk... Brukkk!!
"Waaaaa..!!"
kami di kejutkan oleh suara dentuman keras yang berasal dari dalam kamar gelap itu, entah apa namun cukup membuat jantungku berpacu dengan cepat.
Alvien yang tengah berbincang dengan Arif pada kamar depan lantas menghapiri kami,
"Sampai kaget, Apaan sih itu?"
"Sampai kaget, Apaan sih itu?"
Aku hanya menggelengkan kepala, dan saling menoleh.
Aku mengambil handphone dalam sakuku, dan mengatur ketinggian cahaya layar pada tingkat paling terang, dengan lengan bergetar, jantung berdetak kencang, aku menjulurkan handphone kearah dalam kamar yang gelap, terlihat, sebuah jendela kayu berwarna hijau muda yang tidak terkunci, menggelantung tertiup oleh angin yang berhembus.
Mengetahi itu Aku, Ardan dan Alivien merasa lega, terlihat dari raut wajah mereka berdua yang sedang menghadap kearah dalam kamar gelap dan berbau aneh yang tepat berada di depan kami.
"Hanya suara jendela terkena angin," ujarku menghelaykan nafas.
Ardan menarik lenganku menuju keruang tamu, "Ada yang hendak aku ceritakan"
Aku mengikutinnya di susul oleh Alvien, nampak Ardan sedang mengingat akan suatu hal yang entah apa itu. Kami berdiri di tengah ruangan tamu beralaskan keramik berwarna kuning, masih terasa sesekali hembusan angin dan bau asap bakaran yang berasal dari pintu depan yang terbuka.
"Dulu, seinget gue, di daerah sini pernah terjadi kasus bunuh diri yang di lakukan satu keluarga, tapi gak tau rumah yang mana tepatnya," ungkap Ardan membuat bulukudukku berdiri seketika.
Aku tak ingin menambah situasi menjadi begitu mencekam, "Ah, itu kan sudah lama, dan belum tentu kejadiannya di rumah ini, lagi pula pemilik rumah ini sebelumnya Kakek dan Nenek."
Terdengar suara motor yang melaju dari kejauhan, "Nah, tuh si Jainal pasti" ujar Alvien sambil berjalan mendekat ke pintu depan.
Aku yang merasa lelah, ingin sekali membersihkan tubuhku lalu istirahat, "Kayanya ada kompor di dapur, kalau mau membuat kopi rebus air, aku mau pergi mandi dulu."
Aku berjalan menuju kamar yang terdapat Arif yang sedang berbaring dengan handphone di lengannya, "mandi dulu baru tidur itu baru Mantap," ujarku, menaruh tas selempang di atas tempat tidur.
Aku keluar dari kamar, dan nampak Jainal sedang berjalan menuju kearahku, "Nih belanjaannya, jauh amat warung disini, harus kejalan raya dulu baru nemu warug," ujarnya menyodorkan belanjaan yang ia pegang.
Aku hanya mengambil perlengkapan mandi dari belanja yang ia belinya,
"Taruh di kasur aja, gue mau mandi dulu," ujarku lantas berjalan kearah belakang rumah.
"Taruh di kasur aja, gue mau mandi dulu," ujarku lantas berjalan kearah belakang rumah.
"Den, ini pasang gak lampunya?" teriak Ardan membuatku menoleh, "pasang aja Dan" kataku melanjutkan langkah.
Aku melewati ruang makan dan kamar yang gelap, namun langkahku terhenti ketika aku akan menginjakan kaki di ruangan dapur.
Seperti ada yang mengawasi kembali aku rasakan di ruang dapur ini, seakan bahuku terasa berat, hembusan angin menerpa tubuhku dengan bau bakaran yang amat terasa, di ruangan dapur hanya terdapat tungku pembakaran untuk memasak, yang masih terdapat asap yang mengepul pada lubang tungkunya, lantai di sini sedikit hangat namun terasa lembab.
Tak ingin memikirkan hal aneh, aku memaksakan diri untuk mendekat pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, suara tawa dari temanku sekan memecah kesunyian, mengingatkan jika aku tidaklah sendiri.
Aku mendorong pintu kayu yang menghalangi pandanganku dengan perlahan, "Kreeekkk" kembali aku mengedarkan pandanganku kesemua sudut di dalam kamar mandi, bau yang tak sedap terasa di dalam ruangan ini, saat aku hendak menutup pintu aku di kejutkan oleh seekor laba-laba besar yang terdiam pada tembok di balik pintu kayu.
Aku kurang bersahabat dengan laba-laba jenis ini, maka aku tak ingin mengusiknya, lantas perlahan aku menutup pintu untuk bergegas mandi.
Air yang berbak mandikan tembok membasuh kulitku, rasa dingin seketika menyapu lelah yang kian menghilang, namun ketika aku membasuh shampo pada rambutku, dengan mata yang sedikit terbuka, seakan ada sesuatu yang memaksaku untuk menoleh kearah sisi kiri. Aku terdegub seketika, sekilas aku melihat seuntai kain putih yang tergantung tepat di sisi pakaian yang aku kaitkan pada sebuah paku, aku mempercepat kayuhan gayung yang aku pegang, dan bergegas meninggalkan kamar mandi, karna aku sadar ketika aku menggantungkan pakaianku tidak ada seuntai kain putih apa pun yang tergantung pada paku.
Aku tidak mempermasalahkan kejadian itu, mungkin hanya perasaan was-was yang membuatku berhalusinasi, aku kembali pada teman-temanku yang terlihat sedang berusaha memasang lampu baru di ruangan tamu, dengan pijakan sebuah kursi yang di duduki oleh Ardan dan Jainal, Alvien nampak berdiri pada sandaran kursi sedang berusaha memutar bohlam lampu yang hampir terpasangnya.
"Hyo, bisa tidak?awas tersengat setrum," ujarku membuat menghampiri mereka.
"Bisa, bisa.. dikit lagi iniii.." jawab Alvien di iringi bohlam lampu yang menyala dan menerangi ruangan tamu dengan terang, sorak senang pun terdengar dari Ardan dan Jainal.
Aroma kopi yang begitu menggoda membuat aku menoleh kearah kiri, terlihat meja yang berada di teras depan rumah telah di pindah keruang tamu berikut kursinya, lima gelas kopi panas berada di atas meja, lengkap dengan beberapa bungkus rokok dan cemilan kecil yang menggoda seleraku, "Indahnya hidup ini, beres mandi langsung bersantai," ujarku sambil duduk di satu kursi di sisi meja.
"Eh, itu gimana yang di kamar kedua dan ketiga?" kata Ardan "yakin bisa mangkok lampunya"
Jainal dan Alvien mengangkat bangku yang menjadi pijakan kearah kemar kedua yang gelap tanpa ada lamu, "coba aja dulu, siapa tau bisa" kata Jainal membopong kursi kayu.
"Biarin aja, lagi pada suka kerjaan," ujar Ardan sambil menyeruput segelas kopi.
Karna lelah aku menyusul Arif hendak tidur di kamar yang tersedia tempat tidur tua, "Dan, kalau udah beres semua tutup aj pintu lantas tidur." ujarku beranjak dari duduk.
Aku berbaring pada tempat tidur, memandang kelangit-langit yang kotor oleh sarang laba-laba, "besok gue pulang dulu kerumah kayanya," Arif hanya mengangkuk menanggapinya.
Yuut!! Yuuttt!! Yuutt!! "Sayuurr.. sayuurr..."
Suara itu yang pertama kali terdengan olehku. Aku terbangun dari tidur, dengan mata sayu dan rasa dingin yang masih melekat di dada, aku tersenyum karna beru menyadari jika tempat tidur tua ini terisi penuh oleh teman-temanku, bahakan kaki Ardan tidak sepunuhnya berada di atas kasur, aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan keluar kemar.
Dengan wajah kusut aku membuka jendela yang terbuat dari kayu berwarna hijau tua, dengan rasa yang berbeda, kini udara terasa sejuk dan tenang, suara kicauan burung yang seakan bernyanyi menambah ketenangan di hati, sungguh udara yang seger, jauh dari polusi yang berbau pembakaran kenalpot dan debu jalan.
Aku mengedarkan pandangan dan melihat seorang yang sedang mendorong gerobak dagangannya melewati jalan yang berbatu.
Tidak puas hanya melihat dari balik jendela, aku yang masih penasaran dengan sekitar rumah lantas berjalan menuju pintu depan. Aku membuka selot yang terdapat di tengah dan bawah pintu "Trek.. trek.." dan melangkah keluar.
Aku menoleh kesekitar rumah, yang aku lihat tidak jauh berbeda pada saat malam hari, semak belukar dan pohon pisang terlihat di sisi kiriku, dan rumah yang berada di sisi kanan belum nampak seorang pun berada di rumah itu.
Kring..!! kring..!!
terdengar deringan handphone miliku yang berada di kamar.
terdengar deringan handphone miliku yang berada di kamar.
Aku bergegas untuk mengambilnya, aku melihat nama Yudi pada layar handphoneku,
"Yha, hallo bang, ada apa?" kataku pada handphone.
"Nanti siang atau sore tukang bangunan sampai situ, kosongin dulu rumahnya mau di bongkar," jawab Yudi.
"Oh, oke bang," kataku, Yudi mengakhiri panggilan.
Aku menaruh kembali handphoneku dan berjalan menuju kamar mandi.
Namun langkahku terhenti ketika melihat sebuah pintu bilik di sudut ruang masak, "baru sadar kalau ada pintu kebelakang."
Namun langkahku terhenti ketika melihat sebuah pintu bilik di sudut ruang masak, "baru sadar kalau ada pintu kebelakang."
Aku membuka kawat kecil berkarat yang melilit pada paku, tanpa aku mendorong pintu bilik itu terbuka dengan sendirinya.
Pemandangan semak-semak dan pohon rambutan terlihat di belakang rumah sangat rimbun rumput dan tak terawat, di tambah ada segelontongan bambu kering yang bertumpuk.
Aku berjalan perlahan keluar rumah dan terhenti pada sebuah sudut, "sumur?" aku melihat sumur yang tertutup oleh bilik yang menghitam, "ih, apa ini?" di pinggir sumur itu terlihat banyak cairan putih seperti busah yang bergelembung, aku tidak mengerti cairan apa itu.
Aku tak mau berbuat banyak disini, karna aku ingat hari ini aku akan pulang. Aku lantas kembali untuk bersiap.
Selang berapa menit, aku membangunkan Arif yang masih terlelap bersama Alvien dam Ardan, "Rif, gue mau pulang duluan ya, ada apa-apa Telp aja" Arif hanya menjawab,"Hm,hm" dengan matanya yang terpejam.
"Dan, dan" aku goyakan Ardan agar terbangun, "anter sampai jalan raya yu" namun tak ada jawaban.
"Terpaksa naik ojek," aku menghelaykan nafas, dan berjalan seorang diri. langkahku semakin jauh meninggalkan rumah tua itu, aku menghetikan langkah menoleh kearah rumah tua itu yang sudah lumayan jauh, "Aku lupa memberi tahukan jika akan ada pekerja yang hendak membongkar rumah, huh, always pikun," melanjutkan langkahku.
Ini bukan Ending dari kisahku, justru sebaliknya. Ini awal dari gangguan yang kami rasakan, bukan hanya gangguan tak kesat mata, namun gangguan fisik pun kerap kami alami, bahakan ngacaukan segalanya!!
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.
Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.
